Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Melanjutkan Perjalanan #89


__ADS_3

Tiga orang ahli sihir dari Kerajaan Lagarde datang, dengan seragam berwarna putih yang menjadi identik dari kerajaan kebanggaan mereka. Mereka datang, dan kemudian berdiri dan depan mulut goa tersebut, membawa tongkat-tongkat sihir mereka sebelum kemudian mulai merapalkan mantra. Liam dan Ethan hanya diam, berdiri di belakang tiga ahli sihir tersebut, dan menunggu hasil dari apa yang sedang mereka perbuat. Begitupula dengan Altezza, ia diam serta menyimak mantra apa yang keluar dari mulut para penyihir kerajaan itu.


Tongkat panjang berwarna putih yang dibawa oleh ketiga ahli sihir tersebut di angkat sedikit ke langit, dan kemudian bercahaya kuning keemasan, sebelum kemudian tumbuhan di hutan tersebut tampak lebih segar bahkan membuat pohon yang sebelumnya belum berbunga kini berbunga. Suasananya terasa berbeda, lebih segar dengan angin yang berhembus lembut.


Altezza tersenyum menyaksikan salah satu sihir alam yang sering menjadi pelajaran utama di akademi. Efek dari sihir tersebut menciptakan suasana alam yang lebih tenang, begitu pula dengan satwa-satwa yang menghuninya. Bahkan dengan sihir tersebut, hewan predator dan ganas seperti harimau bisa dijinakkan dengan mudah. Namun dibalik sihir yang hebat, tetap memiliki konsekuensinya. Maka dari itu Altezza tidak heran Kerajaan Lagarde mengirimkan tiga ahli sihir untuk merapalkan serta menggunakan sihir yang sama.


"Tahap pertama sudah selesai, sekarang biarkan kami membereskan beberapa perancah yang masih terbengkalai di sini," ujar Ethan setelah ketiga ahli sihir tersebut menurunkan tongkatnya.


Para prajurit berzirah besi yang ikut bersama Ethan kemudian bergerak, dan melepas banyak perancah serta benda-benda pertambangan yang ditinggalkan begitu saja di goa tersebut.


Liam masih bingung dengan hasilnya, karena dirinya tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya dilakukan oleh para ahli sihir itu. Pria itu menatap Ethan yang berdiri di depannya dan bertanya, "apakah para kelelawar itu tidak akan mengusik pertanian kami lagi?"


"Mereka tidak akan merusak pertanian lagi, selama kita manusia tidak mengusik rumah mereka," jawab Ethan, tersenyum kecil dengan santai.


"Apakah seperti itu, Altezza?" tanya Liam menoleh kepada Altezza yang berdiri di sampingnya, tampak ingin memastikan hal tersebut.


Dengan senang hati Altezza mengangguk, menjawab pertanyaan tersebut, "sihir yang mereka gunakan adalah sihir pengembalian alam, memulihkan alam, menciptakan ketenangan alam, serta menangkan hewan-hewan buas di alam agar tidak menyerang manusia," ucapnya.


Liam tersenyum senang mendengar jawaban tersebut dan kemudian mengucap, "terima kasih banyak sudah membantu," kepada Ethan. Tidak hanya kepada Ethan, pria itu juga berterima kasih kepada Altezza yang juga sudah membantu dirinya.


...

__ADS_1


Sore hari yang cerah, Altezza kembali ke desa bersama Liam setelah selesai dengan semua permasalahan yang melibatkan goa dan proyek pertambangan yang terbengkalai itu. Pihak dari Kerajaan Lagarde juga sudah pergi, kembali ke ibu kota setelah menyelesaikan semua permasalahan tersebut hanya dalam waktu beberapa jam saja.


Hari ini juga Altezza tidak bisa bermalam lagi di desa tersebut, apalagi jika harus merepotkan keluarga Liam lagi. Laki-laki itu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan jauhnya ke Benua Timur di sore itu juga. Namun sebelum pergi, ia berniat untuk berpamitan terlebih dahulu kepada Liam dan keluarganya yang telah menerimanya selama satu hari.


"Kau sudah mau pergi lagi?" tanya Liam, berdiri di halaman depan rumahnya bersama keluarganya.


Altezza berdiri di hadapan mereka, dan sudah membawa barang bawaannya di dalam tas ransel miliknya. Ia mengangguk dan menjawab, "iya, saya harus melanjutkan perjalanan, karena tujuan saya masih sangat jauh."


"Terima kasih sudah menerima saya untuk istirahat dan bermalam di sini," lanjut Altezza.


Olivia tersenyum memandangi Altezza. Wanita paruh baya itu tiba-tiba saja beranjak kembali masuk ke dalam rumahnya sejenak, "sebentar, Nak Altezza," ucapnya sebelum beranjak masuk ke dalam.


"Kak pengembara, kapan-kapan mampir ke sini lagi, ya! Ajak burung putih itu juga!" seru Aria dengan ekspresi cerianya, berdiri tepat di sebelah Iris.


"Kehadiranmu membawa warna di rumah ini, Altezza. Apalagi Olivia dahulu sempat menginginkan memiliki seorang putra," ujar Liam, tersenyum senang memandangi sosok Altezza di hadapannya.


"Sedang membicarakan ku ...?!" cetus Olivia, kembali keluar dari rumah dengan salah satu tangan membawa tas jinjing yang terbuat dari ranting kayu dan berisikan beberapa jenis sayuran segar. Liam tertawa kecil melihat kehadiran istrinya yang ternyata mendengar apa yang ia bicarakan.


Perhatian Olivia kemudian tertuju kembali kepada Altezza dan berkata, "kami ada sedikit buah tangan yang siapa tahu bisa membantu perjalananmu, Altezza," sembari memberikan tas tersebut kepada Altezza.


"Ini sungguh merepotkan, saya tidak bisa mene--"

__ADS_1


"Tidak! Ini sama sekali tidak merepotkan bagi kami," sahut Olivia menyela perkataan Altezza.


Iris yang berdiri di samping kedua orangnya bersama adik kecilnya tersenyum dan menimpali, "ini juga sebagai salah satu tanda terima kasih kami, karena berkat dirimu kami bisa mendatangkan pihak resmi kerajaan dan menyelesaikan permasalahan hama pada pertanian kami."


"Terimalah pemberian ini, Altezza." Liam ikut berbicara dengan senyuman yang tampak hampir selalu tersungging.


Altezza pun menerima pemberian tersebut, "terima kasih banyak," ucapnya.


"Hati-hati di jalan ...! Jaga dirimu baik-baik, Altezza," ujar Iris, tersenyum lembut dan enggan melepaskan pandangannya kepada sosok laki-laki yang berdiri di depannya.


***


Perjalanan panjang kembali berlanjut. Altezza merasa sangat bersyukur dengan apa yang baru saja ia alami. Perbekalannya bertambah, dan dirinya tidak perlu khawatir akan kehabisan makanan untuk sampai ke pelabuhan besar Kerajaan Lagarde yang berjarak ratusan kilometer lebih.


Langkah Altezza kembali berjalan melalui hutan, dan bertemu dengan gelapnya malam. Kesunyian kembali hadir, setelah keharmonisan dan kehangatan yang baru saja ia rasakan kemarin malam. Meskipun Liam dan keluarganya adalah orang-orang yang baru saja ia temui. Namun mereka sangat baik pada dirinya, dan benar-benar menyambut hangat pendatang sepertinya.


Liam dan keluarganya hidup dalam kesederhanaan, yang belum pernah dirasakan oleh sosok Altezza yang memiliki kehidupan istana, semuanya serba mewah dan disediakan. Walaupun satu malam saja Altezza menginap di kediaman tersebut. Akan tetapi dirinya menerima banyak sekali pembelajaran yang tersirat dari pengalaman yang telah ia terima. Mereka tetap bisa merasakan kebahagiaan, dan sering berkumpul dengan seluruh anggota keluarga meski hidup dalam kesederhanaan tanpa kemewahan sama sekali.


Di tengah ia berjalan, Altezza memandangi langit malam yang tampak indah seperti malam sebelumnya. Laki-laki itu tampak semakin antusias dan bersemangat untuk melanjutkan perjalanan petualangannya. Pada tangan kirinya ia membawa tas jinjing berbahan dasar kayu yang berisikan beberapa sayuran segar itu.


"Namun kalau barang bawaanku banyak, sepertinya aku akan kesulitan jika harus menghadapi hewan buas." Altezza menghentikan langkahnya sejenak, dan memindahkan beberapa sayuran tersebut ke dalam tasnya yang dapat memuat semua. Bahkan ia juga melipat tas jinjing tersebut, dan mengikatnya tepat di sisi tas ransel miliknya. Setelah itu, dirinya kembali lanjut berjalan di tengah gelapnya hutan.

__ADS_1


"Apalagi yang akan ku hadapi esok hari?" gumam Altezza, bertanya-tanya dengan pandangan ke arah langit, dan tampak penasaran, "menjadi pengembara sepertinya memang tidaklah buruk," lanjutnya, kemudian memandang ke arah depan.


__ADS_2