Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Buku Ramalan Arcadia #126


__ADS_3

Situasi serta suasana kedai sangatlah sepi, dan sangat tertutup--bahkan jendela-jendela kedai ditutup dengan gorden putih panjang sehingga tidak dapat terlihat dari luar. Di dalam kedai sederhana dan tidak terlalu besar itu ada sekelompok pengembara, satu pelayan kedai yang tampaknya adalah manusia setengah binatang, dan satu pria berambut pirang dengan kedua daun telinga mengerucut ke atas.


Pria itu duduk di kursinya, membuka buku tebal miliknya, dan tampak mencari-cari halaman yang hendak ia baca. Emily, si gadis kucing yang berdiri di sebelah pria yang tengah sibuk dengan buku itu masih menatap Altezza dengan tatapan penasarannya.


"Sebelumnya perkenalkan, namaku Legolas, dan aku adalah kepala desa sekaligus yang berkuasa di Wilayah Arcadia," ujar pria berambut pirang itu kepada Altezza dan teman-temannya.


"Apakah engkau seorang Elf?" cetus Altezza bertanya secara spontan.


Seketika pertanyaan Altezza mengundang perhatian Eugene, Alaia, dan Aaron. Sedangkan pria bernama Legolas itu tertawa mendengar pertanyaan tersebut, "ya, aku adalah Elf, murni Elf," ucapnya menjawab, menghentikan sejenak aktivitasnya membuka lembaran-lembaran buku itu.


"Berbeda dengan Emily, dia dari Bangsa Manusia Setengah Binatang," lanjut Legolas, menjawab raut wajah bingung bercampur penasaran Altezza yang tertampak sangat jelas.


Setelah Legolas dan Emily membuka identitas serta nama mereka. Aaron, Alaia, dan Eugene pun tak mau ketinggalan, mereka bertiga turut memperkenalkan diri kepada Legolas, begitupula dengan Altezza yang juga memperkenalkan dirinya--meski hanya sekadar memberitahukan siapa namanya.


"Altezza? Dari mana asalmu, Nak?" tanya Legolas setelah mendengar Altezza hanya memperkenalkan namanya saja.


"Benua Tengah," jawab singkat Altezza--tampak sangat sengaja tidak memberitahukan nama negerinya.


Legolas benar-benar berhenti membuka-buka halaman buku tebal miliknya. Ia menatap tajam dan serius wajah Altezza hingga menciptakan sebuah kontak mata dengan pemuda itu.


"Seperti apa yang ditunjukkan oleh bola kristal itu, kau menguasai sihir angin, bukan?" tanya Legolas mengangkat kedua alisnya.


Altezza hanya memberikan jawaban dengan menganggukkan kepalanya pelan. Ia tampak tidak ingin banyak berbicara, dan menjawab secukupnya saja dengan ketenangan yang luar biasa.

__ADS_1


"Benua Tengah, sihir angin," gumam Legolas, kembali membuka beberapa lembar halaman dan terhenti pada suatu halaman buku.


"Alasan mengapa tadi Emily sempat menuduh mu sebagai Permata Alam, karena sebuah ramalan yang tertulis pada kitab desa kami ini, dan ini ada hubungannya dengan ancaman yang sedang kami hadapi hingga menyalakan menara peringatan."


"Di sisi lain Emily memiliki keistimewaan pada kedua matanya yang mampu melihat potensi serta energi sihir seseorang meski baru ditemui."


Legolas berbicara setelah menemukan halaman yang ia cari-cari, sebelum kemudian menunjukkan halaman buku tersebut kepada kelompok pengembara yang saat ini bersamanya terutama kepada Altezza.


Tertulis jelas sebuah kalimat yang menyatakan bahwa, 'kegelapan tidak akan datang kecuali tanda-tanda berikut telah muncul', dan pada kalimat berikutnya pun tertulis tanda-tandanya yang menyebutkan, 'langit Selatan akan selalu gelap, diikuti oleh kemarahan alam dari lautan, dan memunculkan makhluk-makhluk mengerikan salah satunya adalah Anjing Biru dari Neraka di Arcadia'.


"Aku telah menerima banyak laporan beserta bukti-bukti dari warga setempat mengenai Anjing Biru dari Neraka ini, dan jumlah mereka rupanya sangatlah banyak serta mengerikan karena mereka cenderung menyerang secara berkelompok," ujar Legolas.


"Anjing Biru dari Neraka? Seperti apa wujudnya?" tanya Eugene penasaran.


Legolas pun membalikkan halaman buku tersebut ke halaman berikutnya, dan terlihat sebuah gambar usang yang terukir pada halaman itu, menjelaskan serta mendeskripsikan wujud dari makhluk tersebut. Pada gambar itu menampilkan seekor anjing berkepala tiga dengan bulu berwarna hitam bercampur biru. Masing-masing kepala mereka aktif, memiliki taring serta gigi-gigi tajam, dan enam mata berwarna merah pada masing-masing kepala mereka.


Tidak selesai sampai situ saja, setelah beberapa kalimat lain tertulis mengenai tanda-tanda kegelapan segera tiba. Pada ujung bawah halaman terdapat satu kalimat yang menjadi jawaban atas kebingungan Altezza mengenai Permata Alam yang dimaksud. Kalimat tersebut berisikan, 'akan datang Permata Alam berwujud seorang laki-laki berambut hitam, kedua iris mata hitam, berasal dari Benua Utama, menguasai sihir angin, dan memiliki hubungan erat dengan alam yang akan menyelesaikan permasalahan soal Anjing Biru dari Neraka di Arcadia'.


Legolas menunjuk kalimat akhir halaman itu mengunakan telunjuknya, menatap kepada Altezza dan berkata, "kau sangat mirip dengan ciri-ciri yang disebutkan pada buku ini, Altezza. Setidaknya empat ciri awal."


"Kami benar-benar menantikan kedatangan Permata Alam itu di desa kami, setidaknya menyelesaikan permasalahan Anjing Biru dari Neraka ini, karena mereka telah merenggut banyak ternak yang kami miliki. Yang aku takutkan adalah jika mereka bosan dengan hewan ternak, mereka bisa saja menjadikan warga desa sebagai target buruan mereka selanjutnya," lanjut Legolas tampak sangat tulus ketika berbicara.


Situasinya lengang sejenak. Eugene kembali menyeruput secangkir teh hangatnya. Sedangkan Alaia dan Aaron tampak lebih tertarik untuk memandang kepada Altezza, menunggu kata-kata apa yang akan keluar dari mulut Altezza.

__ADS_1


"Apa keputusanmu? Apakah kamu ingin membantu Arcadia, Altezza?" tanya Alaia tampak tersenyum kepada Altezza yang tampak bingung.


Altezza menatap satu per satu teman-temannya sembari berkata, "tetapi ini akan menghambat perjalanan kalian juga."


"Justru hal-hal seperti ini yang membuat perjalanan kita berkesan!" sahut Aaron tersenyum lebar, tampak tidak keberatan.


"Jika kau ingin membantu desa ini, maka kami bertiga juga akan ikut membantu!" timpal Eugene selesai meminum secangkir teh miliknya--hingga habis tak tersisa.


Setelah mendengarkan pendapat dari teman-temannya, Altezza baru bisa mengambil sebuah keputusan. Ia menatap kepada Elf pria berambut pirang itu dan berkata, "mungkin bisa saja bukan diriku yang dimaksudkan oleh buku ramalan itu, akan tetapi aku memutuskan untuk membantu permasalahan kalian."


"Terima kasih banyak, Yang Mulia Permata Alam!!" sahut Emily tampak lebih antusias daripada Legolas. Ia menundukkan kepalanya di hadapan Altezza, dengan ekor kucing yang tidak bisa diam bergoyang--sepertinya suasana hatinya sedang sangat baik.


Altezza tertawa canggung dengan satu tangan menggaruk kepala bagian belakangnya--heran dengan Emily yang secara tiba-tiba menggunakan sebutan yang terasa aneh di telinganya.


Legolas juga ikut menundukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih sama seperti yang Emily lakukan.


"Bolehkah aku menginginkan satu syarat?" tanya Altezza.


Legolas dan Emily tampak bingung, raut wajah senang mereka seolah sirna. Tak hanya mereka berdua, namun teman-teman Altezza juga ikut bingung. Syarat?


"Apakah ada syarat khusus?" tanya Legolas mengerutkan dahinya, menatap bingung sekaligus penasaran Altezza yang masih duduk di kursinya.


"Bisakah jangan menggunakan panggilan-panggilan itu untukku? Cukup sapa namaku saja ...! Maaf sekali, tetapi aku cukup risih, dan juga aku bukanlah Permata Alam," ujar Altezza, tersenyum ramah kepada Legolas dan Emily.

__ADS_1


Menghela napas lega, itu yang dilakukan oleh semua orang di kedai saat ini setelah mendengar sebuah syarat sekaligus permintaan yang dikemukakan oleh Altezza.


"Baik!" sahut Emily, tersenyum gembira, terlihat kedua telinga kucing berwarna abu di atas kepalanya bergerak-gerak menggemaskan.


__ADS_2