
Di balik gunung-gunung tinggi di sebelah Timur Laut dari Ibu Kota Neverley terdapat lautan pasir yang sangat amat luas, dan memiliki suhu yang cukup ekstrim. Di sepertiga malam menjelang pagi ini, suhu di padang pasir tersebut bisa sampai menyentuh angka nol derajat, berbanding jauh ketika siang karena dapat menyentuh angka 40 derajat bahkan bisa lebih.
Lautan pasir yang sangat amat tenang, dan sangat amat luas. Tidak ada bangunan sedikitpun di tengah-tengah lautan tersebut, juga tak ada pemandangan hijau seperti rumput atau pohon. Satu-satunya bangunan yang berdiri hanyalah kompleks pengawasan yang berada di wilayah pinggir lautan pasir--tidak terlalu tengah. Kompleks pengawasan tersebut didirikan di sana dengan tujuan untuk bisa terus mengawasi kondisi gurun, sekaligus meneliti apapun yang ada di dalamnya.
Terlihat cukup ada banyak pekerja yang ada di kompleks tersebut, terdiri dari beberapa peneliti profesional, dan beberapa prajurit yang berjaga. Mereka semua adalah orang-orang yang dimiliki oleh Kerajaan Neverley, bukan orang dari luar negeri tersebut.
Suasana malam menjelang pagi yang sungguh tenang, di atas lautan pasir dengan angin yang berhembus sangat kencang. Kompleks penelitian atau pengawasan tersebut tiba-tiba saja dikejutkan oleh sebuah bencana alam berupa gempa bumi. Gempa yang dapat dirasakan cukup besar, dan berhasil membuat panik beberapa pekerja yang menduduki kompleks tersebut. Beberapa pekerja sipil langsung dievakuasi ke dalam tempat berlindung.
Gemuruh suara tanah bergerak terus terdengar, dan guncangan yang cukup dahsyat itu berlangsung cukup lama, kurang lebih lima menit sebelum akhirnya perlahan memelan dan kembali tenang seperti semula. Hampir semua yang ada di dalam kompleks penelitian itu porak-poranda, kecuali bangunan utama yang masih berdiri kokoh.
"Tiba-tiba saja gempa, apa yang sebenarnya terjadi ...?" tanya salah satu peneliti berseragam jubah putih, berjalan dengan langkah cepat menuju ke dalam bangunan besar penelitian.
Langkahnya disusul oleh beberapa peneliti laki-laki lain, masuk melewati lorong, dan menuju ke ruang utama penelitian. Di dalam ruangan tersebut terlihat ada lebih dari sepuluh orang peneliti yang tampak sibuk dengan banyak buku dan kertas-kertas catatan. Mereka mencari informasi mengenai gempa yang sempat terjadi, dan itu terjadi dengan sangat tiba-tiba serta langsung dengan guncangan yang sangat kencang.
"Cari tahu soal bencana yang baru saja terjadi, di mana pusatnya terjadi, dan pengaruhnya sampai mana saja ...!" titah peneliti pertama kepada rekan-rekannya.
__ADS_1
Tidak lama setelah ia memerintahkan hal tersebut, seorang prajurit penjaga tiba-tiba saja masuk dan menemui dirinya dengan membawakan sebuah berita, "kami melihat sesuatu di tengah gurun, sosok yang sangat besar."
"Apa maksudmu!?" sahut si peneliti, tak percaya. Ia segera mempercepat langkahnya keluar dari bangunan tersebut, dan menuju ke atas menara yang berdiri tak jauh dari bangunan utama.
Pandangannya dan prajurit yang saat itu bersamanya langsung tertuju ke arah tengah-tengah gurun yang sangat amat gelap. Di kejauhan sana terlihat cahaya berwarna merah delima, bersinar dengan sangat menyilaukan. Akan tetapi cahaya merah tersebut tiba-tiba saja tertutupi oleh sesosok makhluk yang berukuran sangat besar. Meski tidak terlihat jelas makhluk apa itu, namun terlihat siluetnya yang berukuran sangat besar dan berbentuk seperti ular.
"Arah itu ... arah Oasis Terkutuk berada ...."
Peneliti laki-laki itu berbicara dengan kedua mata masih terbelalak, tak percaya dengan apa yang saat ini ia lihat dengan kedua matanya.
"Kirimkan laporan mengenai hal ini kepada istana, segera!" titah si peneliti kepada prajurit yang berdiri di sampingnya. Prajurit tersebut segera beranjak menuruni menara, dan melakukan apa yang dikatakan.
***
Dunia seakan diselimuti oleh kekuatan besar kegelapan yang perlahan melahap dari langit di wilayah Selatan. Langit gelap yang tampak terus mengamuk tanpa henti, suara menggelegar disusul berkali-kali kilatan petir berwarna biru di antara awan-awan hitam. Badai terjadi dengan skala yang cukup besar, hujan sangat lebat melanda Wilayah Mutiara. Cuaca yang sangat tidak bersahabat itu tetap tidak melunturkan penjagaan para prajurit di perbatasan tersebut. Mereka yang berjumlah lebih dari ratusan bahkan ribuan orang tetap berdiri tegap, menjaga beberapa benteng kayu serta mengisi menara pengawas yang didirikan di sepanjang perbukitan.
__ADS_1
Selatan, sangat luas sekali. Pemandangan yang seharusnya bukit-bukit serta hamparan rumput yang sangat amat luas dan indah, kini sulit untuk terlihat karena lebatnya badai pagi ini. Seorang penyihir kerajaan berjubah kuning keemasan yang berdiri di atas menara pengawas tampak melihat sesuatu di Selatan sana. Laki-laki berambut hitam itu sampai memicingkan kedua matanya, melihat adanya banyak pergerakan masif di Selatan yang tampaknya mengarah ke Utara--atau lebih tepatnya ke arahnya. Tak hanya itu, beberapa hutan yang ada di wilayah Selatan tampak runtuh rata dengan tanah, diratakan oleh pergerakan-pergerakan besar yang masih belum diketahui apa sebenarnya.
Burung-burung berjumlah sangat banyak lebih dari ratusan beterbangan, panik ketakutan, secara masif terbang cepat ke arah Utara hingga melintas tepat di atas kepala penyihir kerajaan tersebut. Merasa ada yang tidak beres, penyihir yang berjaga di atas menara tersebut kemudian menoleh, dan melambaikan satu tangannya ke arah seorang prajurit berkuda yang berada tepat di bawah menaranya.
"Terlihat pergerakan masif di Selatan, hutan-hutan runtuh oleh sesuatu yang besar!" teriak laki-laki ahli sihir tersebut di tengah suara hujan dan petir yang cukup kencang. Suaranya hampir saja tenggelam oleh suara-suara menggelegar serta derasnya air hujan.
Prajurit yang menerima informasinya langsung bergegas, tampak tergesa-gesa, menunggangi kuda hitam berzirahnya, menuruni salah satu bukit menuju ke perkemahan pasukan yang didirikan di dekat dengan desa dan teluk. Prajurit tersebut adalah prajurit milik Kerajaan Zephyra, terlihat dari lambang elang berwarna emas di dada kanan zirah yang ia kenakan.
Berkuda di antara tenda-tenda sementara di perkemahan tersebut, melewati banyak prajurit lain yang tampak sedang istirahat karena telah melewati malam yang cukup panjang, apalagi disambut oleh badai di pagi ini. Kuda hitam yang ia tunggangi perlahan memelan, dan berhenti tepat di depan salah satu tenda yang dijaga ketat oleh dua prajurit berzirah lain dan dua ahli sihir milik Kerajaan Zephyra. Tenda tersebut berukuran lebih besar daripada tenda-tenda yang lainnya.
Para penjaga di depan tenda memperbolehkan si prajurit berkuda untuk masuk, setelah ia mengikat kudanya pada salah satu kayu. Dengan langkah cepat dan tampak terburu-buru, ia masuk ke dalam tenda dan langsung bertekuk lutut di hadapan Raja Aiden sembari berkata, "izin memberikan laporan, Yang Mulia."
Raja Aiden yang tampak sedang berdiri di depan kursinya dan sibuk mengenakan jubahnya yang berwarna putih itu dibuat terkejut dengan kehadiran tiba-tiba salah satu prajuritnya. Tak hanya dirinya, Kenan yang saat itu berdiri tepat di sebelah kursinya juga berhasil dibuat terkejut.
"Katakan ...!" pinta Raja Aiden, selesai mengenakan jubahnya, masih berdiri di depan si prajurit yang saat ini berlutut di hadapannya.
__ADS_1
"Menara pengawas melihat pergerakan dari arah Selatan, pergerakan yang sangat masif. Tak hanya itu, pantauan dari menara pengawas juga melihat adanya banyak pergerakan besar yang menyebabkan hutan-hutan di sebelah Selatan runtuh," ucap prajurit tersebut, melaporkan hal itu kepada Raja Aiden.
Kedua mata sang raja tampak terbelalak, semakin dibuat terkejut dengan informasi yang baru saja ia terima dari salah satu prajuritnya yang ditugaskan untuk berjaga di pagar perbatasan. Raja Aiden langsung mengambil pedang miliknya yang bersandar tepat di sebelah kursinya, sebelum akhirnya ia bersama dengan kesatrianya yaitu Kenan, beranjak cepat pergi keluar dari tendanya, menerjang guyuran air hujan yang langsung membasahi seluruh tubuh sekaligus jubahnya hanya dalam sekejap.