
Siang hari dengan cuaca berawan, dan terasa sangat sejuk dan dingin. Altezza selesai dari Akademi Pedang dan Sihir Kerajaan Zephyra, bersama dengan Welt dan tiga sahabatnya perlahan berjalan menuju ke gerbang depan akademi. Pengalaman yang tidak terduga bagi Altezza, karena dirinya secara tiba-tiba disuruh oleh kakaknya yakni Welt untuk menjadi guru atau instruktur dadakan untuk murid-murid baru kelas dasar. Untungnya semua berjalan dengan lancar tanpa ada kendala, dan siswa-siswi kelas dasar terlihat sangat senang serta berterima kasih banyak kepada pangeran muda itu.
"Apa agenda kalian setelah ini? Masih mau jalan-jalan?" tanya Welt kepada tiga pangeran dari tiga kerajaan berbeda.
Azura menghela napas dan menjawab, "andai kami punya waktu seluang itu."
Xavier tertawa kecil dan berkata, "benar."
"Kami harus segera kembali ke penginapan, dan tidak ingin membuat pengawal serta ratu kami menunggu," timpal Cedric.
"Sayang sekali, ya?" gumam Welt, menghela napas, sedikit kecewa namun memakluminya.
"Setelah dari penginapan langsung pergi ke pelabuhan?" tanya Altezza.
"Ya, tergantung informan kami membawa informasi seperti apa, apakah kapal kami sudah berlabuh atau masih harus menunggu," jawab Azura.
Welt melipat kedua lengannya dan kemudian mencetuskan ide, "kalau begitu, bagaimana kalau mengunjungi pusat perbelanjaan? Siapa tahu kalian ingin membeli oleh-oleh."
Xavier terlihat antusias dan penasaran, "boleh!" Begitu pula dengan Cedric yang juga terlihat tertarik dengan tawaran Welt, "ide bagus."
__ADS_1
"Menarik! Kebetulan aku berencana untuk mencari kenang-kenangan dari Zephyra," timpal Azura.
Kelima pangeran itu pun beranjak dari gerbang akademi, menuju ke pusat ibu kota. Welt dan Altezza memimpin mereka bertiga, berjalan melalui trotoar perkotaan yang penataannya sangat rapi nan indah, ditambah dengan udara sejuk di siang yang tidak terlalu cerah ini.
Berjalan bebas tanpa penjagaan atau pengawal. Kelima pangeran itu tentu saja menjadi pusat perhatian setiap orang yang beraktivitas di siang hari ini, dan kebetulan berpapasan atau melihat mereka. Namun masyarakat di ibu kota kerajaan ini tampak sangat ramah, bahkan tidak lupa untuk memberi hormat serta menyapa ketika berpapasan dengan mereka.
Salah satu kultur yang sangat terkenal dan seolah sudah menjadi identitas dari Negeri serta Kerajaan Zephyra, yaitu ramah dan hampir selalu tersenyum serta tertawa. Orang-orang di Kerajaan Zephyra terkenal dengan keramahan mereka, dan murah senyum.
Azura, Xavier, dan Cedric mengakui bahwa kultur tersebut adalah kenyataan. Tidak semua orang di kota itu melihat serta menyadari kehadiran mereka berlima ketika berjalan di tepi jalan utama, dan mereka terlihat bahagia, bercanda tawa dengan teman, saudara, atau keluarga mereka ketika beraktivitas.
Kota yang ramah dan nyaman, bahkan saking nyamannya kota tersebut, beberapa kali terlihat anak-anak kecil berlarian untuk bermain tanpa harus menyimpan ketakutan akan hal-hal yang mengerikan.
"Lingkungan yang sangat menyenangkan," gumam Azura, berjalan di samping Cedric, di belakang Welt dan Altezza.
"Ya, rasanya aku ingin berlama-lama untuk berada di sini," timpal Xavier yang berjalan di paling belakang keempat temannya.
"Suasana kampung halaman," gumam Cedric, tersenyum.
Langkah mereka berlima tidak lama kemudian sampai di sebuah distrik perbelanjaan. Distrik tersebut sangat ramai sekali, lebih ramai dari biasanya karena kebetulan hari ini adalah hari libur nasional setelah diadakannya pesta untuk mengakhiri musim gugur semalam. Hiruk-pikuk pasar yang cukup padat hari ini, para pedagang berlomba-lomba untuk menawarkan serta menjual dagangan mereka, sedangkan para pembelian terlihat menawar harga barang dagangan yang hendak mereka beli.
__ADS_1
Pada pasar tersebut terbagi menjadi beberapa bagian salah satunya adalah bagian oleh-oleh yang saat ini disambangi oleh Welt, Altezza, dan ketiga tamu terhormat mereka. Di bagian tersebut terlihat tidak hanya ramai dengan warga lokal, namun juga terlihat banyak warga asing yang hendak mencari benda-benda yang dapat mereka beli sebelum pulang kembali ke negeri mereka masing-masing.
Welt menghampiri sebuah toko yang letaknya tepat di persimpangan dua jalan. Toko tersebut tidak terlalu ramai, bahkan terlihat cukup kuno jika dibandingkan dengan toko-toko lain. Papan nama dari toko itu juga terlihat usang, dan tulisan yang ada sudah tidak bisa dibaca lagi.
Lonceng kecil berdetang ketika Welt dan Altezza bersama teman-temannya membuka pintu toko. Seorang gadis muda terlihat sangat terkejut dengan kehadiran orang-orang penting di tokonya. Ia segera merapikan rambut hitam panjangnya yang sedikit acak-acakan, dan membersihkan rok panjangnya berwarna merah muda yang sempat kotor terkena debu.
"Se-selamat datang, Yang Mulia." Perempuan itu langsung menyambut mereka dengan ramah, menundukkan pandangannya sebagai tanda hormat.
Azura, Cedric, dan Xavier terlihat cukup kagum dengan interior serta dekorasi toko yang mereka kunjungi. Meski dari depan terkesan kuno, namun interior di dalamnya memiliki kesan klasik dan sederhana. Beberapa etalase kayu tampak menampilkan banyak sekali kerajinan tangan yang cantik.
"Apakah kau sendiri, Alya?" cetus Welt, tampak sudah mengenal sosok perempuan bernama Alya itu.
"Iya, Yang Mulia. Hari ini saya yang berjaga, nenek sedang di ladang," jawab perempuan bernama Alya itu. Pandangan perempuan itu kemudian tertuju kepada tiga pangeran di belakang Welt yang tampak sedang melihat-lihat koleksi suvenir yang dijual, sebelum kemudian pandangan tersebut berakhir kepada sosok Altezza yang terlihat berpisah sendiri melihat etalase paling pojok toko.
"Apakah ada yang bisa saya bantu, Yang Mulia?" tanya Alya kemudian.
Tanpa berbasa-basi, Welt langsung meminta bantuan penjaga toko itu untuk memilih serta memberikan rekomendasi untuk suvenir apa yang kira-kira cocok dibeli oleh tiga sahabatnya. Gadis penjaga toko bernama Alya itu segera membantunya, dan menunjukkan beberapa koleksi yang sering menjadi sorotan perhatian pembeli atau pengunjung.
Semua etalase kayu yang ada di toko tersebut terisi oleh berbagai macam suvenir. Semua suvenir yang dijual adalah hasil dari kerajinan tangan si pemilik toko, atau nenek dari sosok gadis penjaga toko bernama Alya. Salah satu suvenir yang laris dan sering diburu oleh para turis adalah suvenir berbentuk hewan yang menjadi simbol Zephyra yakni seekor elang berbahan dasar kayu dan tampak mengesankan. Selain berbahan kayu, di sana juga menjual varian lain seperti berbahan dasar permata serta kristal.
__ADS_1