
Mematahkan sihir penghalang yang sangat besar dan luas, Aurora kembali melanjutkan perjalannya. Tidak sendirian tentunya, selalu ada Ruru yang hampir selalu melekat dan hinggap di pundaknya. Tempat ternyaman dan terfavorit si tupai kecil itu, apalagi ia dapat bersembunyi di balik rambut panjang indah berwarna putih milik Aurora. Gadis itu juga tampaknya tidak keberatan dengan keberadaan Ruru si tupai putih itu di sana.
Menarik napas panjang, dan kemudian menghembuskannya secara perlahan, itulah hal pertama yang dilakukan oleh Aurora ketika dirinya pertama kali menginjak tanah di Benua Tengah. Sejauh mata memandang tampak banyak sekali bukit serta gunung, namun semua itu tampak cukup gelap karena hari yang sudah menjelang malam.
"Aurora, kita pergi ke hutan itu, yuk! Aku lapar mau cari sesuatu yang bisa dimakan," cetus Ruru dengan bersemangat menunjuk ke arah Timur Laut dari posisi Aurora berdiri.
Kedua iris mata indah berwarna biru muda milik Aurora melihat ke arah yang ditunjuk oleh Ruru, dan dirinya mendapati adanya hutan di sebelah sana. Tanpa berbasa-basi, ia memutuskan untuk menuruti perkataan si tupai, dan melangkah menuruni bukit yang saat ini ia pijak menuju hutan tersebut.
Perjalanan yang tak terlalu panjang, namun terasa cukup melelahkan karena sepanjang perjalanannya Aurora sama sekali belum meminum atau memakan sesuatu. Ujian yang sangat berat semakin terasa ketika dirinya berhasil keluar dari tempat dingin tersebut. Ketika sampai di hutan yang sangat rindang dan gelap itu, Aurora segera mencari sesuatu yang dapat dikonsumsi di sana.
"Aku akan coba cari buah-buahan di atas pepohonan," ujar Ruru, melompat segera dan hinggap pada salah satu pohon, sebelum kemudian ia memanjat pohon tersebut.
Aurora melanjutkan langkahnya di tengah gelapnya hutan, sedangkan Ruru mengikuti atau lebih tepatnya memimpin jalannya melalui ranting-ranting pepohonan. Tupai berbulu putih itu tampak sangat lincah, melompat ke dahan dari pohon satu ke pohon yang lain sembari ia mencari sesuatu yang dapat dimakan.
"Sudah ketemu?! Apapun itu yang penting bisa dimakan!" seru Aurora sembari berjalan, ia juga tak mau kalah, dan berkali-kali memeriksa setiap tumbuhan serta semak yang dilewatinya, berharap salah satu tumbuhan tersebut adalah tumbuhan penghasil buah.
"Ketemu!" seru Ruru, dengan cepat menuruni batang pohon, dan membawakan sebuah biji pohon ek di kedua tangan mungilnya.
Aurora menghela napas berat, berkacak pinggang dan berkata, "Ruru, aku tahu itu bisa dimakan olehmu, tetapi kamu tidak lupa kalau aku ini seorang manusia, bukan?"
"Aku tahu, dirimu adalah bagian dari diriku, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi kita tetap berbeda, juga dalam jenis-jenis makanan yang dapat dikonsumsi. Terlebih aku ini cukup alergi dengan kacang atau biji-bijian," lanjut Aurora, tersenyum, menatap si tupai kecil yang saat ini berdiri di depannya--atau lebih tepatnya di dekat kedua kakinya.
__ADS_1
Ruru si tupai tampak sedikit memiringkan kepalanya ke kanan, menatap bingung dengan kedua mata bulat berwarna hitam yang tampak sangat menggemaskan, "begitu, ya ...? Maaf, aku lupa ...!" ucapnya, dan kemudian tertawa kecil tanpa dosa.
Aurora hanya menggelengkan kepala pelan, dan tersenyum melihat tupai kecil berbulu indah itu. Langkahnya kemudian kembali berlanjut, dan juga Ruru yang kembali memanjat serta melompat dari satu pohon ke pohon yang lain, membiarkan pelita aruntala menyinari bulu putihnya yang tampak indah.
"Aku mendengar gemericik air, sepertinya ada sumber air di dekat sini. Aurora, ikuti aku!" Ruru kembali berseru, memanfaatkan insting hewannya dan ketajaman pendengarannya. Ia merubah arahnya ketika melompat, sedikit berbelok ke arah kanan, dan kemudian diikuti oleh langkah Aurora di darat.
Tak berselang lama, mereka berdua akhirnya berhenti, dan menemukan sebuah sumber air berupa hulu sungai yang mengalir cukup deras menuruni lembah hingga ke hilir. Sungai tersebut tak terlalu lebar, namun menyimpan berbagai macam sumber daya seperti ikan dan alga di dasar sungai.
"Tempat yang cocok untuk beristirahat, bukankah begitu, Ruru?" tanya Aurora melipat kedua lengannya di atas dada, tersenyum senang setelah menemukan sumber air dan makanan dalam satu tempat.
Ruru yang berada di sebelahnya--tepatnya di sebelah kedua kakinya menjawab, "serahkan pembuatan perapian kepadaku, kamu tangkap saja ikan-ikan yang ada di sana!"
"Aku belum pernah mencoba menangkap ikan di alam liar, tetapi aku akan berusaha!" sahut Aurora, tampak optimis demi mengisi perutnya yang sudah keroncongan sedari tadi.
"Gunakan saja sihirmu untuk menyelamatkan ku ketika aku dalam masalah," jawab Aurora, sudah berdiri dengan kedua kaki menyentuh air tepian sungai, membuat terompah dan ujung dress-nya basah.
...
Anala tampak menyala sebagai pelita di antara gulita selain aruntala, dengan suara yang terdengar terus berkeretak dan menciptakan kehangatan di tengah suasana dingin angin malam di hutan tersebut. Di atas api unggun tersebut terdapat kayu-kayu yang disusun melintang, dan diletakkan dua ekor ikan sungai berukuran cukup besar yang tampak sedang dibakar.
Aurora menunggu dengan sabar, membolak-balikkan dua ekor ikan tersebut, memastikan agar semua bagian dari ikan itu matang dan layak dikonsumsi. Di tengah ia menunggu, Ruru mengambil sebuah topik pembicaraan dengan mengatakan, "kita sudah berada di Benua Tengah, tetapi kita tidak benar-benar di tengah."
__ADS_1
"Maksudmu?" tanya Aurora, menoleh dan menatap Ruru kecil di sebelahnya yang tampak duduk di atas sebuah batu yang berukuran tak lebih dari segenggam tangan orang dewasa.
"Benua Tengah terdiri dari beberapa bagian, dan bagian Selatan adalah pintu masuk yang kita lalui. Akan tetapi, posisi kita saat ini berada di sebelah Timur dalam Benua Tengah, atau bisa dikatakan kalau posisi kita saat ini berada lebih dekat dengan perbatasan Kerajaan Lagarde jika kita terus berjalan ke arah Timur Laut." Ruru menjawab pertanyaan tersebut dengan rinci, dan jelas.
"Astaroth dan pasukannya, berarti mereka tidak melewati wilayah ini?" cetus Aurora, menatap dengan penuh penasaran.
Ruru mengangguk, "ya, jika dari posisi ini kita berjalan ke arah Barat dan Barat Laut, maka kemungkinan besar kita akan bertemu dengan Astaroth beserta pasukannya."
"Bagaimana kamu bisa mengetahui lokasi mereka?" sahut Aurora, mengerutkan dahinya.
Ruru bangkit dari batu yang ia duduki, dan kemudian menuju ke arah langit Barat sembari berkata, "langit hitam dengan petir terus menyambar, tanda-tanda kegelapan berada."
Aurora sontak melihat ke arah yang sama, dan dapat menyaksikan dengan jelas bahwa langit di sebelah sana terlihat sangat gelap disertai banyak kilatan cahaya berada biru yaitu petir. Sangat berbeda dengan pemandangan langit malam yang saat ini berada tepat di atasnya, lebih banyak bertabur bintang dengan rembulan yang bersinar sangat terang.
"Apa rencanamu untuk esok, Aurora?" tanya Ruru kemudian, kembali duduk di batu yang sebelumnya ia duduki.
Pandangan Aurora perlahan tampak turun ke bawah, memandangi api unggun yang tampak menyala berwarna jingga kemerahan. Raut wajahnya tampak sangat bimbang, "satu-satunya negeri yang berkuasa di Benua Tengah ini adalah Kerajaan Zephyra, maka aku memutuskan untuk pergi ke sana."
"Mungkin saja aku bisa bertemu dengan Permata Alam di negeri itu," lanjut Aurora, perlahan menoleh dan menatap tupai kecil yang tampak duduk manis di dekatnya.
Ruru tersenyum, "aku akan terus bersamamu, Aurora! Sampai kita bertemu dengan Permata Alam itu!" ucapnya kemudian dengan penuh semangat dan optimis.
__ADS_1
"Tetapi sekarang, aku mau makan! Aku sudah lapar, apakah ikannya belum matang ...?!" lanjut Ruru, mengayunkan dengan cepat kedua kaki mungilnya, dan tampak tak sabar dengan ikan-ikan yang masih dibakar di atas perapian.