Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Terkepung #36


__ADS_3

Altezza berkuda di antara pepohonan di sebuah hutan hujan yang tidak jauh dari pelabuhan, hanya sekitar satu kilometer ke arah Utara. Hutan itu sangat rimbun dan lembap, cahaya matahari pun sulit untuk masuk dan menyinari. Kuda putih yang ia tunggangi perlahan melambat dan berjalan santai di antara pepohonan yang rimbun. Altezza tidak sendirian, karena di setiap langkah yang ia jalan, ia ditemani oleh hembusan angin yang selalu bergerak di sekitarnya.


Meskipun hutan hujan tersebut terkesan menyeramkan, Altezza tidak terlihat takut. Justru ekspresinya terlihat sangat datar dan tenang. "Apa?! Ada yang mengejar?" cetus Altezza, berbicara dengan angin miliknya.


Beberapa langkah di depan, Altezza memutuskan untuk menghentikan kuda yang ia tunggangi, berhenti di tengah hutan dan antara pepohonan. Setelah kuda putih itu berhenti, pangeran muda itu turun dari kudanya, dan terlihat menunggu siapa yang mengejar. Angin yang sebelumnya selalu berkeliling di sekitarnya secara perlahan memudar dan hilang. Tidak lama kemudian terdengar suara derap langkah kaki kuda.


Muncul tiga orang penunggang kuda berjalan mendekatinya. Mereka semua memakai seragam ahli sihir kerajaan yang identik dengan warna biru muda. "Apa yang kalian lakukan? Mengapa kalian ada di sini?" tanya Altezza tajam pada ketiga pria itu. Ternyata mereka adalah ahli sihir yang ikut rombongan mereka.


Mereka menghentikan kuda-kuda yang mereka tunggangi, turun dari tiga kuda abu-abu itu. Salah satu dari mereka menjawab, "Maaf bila tindakan kami lancang di mata anda, Yang Mulia. Namun kami melakukan ini karena mendapatkan perintah dari Tuan Kenan," jawabnya sambil menundukkan pandangan dan kepalanya.


Altezza tidak senang dengan tindakan mereka, tetapi tidak ingin membuang-buang waktu dengan marah-marah. Ia memilih diam, kembali menunggangi kuda miliknya dan berniat untuk pergi. "Jika kalian ingin ikut, jangan sampai menghalangi atau menjadi beban!" ujarnya tegas.


Tiba-tiba Altezza berbalik, menarik pedang yang tersarung rapi. Tatapannya tajam memandangi pepohonan di sekitarnya. Gerak-gerik Altezza membuat tiga ahli sihir itu bingung. "Ada apa, Yang Mulia?" tanya salah satu dari mereka.


"Siapkan tongkat serta mantra terbaik kalian!" jawab Altezza tenang sambil menghunuskan pedangnya ke arah hutan yang gelap. Tiga ahli sihir itu patuh dengan perintah Altezza. Mereka berempat siap menghadapi apa pun yang akan muncul.

__ADS_1


Beberapa detik setelah itu, sesuatu muncul dari balik pepohonan dan menyerang mereka dengan belati. Altezza berhasil menciptakan pelindung angin yang mengelilingi dirinya dan tiga ahli sihir itu. Namun kemudian muncul enam orang berpakaian serba hitam yang misterius. Mereka menampakkan diri dari balik pepohonan dan pandangan tajam mereka tertuju pada Altezza.


"Sungguh kehormatan bagi kami, sampai-sampai seorang pangeran seperti anda berkunjung," kata salah satu dari keenam pria itu, sementara Altezza melepas sihir penghalang miliknya.


"Mereka... ada yang aneh dari tubuh mereka," bisik salah satu dari tiga ahli sihir kerajaan itu ketika melihat keenam orang itu.


Tubuh dari enam pria yang muncul tampak seperti dilapisi oleh sesuatu yang gelap. Tidak hanya mereka bertiga yang menyadarinya, namun Altezza juga menyadarinya, terlebih lagi ketika dia menatap tajam salah satu dari mereka yang kini berdiri di hadapannya. Aura yang sangat kelam dan mengerikan, serta energi sihir yang sangat pekat dan kuat semakin memperkuat dugaan Altezza soal keterikatan mereka dengan tiga orang pembunuh bayaran yang sempat menyusup ke istana beberapa hari yang lalu.


"Apakah kalian hanya ingin saling menatap seperti ini? Atau justru ingin segera menyelesaikan pertemuan ini dengan cepat?" celetuk Altezza, bertanya dengan sikap santai dan tenang. Namun, pria yang berdiri di hadapannya tertawa mendengar apa yang dikatakan olehnya.


Pergerakan mereka sangat cepat, bahkan kecepatan mereka cukup tinggi sehingga tidak dapat tertangkap oleh kasat mata. Kedua mata Altezza tidak dapat menangkap serta melihat setiap pergerakan mereka yang sedang mengelilingi dirinya dan tiga orangnya, namun hal itu tidak terjadi pada angin miliknya yang dapat selalu merasakan setiap pergerakan enam orang tersebut.


"Kalian tiga, rapatkan diri padaku, dan ucapkan mantra terbaikmu ...!" pinta Altezza, perlahan menyarungkan kembali pedangnya.


"B-baik, Yang Mulia," sahut ketiga ahli sihir itu patuh pada perintah tersebut.

__ADS_1


Salah satu dari tiga ahli sihir itu berpindah, berdiri di belakang Altezza dan dua orang lainnya, kemudian merapalkan mantra hingga menciptakan lingkaran sihir berwarna kuning keemasan tepat di bawah kaki mereka berempat.


"Usahakan jangan keluar dari lingkaran ini," ucap laki-laki yang merapalkan serta menciptakan lingkaran sihir tersebut.


"Kami mengandalkanmu!" sahut laki-laki berseragam ahli sihir kedua yang membawa sebuah pedang. Rekannya yang ketiga, yang membawa tongkat sihir, juga turut berkata, "Apa arahanmu selanjutnya, Yang Mulia?" ucapnya, kemudian sedikit menoleh dan bertanya kepada Altezza.


Altezza terlihat tenang dan mengangkat serta mengulurkan kedua tangannya ke depan dengan posisi telapak tangan menghadap ke bawah. Angin perlahan muncul dan semakin kencang di sekitarnya. Pangeran muda tersebut tidak merapalkan mantra apapun, namun ia berhasil menciptakan suasana angin ribut yang semakin kencang hingga membuat tumbuhan di sekitar bergerak-gerak hebat.


"Pergerakan mereka tidak dapat dilihat dengan mata biasa, maka gunakanlah sihir, perasaan, serta kepekaanmu untuk merasakan keberadaan mereka," ucap Altezza kepada ketiga ahli sihir yang ada di belakangnya.


Angin di hutan itu semakin berkumpul pada satu titik yaitu di sekitar pangeran muda itu, dan hembusannya semakin kencang layaknya angin topan. Burung-burung yang tinggal di tengah hutan itu juga secara serempak berhamburan terbang meninggalkan sarang mereka karena angin yang diciptakan oleh Altezza sangatlah besar dan kuat.


Mengambil napas, dan kemudian menghembuskannya secara perlahan. Altezza yang sangat tenang dengan mata terpejam, rambut hitamnya bergelombang sangat cepat, begitu pula dengan pakaian formal putih yang ia kenakan. Dia membuka kedua matanya secara perlahan ketika angin di sekitarnya benar-benar mengamuk.


"Sudah lama sekali aku ingin menggunakannya," gumam Altezza, tersenyum tipis dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


__ADS_2