
Di bawah terik matahari yang sudah terletak sedikit di sebelah barat. Altezza berjalan di hutan yang berada tak jauh dari Desa Blissville, terletak sedikit ke arah barat dari desa tersebut, dan terletak sedikit di lereng sebuah bukit. Dirinya berjalan mengikuti langkah dari Liam yang hendak menunjukkan letak dari proyek pertambangan yang dimiliki oleh pihak Kerajaan Lagarde. Apa yang dikatakan oleh Liam sebelumnya memang benar, hanya menghabiskan waktu kurang lebih lima menit, Altezza sampai di depan sebuah goa yang cukup besar dan sangat gelap bersama Liam.
Di mulut goa terlihat banyak sekali perancah yang didirikan di sisi kanan dan kiri. Melihat hal tersebut, Altezza merasa proyek yang dimaksudkan tidak berjalan dengan baik dan sempurna, atau tidak dilanjutkan lagi. Semua alat-alat serta perancah yang ada tampak terbengkalai begitu saja, bahkan dirinya juga tidak menyaksikan adanya orang atau pekerja di sana.
"Apakah semua ini ditinggalkan?" tanya Altezza kepada Liam. Perlahan dirinya melangkah semakin mendekati kegelapan.
"Iya, proyek pertambangan ini terakhir dikerjakan saat musim gugur, dan mulai terbengkalai sejak musim dingin kemarin." Liam menjawab pertanyaan tersebut, sempat melangkah mengikuti Altezza, namun kemudian terhenti tidak berani semakin masuk ke dalam goa.
Goa tersebut sangat gelap, dan Liam tidak membawa penerangan seperti api atau obor. Namun Altezza yang penasaran secara perlahan semakin melangkah menuju kegelapan, tanpa terlihat menyimpan rasa takut sedikitpun.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Liam, melihat Altezza sudah sedikit jauh beberapa langkah darinya ke depan.
"Memeriksa seperti apa dalamnya," jawab santai Altezza.
Liam tampak memberanikan diri, sekaligus dirinya tidak ingin kalah dari pemuda itu. Ia melangkah menyusul Altezza, dan mengikuti pengembara tersebut tepat di belakangnya. Tanpa merapalkan mantra, angin berhembus sedikit kencang dari luar menuju ke dalam goa, dan sempat menerpa Altezza serta Liam.
"Apa yang terjadi?" tanya Liam, tampak kebingungan sekaligus sedikit terkejut ketika merasakan hembusan angin tersebut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, angin itu ada di pihak kita," jawab Altezza, lagi-lagi dengan santainya.
Sangat gelap bahkan kedua mata Altezza tidak bisa melihat apapun dalam kegelapan tersebut, dan tidak ada penerangan sama sekali. Altezza menghentikan langkahnya sejenak, dan memejamkan kedua matanya secara perlahan. Liam ikut berhenti dan berdiri di belakang laki-laki itu, dan menatap bingung apa yang sedang dilakukan oleh pemuda tersebut.
Kedua iris mata berwarna hitam milik Altezza perlahan terbuka, dan secara perlahan berubah warna menjadi hijau muda bercahaya. Dengan memanfaatkan mata sihir yang ia miliki, Altezza bisa melihat sedikit lebih terang daripada sebelumnya. Dirinya bisa menyaksikan struktur bebatuan yang sangat rumit di dalam goa tersebut, dan kebanyakan bagian sudah terpecah bekas terkena pukulan beliung. Tak hanya struktur bebatuan rumit dan menarik yang dapat ia lihat. Altezza juga dapat melihat ribuan kelelawar yang tampak bergelantungan dan sedang tidur bersembunyi di balik kegelapan.
"Goa ini memang memiliki sumber daya yang sangat amat banyak dan berharga, namun tempat ini juga menjadi tempat tinggal atau sarang dari para kelelawar itu," ucap Altezza.
"Kelelawar? Namun aku tidak melihat mereka?" tanya Liam, mencoba untuk membuka lebar-lebar kedua matanya, namun dirinya tidak dapat melihat apapun selain hanya kegelapan yang sungguh pekat.
Ketika sudah berada di luar goa, kembali berdiri di mulut goa yang cukup besar itu. Liam bertanya, "lalu bagaimana agar para kelelawar itu tak mengusik pertanian dan pemukiman kami? Apakah kau ada saran?"
Altezza tampak sedang berpikir, kedua matanya memandangi banyak perancah serta beliung bekas yang dibiarkan begitu saja di sisi-sisi goa, sebelum kemudian memberikan jawaban, "aku berasumsi kalau mereka tidak nyaman karena banyaknya hal-hal buatan manusia yang sengaja ditinggalkan dan terbengkalai di rumah mereka."
Laki-laki berjubah hitam itu kemudian menatap Liam dan lanjut berkata, "mungkin aku bisa membantu agar pihak kerajaan mengurusnya."
Kedua mata milik Liam melebar, "sungguh? Kalau begitu, mohon bantuannya, Altezza ...!" ucapnya.
__ADS_1
Altezza mengangguk dan tersenyum kecil, "akan ku usahakan," ucapnya.
***
Setelah mengunjungi goa tersebut, Altezza kembali ke desa dan kembali ke kediaman kepala desa karena hari perlahan sudah mulai malam. Langit senja berwarna jingga terlihat sangat cerah. Dirinya memutuskan untuk membantu permasalahan yang menimpa pertanian di desa tersebut, apalagi mengingat salah satu mata pencaharian penduduk desa adalah hasil dari ladang pertanian mereka.
"Apakah anda sudah mengirimkan surat kepada kerajaan untuk mengusut tuntas kasus ini?" tanya Altezza, berdiri di halaman samping kediaman, dan tepat di sebelah dari sebuah kolam ikan kecil yang ada di sana. Ia tampak berbicara dengan Liam, dan ingin memastikan hal tersebut.
"Kemarin aku sudah mencoba untuk mengirimkan suratnya, namun sepertinya tak sampai karena aku mendengar kabar kalau kereta kuda pengiriman surat tiba-tiba saja kecelakaan di tengah perjalanan," jawab Liam, berdiri di samping Altezza.
Altezza terdiam, melipat kedua lengannya dan tampak berpikir, memikirkan bagaimana caranya dirinya mengirimkan sebuah surat untuk pihak Kerajaan Lagarde tanpa adanya kendala dalam tengah pengiriman berlangsung.
kiiyaa ~ kiiyaa ~
Tiba-tiba saja terdengar suara melengking yang tidak di kedua telinganya, berasal dari langit. Altezza mengangkat pandangannya, dan melihat sosok elang putih yang tampak sedang terbang bebas berputar di atasnya. Liam memandang ke arah yang sama, dan menyaksikan hewan unik tersebut dengan tatapan kagum, "ada elang? Tetapi di wilayah sini belum pernah ditemukan adanya elang," ucapnya.
Altezza tampak tersenyum, dan terlihat sangat senang, "dia datang untuk membantu kita," sahutnya.
__ADS_1