
Negeri yang sangat dingin, semuanya es dan salju lebat. Langit di negeri tersebut juga hampir selalu gelap, sinar matahari saja tidak sampai menyentuh permukaan salju yang ada di negeri tersebut, saking tebalnya atmosfer salju yang ada di negeri itu. Namun meski memiliki iklim yang sangat ekstrem. Negeri bersalju yang super dingin itu dimiliki oleh sebuah kerajaan besar digdaya yang menguasainya.
Kerajaan besar tersebut meski dihuni oleh banyak sekali manusia, lebih dari sepuluh ribu penduduk. Namun memiliki kesan yang sangat sepi, jarang terlihat adanya orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan ibu kota kerajaan. Tidak ada yang mau berjalan-jalan di bawah iklim yang bahkan bisa membekukan air panas hanya dalam hitungan detik. Semua orang berada di dalam ruangan, menghangatkan diri sepanjang masa, dan hanya akan keluar dari bangunan mereka hanya diperlukan saja.
Benua Selatan, benua yang sangat dingin, bahkan lebih dingin dan beku daripada Benua Utara. Kerajaan besar yang memiliki struktur bangunan yang terbuat dari es, balok-balok es yang sangat amat besar dan licin, dingin. Seluruh benteng, bangunan, bahkan hingga istana dari kerajaan tersebut juga terbuat dari es yang sangat amat besar dan tebal, namun semua es itu berhasil membuat istana serta kerajaan memiliki kesan megah dan mewah. Nama kerajaan tersebut adalah Kerajaan Mystick.
Seorang pangeran tampan berambut hitam dengan kedua iris mata tajam berwarna biru layaknya es, yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi merah layaknya api tergantung suasana hatinya, dan ia berpakaian serba hitam dengan sebuah mahkota berwarna hitam juga di atas kepalanya. Pangeran tersebut tampak berjalan di halaman istana, di atas salju dan di bawah dinginnya iklim Benua Selatan. Tidak terlihat kedinginan, justru salju-salju tersebut seolah menurut serta dikendalikan oleh pangeran tersebut. Ia adalah Pangeran Asta dari Kerajaan Mystick.
"Negeri Zephyra sudah ditinggalkan oleh permata berharganya, Yang Mulia. Kita bisa memulai rencana kapanpun anda mau." Secara tiba-tiba muncul seorang pria berjubah hitam dan memiliki sepasang sayap perkasa berwarna hitam di belakang pangeran tersebut.
"Tanpa kehadiran permata alam itu, kita tidak akan terhambat lagi seperti satu abad yang lalu!" lanjut pria bersayap hitam itu, kedua iris matanya tajam menyala merah, berbicara dengan intonasi rendah dan sikap yang dingin dari belakang Pangeran Asta.
__ADS_1
Pangeran Asta tampak melirik pria berpenampilan mengerikan itu dengan kedua iris mata berwarna biru indahnya. Pria itu berjubah hitam dengan tudung yang menutupi wajah hingga hanya memperlihatkan sorot mata tajam berwarna merah. Pria itu juga memiliki sepasang sayap perkasa berwarna hitam pekat. Jelas, dia bukanlah seorang manusia.
"Kita bersabar saja terlebih dahulu," ujar Asta dengan sikap yang sangat dingin, kemudian memandang kembali ke depan, melihat gerbang istana yang sangat amat besar dan megah, kokoh sekali meskipun erbuat dari es.
"Aku akan menemui Baginda Asmo terlebih dahulu, dan menanyakan saran untuk langkah kita selanjutnya," lanjut Pangeran Asta, kemudian kembali melirik kepada pria yang kini sudah berdiri tepat di sampingnya. Pria tersebut berukuran jauh lebih tinggi dan besar dibanding tubuh manusianya, benar-benar mengerikan.
"Lalu, apa saran anda untuk Raja tua itu? Apakah kau ingin aku mencabut nyawanya segera, membantunya untuk bertemu dengan kematian yang juga sebentar lagi akan menjemputnya? Atau bagaimana?" pria berjubah hitam dan bersayap hitam itu bertanya.
Pangeran Asta tampak menyeringai mendengar pertanyaan-pertanyaan dari pria bersayap itu, "Raja Aarav, tahan saja pria tua itu, jangan bunuh dia, itu terlalu cepat," ucapnya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
"Terus awasi serta batasi semua pergerakan dia," jawab Asta, tenang dan santai.
__ADS_1
"Selain itu, aku tetap meminta kepadamu untuk terus mempersiapkan semua pengikut serta bawahan mu." Pandangan dari pangeran tersebut kemudian menatap langit yang berwana biru gelap dan memiliki kesan yang kelam, sedang terjadi badai salju hebat di atas sana, "kemungkinan besar akan terjadi hal-hal yang besar di Benua," lanjutnya.
Pria berjubah hitam gelap dan bersayap hitam itu menundukkan kepalanya, "semua akan saya atur, Yang Mulia. Tidak perlu cemas ...!" kemudian ia lanjut berpamitan, "kalau begitu saya pamit, Yang Mulia."
Hanya dalam sekejap mata, bahkan hanya dalam satu kedipan mata manusia biasa. Pria bersayap hitam dan berjubah hitam mengerikan itu menghilang di tempat, seperti tertelan ke dalam dimensi lain dalam waktu sepersekian detik.
***
Perjalanan yang sangat jauh, Altezza perlahan menemui petang dan hampir malam di tengah perjalanannya menuju Benua Timur. Kegelapan perlahan menyelimuti hutan yang sedang ia lalui. Laki-laki itu sendirian di hutan tersebut, dalam perjalanannya ia tidak ditemani oleh siapapun. Namun meski begitu, hatinya selalu bisa merasa tenang dan tidak kesepian. Beberapa kali ia bisa merasakan suasana alam, mengirimkan angin lembutnya, dan berhasil membuat sejuk hatinya.
Hutan yang sangat asing di ujung Tenggara dari Benua Tengah, dan perlahan laki-laki itu mulai meninggalkan perbatasan Negeri Zephyra. Satu langkah, ia telah keluar dari Negeri Zephyra, menuju ke wilayah yuridiksi kekuasaan Kerajaan Lagarde, kerajaan milik sahabatnya yakni Pangeran Xavier. Negeri Lagarde adalah negeri subtropis yang indah, kurang lebih hampir sama dengan Negeri Zephyra. Selain itu, Negeri Lagarde juga termasuk negeri yang luas, terletak dekat dengan samudera yang memisahkan antara Benua Tengah dan Benua Timur.
__ADS_1
Altezza tidak membawa peta, namun dirinya tidak takut tersesat. Ia selalu percaya bahwa angin dan alam akan senantiasa membantunya dalam kondisi apapun. Untuk menuju ke Benua Timur, dirinya memerlukan akses transportasi yang bisa melewati lautan luas, yaitu kapal. Dan untuk mendapatkan tumpangan kapal, dirinya harus menuju ke sebuah pelabuhan besar milik Kerajaan Lagarde.
Posisi dari laki-laki itu masih berada cukup dekat dengan perbatasan antara Lagarde dan Zephyra, dan untuk menuju ke pelabuhan yang ia maksud, dirinya membutuhkan waktu kurang lebih tiga sampai empat hari jalan kaki, itupun jika tidak menemui permasalahan di tengah perjalanan yang dirinya tidak akan pernah tahu apa saja rintangan yang akan menghadang.