Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Teluk Mutiara #121


__ADS_3

Langit malam begitu gelap, berawan. Seekor elang berwarna gelap, hitam pekat tampak sedang terbang bebas di bawah cakrawala malam yang berbintang. Kedua mata elang tersebut tampak menyorot berwarna merah, terbang di atas wilayah yang sangat ramai dan padat yaitu ibu kota Kerajaan Zephyra. Namun tidak ada lebih dari sepuluh menit, elang hitam tersebut tiba-tiba saja terbang pergi dengan tergesa-gesa, terusir oleh hembusan angin yang sangat kencang dan tajam menerpa dirinya, disusul oleh sesosok elang lain berwarna putih yang muncul dari balik gelapnya awan malam.


Elang hitam itu terusir dengan begitu mudahnya, dan dalam keadaan kedua sayap terluka ia terus terbang kembali ke selatan. Beberapa bulu tercabut karena angin kencang dan terasa tajam itu tiba-tiba saja muncul dan menerpa tubuhnya. Ketika sampai di Selatan, tepatnya di perbatasan selatan antara Benua Selatan dan Tanah Zephyra. Elang hitam itu bergegas menemui tuannya, dan melaporkan apa yang baru saja ia alami.


Astaroth, berdiri di depan tenda besar yang didirikan di tengah perkemahan sementara para prajuritnya. Ketika ia hendak kembali masuk ke dalam tenda, Baltazhar tiba-tiba saja muncul, mengubah sosoknya dari seekor elang menjadi wujud seorang pria berjubah hitam kembali, dan menundukkan kepalanya di belakang Astaroth. Akan tetapi wujud dari Baltazhar seperti orang yang baru kembali dari medan pertempuran, beberapa ujung jubahnya terkoyak-koyak seperti terkena cakaran, bahkan hingga memperlihatkan salah satu kakinya yang berwarna hitam berdarah dengan luka terbuka seperti terkena sayatan benda tajam.


"Apa yang kau dapat?" tanya Astaroth dengan intonasi rendah namun terkesan ketus, menoleh dan melirik sedikit ke belakang.


"Maafkan saya, Yang Mulia. Meski permata alam yang anda maksud itu jauh dari tanah kelahirannya, akan tetapi utusan alam tidak pergi bersamanya alias masih menetap di langit Zephyra." Baltazhar menjawab pertanyaan itu dengan gemetar penuh ketakutan.


Astaroth sempat melirik dan melihat kondisi Baltazhar yang benar-benar compang-camping serta terluka di bagian kaki, "apakah kau selemah ini, Baltazhar?"


"Saya tidak melawan, karena saya tidak diperintahkan untuk memberikan perlawanan ataupun penyerangan, Yang Mulia." Baltazhar langsung menyangkal perkataan Astaroth dengan mengangkat kepalanya, dan menatap Astaroth menggunakan kedua mata merahnya yang tampak menyala dari balik gelapnya tudung hitam yang ia kenakan.


"Tch!" decak Astaroth, kemudian disusul oleh tawanya dengan intonasi rendah, "aku hampir lupa kalau kau adalah budak penurut Asmodeus."

__ADS_1


"Ya sudah, tidak masalah. Apapun utusan alam tidak akan bisa menghentikan kehendak ku, kau tenang saja. Kembalilah kepada Asmodeus, dan laporkan semua proses kita hingga saat ini, Baltazhar!" lanjut Astaroth dengan sikap serta intonasi yang terkesan angkuh dan sangat yakin atas ucapannya.


Laki-laki berambut hitam itu--saat ini tanpa mahkota hitam, kini perlahan berjalan masuk ke dalam tendanya yang berwarna hitam dan berukuran cukup besar dibandingkan tenda-tenda lain di sekitarnya. Baltazhar sendiri segera meleburkan tubuhnya menjadi gumpalan abu hitam, sebelum kemudian melenyapkan entitasnya di saat itu juga dalam kurun waktu yang sangat cepat.


***


Penjagaan ketat diberlakukan di Wilayah Mutiara, Perbatasan Selatan kedua dari Kerajaan Zephyra. Tidak hanya para prajurit dengan zirah perak dan memiliki beberapa logo elang berwarna emas di dada kirinya, melainkan prajurit-prajurit dari Kerajaan Victoria dan Kerajaan Lagarde juga hadir di sana. Wilayah Mutiara menjadi satu-satunya sisi akses antara Benua Selatan dengan Benua Tengah. Jika Pasukan Kegelapan hendak masuk menuju salah satu dari tiga kerajaan tersebut, maka mereka mau tidak mau harus melewati Tanah Zephyra terlebih dahulu.


Dari kejauhan tampak pos-pos penjagaan didirikan di setiap puncak bukit-bukit kecil yang ada di Wilayah Mutiara, tampak dari obor-obor yang menyala dari di atas bukit-bukit tersebut. Perkemahan juga didirikan dekat dengan Teluk Mutiara, beserta dermaga juga tampak dibangun di teluk tersebut. Beberapa kapal layar dengan bendera bergambar Naga Putih sedang bersandar di salah satu dermaga, dan para kelasinya yang tampak sibuk menurunkan kotak-kotak persediaan. Kapal tersebut adalah kapal suplai milik Kerajaan Victoria.


"Apakah hasil dari pertemuan di ibu kota adalah perang?" tanya Franz, berdiri di samping Kenan.


Kenan mengangguk kecil dan pelan, "ya, dengan hadirnya pasukan dari dua kerajaan sahabat di sini, maka hasil dari pertemuan itu adalah perang," ucapnya menjawab pertanyaan tersebut dengan intonasi rendah.


Di tengah perbincangan mereka, salah seorang awak kapal pria berjalan mendatangi Kenan dan menyerahkan sebuah lampiran catatan, "semuanya sudah diturunkan, lengkap tidak ada yang kurang."

__ADS_1


Kenan menerima lampiran catatan tersebut dan berkata, "terima kasih."


Beberapa saat setelah itu, ia bersama Franz berjalan pergi menuju pesisir teluk, seiring dengan perlahan perginya kapal layar dari Kerajaan Victoria setelah menghantarkan persediaan untuk para prajurit di sana.


"Aku merasa belum siap," ujar Franz cenderung memandang ke bawah dengan tatapan getir, sembari terus berjalan di sepanjang pesisir pantai yang tampak indah dengan pasir putihnya.


"Bukan hanya kau, aku pun juga. Dan kurasa kebanyakan prajurit yang ada di sini tidak akan ada yang siap," sahut Kenan, berbicara sembari menoleh dan memandangi banyak prajurit yang berjaga di dermaga.


Pandangan Kenan kemudian teralih menuju ke arah laut yang tampak tenang dengan gelombang rendahnya, dan tampak seperti cermin yang berperan memantulkan pemandangan indah langit malam di atasnya. Laki-laki berambut hitam itu menghentikan langkahnya tepat beberapa meter dari air laut, dan kemudian mulai berbicara, "perang terakhir yang terjadi adalah perang besar satu abad yang lalu melawan Bangsa Iblis, semenjak itu para prajurit kerajaan jarang sekali menghadapi pertempuran hebat seperti itu selain hanya menangani konflik-konflik lokal."


"Apakah sejarah benar-benar akan terulang kembali?" gumam Franz dengan intonasi yang terdengar gemetar, memandang ke arah laut--pemandangan yang sama dengan apa yang dilihat oleh Kenan.


Laki-laki berzirah perak Kerajaan Zephyra itu menggelengkan kepalanya dan menjawab, "tidak tahu, apakah ini pengulangan sejarah atau pengukiran sejarah baru."


Pemandangan serta suasana Teluk Mutiara yang sangat amat menenangkan, suara ombak yang selalu terdengar, dan angin berhembus dengan sangat kencang tanpa ada hentinya, membawa aroma laut yang dapat tercium dengan mudahnya. Pasir putih yang indah itu juga tampak bercahaya di bawah gelapnya langit malam bertabur bintang. Suasana tenang yang dapat menghanyutkan hati siapapun yang ada di pesisir teluk tersebut.

__ADS_1


__ADS_2