
"Berangkat!" seru Alaia.
Selesai mengemasi segala perlengkapan yang digunakan untuk bermalam di tengah hutan, sekaligus telah memadamkan serta membereskan api unggun yang sempat menyala. Altezza bersama ketiga rekannya kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ibu kota dari Kerajaan Neverley. Petualangan kembali berlanjut, menuju ke ibu kota sebelum kemudian Altezza akan memulai penyelidikannya mengenai Oasis Terkutuk--yang menjadi tujuan dari petualangannya saat ini.
Beruntung sekali Altezza bersama kelompok pengembara yang juga kurang lebih memiliki tujuan yang sama. Mereka juga berniat untuk mempelajari serta mencari tahu segala sesuatunya tentang mitos-mitos yang terkenal di Benua Timur, salah satunya adalah monster Basilisk yang mendiami Oasis Terkutuk.
Siang menjelang sore, di hari yang sungguh cerah. Altezza terus berjalan menyusuri hutan, menuju ke arah Timur. Kali ini perjalananya tidak membosankan, karena bersama ketiga rekan barunya, apalagi Alaia yang tampaknya tidak kehabisan bahan pembicaraan. Gadis berambut kelabu itu selalu ada saja hal yang dibahas di sepanjang langkahnya, mengajak Eugene dan Aaron berbicara, bahkan juga menarik Altezza untuk ikut ke dalam pembicaraan yang sebenarnya tidak terlalu penting.
"Pasti istana Kerajaan Neverley sangatlah megah dan luas," ujar Alaia dengan sikap serta intonasi riangnya, berjalan berdampingan dengan Altezza, dan di belakang Eugene serta Aaron yang memimpin jalan.
"Namanya aja istana, Alaia. Sudah pasti bangunan itu megah dan mewah," sahut Aaron, tersenyum menghela napas.
__ADS_1
"Aku jadi penasaran!" gumam gadis itu, masih lanjut dalam pembahasannya soal istana. Ia melipat kedua lengannya, dan kemudian tampak berpikir sembari bertanya-tanya, "kira-kira Putri Kiara itu sosoknya seperti apa?"
Aaron hanya diam, begitu pula dengan Eugene. Kedua laki-laki berambut pirang itu hanya diam sembari tersenyum kecil, membiarkan Alaia berbicara sendiri. Merasa tidak mendapatkan tanggapan dari kedua temannya, gadis cantik itu kemudian menoleh kepada Altezza yang berjalan di sampingnya dan melemparkan pertanyaan yang kurang lebih sama padanya.
Kedua iris mata indah berwarna kuning keemasan milik Alaia tampak bersinar dengan pupil mata membesar ketika menatap Altezza, "apakah kamu mengetahuinya, Altezza? Secantik apa putri itu?" tanyanya.
Dengan sikap santai dan tenang seperti biasa, laki-laki berambut hitam itu menjawab, "aku kurang tahu, tetapi yang ku dengar-dengar dia gadis tercantik di kerajaan itu dengan rambut bergelombang berwarna perak, dia terkenal sekali dengan rambut peraknya."
Langkah mereka berempat terus berjalan, melewati ribuan pohon yang cukup lebat beserta semak-semak yang sangat amat banyak. Sepanjang perjalanan di tengah hutan tropis tersebut, Altezza beberapa kali melihat berbagai fauna yang tinggal di dalamnya. Berbagai jenis tupai dengan corak-corak yang bermacam-macam, burung-burung indah, beberapa jenis rusa, anoa, dan beberapa hewan menggemaskan seperti Kukang akan tetapi memiliki ciri-ciri sedikit lebih kecil dengan kedua mata berkuran besar. Altezza bahkan sempat menghentikan langkahnya sejenak ketika melihat salah satu fauna khas dari Benua Timur itu.
"Oh, hewan ini namanya Airulops, dan dia adalah salah satu fauna khas dari negeri ini," ujar Eugene, mendekati Altezza yang tampak cukup terpana melihat hewan kecil berbentuk seperti beruang yang sedang hinggap di batang pohon di depan matanya.
__ADS_1
"Aku belum pernah melihat hewan seperti ini," ujar Altezza, tersenyum senang, menatap kedua mata hewan berbulu abu-abu itu yang berbentuk bulat dan berukuran cukup besar berwarna hitam, ditambah dengan ekspresi muka yang tampak polos sangat menggemaskan.
"Persebaran hewan ini hanya ada di Benua Timur, dan dia termasuk hewan yang dilindungi, ditambah dia adalah makhluk nokturnal dan sering sekali bertemu pemburu ilegal di malam hari. Maka dari itu populasinya kian menipis, dan kita termasuk beruntung bisa melihatnya ada di alam liar," ujar Eugene, kembali berbicara dan menjelaskan sedikit tentang hewan tersebut kepada Altezza.
"Kasihan ...." Alaia tampak sedih menatap hewan yang kebanyakan hanya diam saja meski bertemu dengan manusia, "apa aku boleh menyentuhnya?" tanyanya kemudian.
"Jangan ...! Biarkan dia, jangan diganggu!" sahut Aaron langsung melarang adik perempuannya.
Setelah melihat satwa liar dan langka tersebut, mereka kembali menakutkan langkah dan perjalanan mereka. Masih ada jarak yang sangat jauh untuk bisa mencapai ibu kota kerajaan, dan untuk sampai ke sana mereka perlu melewati beberapa wilayah terlebih dahulu.
Setelah berjam-jam berjalan, malam pun menjelang, kegelapan kembali datang menelan cahaya matahari. Suara serangga terdengar sangat nyaring seperti memenuhi setiap ruas di dalam hutan tersebut. Sejauh ini perjalananya terasa lancar dan baik-baik saja, akan tetapi Altezza sendiri merasakan perasaan yang sama dengan malam sebelumnya, hatinya kembali gelisah. Rindu akan kampung halaman, dan bertemu kembali dengan orang-orang yang ia cintai. Namun perasaan yang menyelimuti hatinya saat ini bukan hanya tentang rindu, tetapi kegelisahan seperti takut akan suatu 'hal' yang belum bisa ia pecahkan apa sebenarnya 'hal' itu.
__ADS_1