
Kerusakan dan kebakaran yang hebat. Salah satu dari penyihir kerajaan telah menciptakan elemen kedua sesuai dengan permintaan pangeran muda itu. Beberapa saat setelah sebuah gumpalan air telah tercipta melayang di atas salah satu telapak tangan milik penyihir itu. Altezza mengendalikan sihirnya yang amat besar dan hebat itu menggunakan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya yang sebelumnya menggenggam gagang pedang yang ia tancapkan ke tanah, secara perlahan menciptakan pusaran angin kecil dan kemudian mengambil serta menciptakan reaksi elemen dengan sihir air yang sudah disiapkan.
Reaksi elemen antara angin dan air pun tercipta. Altezza mengambil air tersebut menggunakan angin kecil yang ia ciptakan menggunakan tangan kanannya, dan secara perlahan ia mengendalikan air itu. Secara perlahan pusaran angin yang berada di telapak tangannya ia perbesar, sebelum akhirnya menggabungkannya dengan angin besar yang sedang berkobar hebat membakar semuanya.
Apa yang dilakukan oleh Altezza menjadi pusat perhatian tiga penyihir kerajaannya. Mereka menatap kagum ketika pangeran muda itu menggabungkan dua mantra sihir dengan dua reaksi elemen yang berbeda, antara air dan api, dengan angin yang berperan sebagai perantara di antara keduanya.
Angin yang begitu besar dan sangat mengganas apalagi bereaksi menjadi satu dengan api, secara perlahan berubah berwarna biru muda dari bawah merambat ke atas. Reaksi kedua elemen antara angin dan air perlahan diterapkan oleh Altezza pada angin sebesar itu, hingga menciptakan hujan lokal yang sangat amat lebat.
Pangeran muda itu terus mengendalikan sihir hebat yang ia gunakan, dengan ketenangannya yang luar biasa. Api yang sebelumnya berkobar hebat serta membakar semua yang disentuhnya, secara perlahan padam dan berubah layaknya pusaran angin di tengah lautan yang mengangkat butiran air dengan volume yang amat banyak.
"Setelah angin ku netralkan, kalian segera ringkus mereka semua! Jika mereka masih hidup, ikat mereka dengan menggunakan ikatan sihir!" ucap Altezza, sempat-sempatnya berbicara di tengah konsentrasinya mengendalikan sihir yang amat besar.
"Baik, Yang Mulia." Ketiga ahli sihir kerajaannya menjawab serempak.
Lagi-lagi tanpa harus repot-repot menuturkan rapalan, pangeran tersebut secara pelan namun pasti menurunkan intensitas angin yang sebelumnya sangat mengganas. Perlahan angin yang berhembus mulai pelan, dan terasa semakin lembut, diikuti oleh memudarnya secara perlahan angin yang sebelumnya terlihat sangat besar hingga menjulang ke atas awan.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Altezza untuk meredakan kekacauan serta keributan yang dibuat oleh angin miliknya, serta menetralkan semua sihir tersebut. Ketika sihir yang ia gunakan sudah netral, dan angin kembali bertiup ringan secara normal. Kini tempat di mana Altezza dan tiga penyihir kerajaannya berdiri menjadi tempat yang sangat terbuka. Padahal dari awal mereka berada di tengah-tengah hutan hujan yang amat lebat dan rindang. Namun semua pepohonan di sekitarnya telah tersapu angin yang sempat mengganas.
__ADS_1
Pemandangan di sekitarnya hanyalah tanah serta tumbuhan-tumbuhan yang hitam karena habis terbakar, dan basah serta terlihat beberapa genangan air. Para bandit yang sebelumnya mengepung terlihat terkulai lemas di tanah. Beberapa dari mereka bahkan ada yang menyangkut di atas ranting-ranting pohon yang tumbang, dan tertindih oleh bebatuan. Tiga ahli sihir yang saat ini bersama Altezza segera melakukan perintah yang diberikan sebelumnya. Mereka langsung mengamankan semua bandit tersebut.
Altezza mengambil kembali pedangnya, dan melihat kerusakan alam yang terjadi akibat sihir yang ia gunakan. Dirinya sempat melihat ke arah langit di atasnya, dan terlihat fenomena awan yang sungguh indah. Awan-awan di atas sana terlihat berkumpul di satu titik, dan menciptakan sebuah celah berbentuk bulat berkat angin yang baru saja ia ciptakan. Diameter kerusakan yang terjadi pada hutan tersebut juga sangat luas memiliki ukuran sekitar 300 meter melingkar.
Laki-laki berseragam putih pangeran itu kemudian beranjak berkeliling di sekitar, melihat kerusakan alam yang baru saja ia buat, dan kemudian berdiri tepat di tengah-tengah diameter kerusakan yang ia ciptakan. Tangan kanannya terulur seperti hendak meraih sesuatu, dan kedua matanya terpejam.
Di tengah Altezza berlarut dalam ketenangannya. Angin kembali berhembus, dan kini berputar di sekitar tubuhnya, sebelum akhirnya menyebar ke seluruh kerusakan yang ada. Ketika angin tersebut menyebar, bertiup melewati setiap tumbuhan yang mati. Sedikit perubahan tiba-tiba saja terlihat. Tanah yang sebelumnya terlihat hitam hangus terbakar, perlahan berubah menjadi cokelat kembali, dan sedikit ditumbuhi oleh rerumputan serta bunga-bunga kecil yang indah.
"Maafkan aku," gumam Altezza setelah sedikit memulihkan kondisi tanah yang telah ia rusak dengan pandangan tertunduk.
"Anda ... berantakan sekali, Yang Mulia. Apakah anda baik-baik saja?" tanya Kenan, turun dari kudanya, dan berjalan mendekati Altezza dengan ekspresi lega.
"Jangan khawatirkan aku, lebih baik segera urus mereka ...!" sahut Altezza, kemudian menunjuk ke arah para bandit yang tergeletak di tanah.
Kenan segera menggerakkan prajurit yang ikut bersamanya untuk menangani enam bandit yang ada di sana. Para bandit itu sudah benar-benar tidak bisa bergerak, tubuh mereka terkulai lemas, apalagi mereka sempat dibawa terbang, terpelanting, serta membentur bebatuan serta pepohonan.
Langkah Altezza perlahan mendekati salah satu dari keenam bandit yang sudah terikat oleh ikatan sihir berwarna kuning keemasan. Ketika pangeran itu berada di depan seorang pria yang sebelumnya sempat menganggap enteng dirinya. Ia melepas paksa penutup wajah pria tersebut, sehingga menampakkan wajah asli dari pria itu.
__ADS_1
Rambut berwarna pirang, hidung mancung, dan kedua iris mata jelas berwarna biru muda--ciri-ciri fisik yang jarang Altezza lihat di negerinya, alias ciri-ciri tersebut menandakan bahwa mereka bukanlah berasal dari Negeri Zephyra. Namun tindakan yang mereka lakukan, sihir yang mereka gunakan, ciri-ciri pakaian mereka, hingga senjata tajam yang mereka pakai. Semuanya memiliki kesamaan persis seperti tiga bandit yang sempat menyusup ke istana beberapa hari yang lalu.
Tatapan tajam penuh dengan kebencian dan ketidaksukaan terlihat jelas dari seorang pria yang saat ini berlutut di hadapan Altezza. Laki-laki berseragam formal pangeran itu terlihat tersenyum tipis, menundukkan kepalanya, menatap tajam pria itu dari jarak yang cukup dekat dan kemudian berkata, "kau telah menyepelekan orang yang salah. Sayang sekali, ya?" ucapnya dengan intonasi merendahkan serta meledek, dan kemudian tertawa kecil diikuti oleh senyuman sinis.
Pria itu hanya bisa terdiam. Tidak ada tanggapan apapun, merasa tidak seru. Altezza kembali beranjak dari hadapan wajah bandit tersebut, dan berjalan ke arah kudanya bersama dengan Kenan. Beberapa kali Kenan terlihat tersenyum dan tertawa setelah melihat pangerannya yang baru saja berbicara sinis kepada salah satu bandit itu.
"Kenapa? Ada yang aneh?" tanya Altezza, menoleh kepada Kenan yang berjalan di sampingnya.
Kenan menggeleng dan kemudian menjawab, "hanya saja saya merasa anda tidak cocok untuk berperilaku sinis seperti itu ketika masih menggunakan seragam formal."
Altezza terkekeh kecil, tersenyum tipis dan berkata, "membuat penjahat kesal itu rasanya seru, kalau tidak percaya cobain saja, hehe ...!" ucapnya, masih dengan gelak tawanya.
"Ada-ada saja," ujar Kenan, sempat tertawa kecil sembari bergeleng kepala.
***
Seekor elang berwarna hitam terbang sangat tinggi, bahkan jauh lebih tinggi daripada burung-burung elang sepertinya. Elang tersebut terbang di atas awan, dan hanya berkeliling di sekitar hutan hujan tersebut. Kedua matanya yang tajam terus melakukan pemantauan terhadap sekelompok prajurit yang ada di bawah sana. Namun perhatiannya rata-rata tertarik untuk memantau seorang pangeran kedua dari Kerajaan Zephyra itu, apalagi setelah melihat serta mengetahui sihir tingkat atas yang baru saja digunakan serta dikendalikan dengan sangat mudah.
__ADS_1