Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Bermain dengan Shiro #24


__ADS_3

Hari berikutnya, hari terakhir persiapan sebelum hari esok di mana pesta tersebut akan dimulai. Situasi istana pada pagi ini sangatlah ramai, banyak sekali pelayan serta penjaga istana yang terlihat sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk pesta besok hari. Akan ada beberapa tempat yang digunakan untuk pesta yaitu halaman depan istana, halaman serta taman samping istana, dan aula utama istana. Ketiga tempat itu telah dipersiapkan hari ini, banyak sekali dekorasi cantik serta pernak-pernik yang dominan dengan warna biru muda indah yang sudah dipasang.


Pada pagi ini kegiatan Altezza tidaklah banyak, atau lebih tepatnya tidak banyak yang bisa ia lakukan. Ia terlihat asyik menghabiskan waktunya di pagi ini bersama Shiro, seekor elang putih. Ada beberapa hal yang ingin ia ketahui soal Shiro, apalagi kemarin ia mengetahui bahwa elang tersebut dapat beradaptasi dengan sihir miliknya.


Altezza memilih tempat yang tidak ramai di antara semua tempat yang ramai, yaitu halaman belakang istana, tempat di mana dirinya berlatih. Hanya tempat ini yang tidak ramai, dan dengan begitu dirinya dapat dengan bebas menggunakan sihir di sini.


"Kau benar-benar terlihat sangat unik, Shiro. Kurasa ini saatnya kau menunjukkan sesuatu yang kau sembunyikan itu?" ucap Altezza kepada peliharaannya yang terlihat sangat jinak hinggap di lengan kanannya.


Setelah Altezza selesai berbicara, elang putih itu seolah menjawab dengan suaranya yang khas, tidak terlalu nyaring dan melengking. Shiro kemudian melebarkan kedua sayapnya, dan perlahan mengepakkannya, membuatnya terbang dengan mudah.


Altezza tersenyum melihat elang itu terbang cukup tinggi di atasnya, dan hanya berputar di tempat yang sama yaitu di sekitar halaman belakang istana, tidak beranjak pergi dari lokasi tersebut. Namun senyuman itu pudar, berkacak pinggang menatap elang itu, dan terlihat bingung.


"Nah, sekarang ... bagaimana caranya, ya ...?" gumam Altezza, menundukkan pandangannya, dan terlihat bingung serta sedang berpikir.


Seolah elang itu mengerti bahwa Altezza sedang bingung, karena terlihat diam saja tidak bergerak atau melakukan tindakan apapun. Elang berwarna putih itu menurunkan ketinggiannya, dan mengeluarkan suara-suara nyaringnya. Shiro kemudian hanya terbang di tempat, tepat di hadapan Altezza, serta dengan cepat ia mengepakkan kedua sayapnya yang lebar hanya dengan sekali kepak, dan secara tiba-tiba sebuah hembusan angin yang cukup besar muncul dari kepakan tersebut menerpa tubuh Altezza hingga membuat baju putihnya cukup kotor karena debu tanah.


Tidak marah, justru Altezza menatap kagum elang berwarna putih itu, dan kemudian tersenyum senang sembari bersorak, "kau benar-benar keren!"

__ADS_1


Terlihat senang mendapat pujian tersebut, beberapa kali elang itu kembali menciptakan hembusan angin yang ia tujukan ke arah Altezza. Hembusan angin yang sangat hebat, membuat debu-debu serta dedaunan beterbangan, bahkan hingga membuat kedua mata Altezza sulit untuk melihat. Beruntung Altezza menggunakan penghalang angin miliknya, untuk melindungi diri dari hembusan angin yang sudah seperti badai pasir.


"Uhuk!!" Shiro terlihat kegirangan, beberapa kali mengeluarkan suara-suara nyaring, dengan terus menyerang Altezza dengan angin yang ia ciptakan tanpa hentinya.


Altezza tidak ingin tinggal diam, "oke, sekarang bagaimana kalau ini giliran ku?" cetusnya, kemudian memberikan serangan ke arah elang yang terbang di hadapannya. Laki-laki itu menciptakan sebuah gumpalan angin hingga berbentuk bola di salah satu telapak tangannya, dan kemudian melesatkan bola angin tersebut ke arah Shiro dari balik penghalang angin yang ia buat.


"klii-iiw~"


Suara nyaring terdengar, dan membuat Altezza menghentikan penghalang miliknya karena Shiro sudah berhenti menyerang. Ia sempat khawatir dengan serangan yang ia buat serta arahkan kepada Shiro, namun lagi-lagi dirinya dibuat kagum karena elang berwarna putih itu dengan mudahnya menangkis serta menetralkan sihir angin miliknya. Tubuh milik Shiro terlihat seperti sedang diselimuti oleh hembusan angin lembut, sudah mirip sekali seperti Altezza ketika sedang berbicara dengan angin miliknya.


Dari kejauhan, terlihat Kenan berlari ke arahnya dan menatap cukup terkejut, "Yang Mulia, mengapa anda kotor sekali? Baju anda ...."


Altezza kemudian memandang ke bawah, memeriksa baju formal berwarna putih yang ia pakai, sangat kotor penuh dengan debu dan tanah. Laki-laki tertawa kecil dan berkata, "habis bermain-main sedikit dengan Shiro."


"Ada apa kau mendatangi ku? Bukankah hari ini dirimu bebas dan tidak terlalu terkekang oleh tugas?" lanjut Altezza, melangkah mendekati Kenan bersama dengan Shiro yang kini hinggap di bahu kirinya. Tubuh Shiro yang cukup besar, sampai-sampai kepala Altezza harus sedikit miring ke kanan.


"Um, ada sedikit ... tugas untuk anda dari Yang Mulia Ratu, Yang Mulia." Kenan mengambil sebuah surat yang ia simpan rapi di dalam saku baju, dan kemudian memberikannya kepada Altezza. Laki-laki itu terlihat cukup berhati-hati ketika mengulurkan tangan dan hendak memberikan surat itu kepada Altezza, kedua matanya tak bisa lepas dari seekor elang besar berwarna putih yang saat ini hinggap di bahu kiri pangerannya.

__ADS_1


Altezza menerima surat tersebut, tertawa kecil secara tiba-tiba, dan kemudian berkata, "aku baru tahu kalau kau cukup takut dengan seekor elang."


"Maaf, Yang Mulia. Bukannya saya takut, saya cukup ngeri jika dia tiba-tiba saja menyerang, paruhnya serta cengkraman sangat kuat. Apakah anda baik-baik saja?" sahut Kenan, diakhiri dengan pertanyaan tersebut.


Shiro tiba-tiba saja bersuara beberapa kali dengan intonasi yang tidak terlalu bising sembari membuka lebar kedua sayapnya, menatap tajam Kenan dengan tatapannya. Seolah-olah ia tahu apa yang sedang Kenan bicarakan, dan dirinya terlihat seperti ingin menakuti laki-laki berpakaian santai kesatria itu.


Tingkah Shiro sontak mengundang gelak tawa Altezza yang tentu saja menyadarinya, "tuh, dia sedang berusaha menggoda mu," cetusnya, berbicara kepada Kenan.


Shiro kembali tenang setelah Altezza berbicara dan tertawa untuk yang kesekian kalinya. Kenan hanya ikut tertawa kecil, "sepertinya ... dia tidak terlalu mengerikan seperti apa yang ku pikirkan," ucapnya, tersenyum kecil.


Altezza segera membuka surat yang diberikan oleh Kenan, dan kemudian membaca tugas apa yang diberikan oleh Ratu atau ibunda kepada dirinya. Ketika melihat tugas tersebut, dalam hati sebenarnya dirinya ingin mengeluh, namun enggan karena mengingat yang memberikan tugas tersebut adalah Ratu.


"Apa tugasnya, Yang Mulia?" tanya Kenan, tampaknya juga penasaran dengan isi dari surat yang diberikan oleh Ratu.


Altezza memberikan surat tersebut sembari menjawab, "memastikan beberapa hal mengenai persiapan pesta di istana," jawabnya dengan intonasi datar.


"Sudahlah, lebih baik aku ganti baju dahulu," lanjut Altezza, kemudian beranjak pergi dari halaman tersebut untuk masuk kembali ke istana. Tidak lupa dengan Shiro, ia juga telah menyiapkan pakan untuk elang tersebut di sebuah ember kecil yang ia letakkan di ujung lapangan, dan kemudian membiarkannya terbang bebas sesukanya, karena tentu saja dirinya tidak dapat membawa elang itu masuk ke dalam istana.

__ADS_1


__ADS_2