
Tampak asyik sekali dengan berbagai macam kuliner khas Timur, setelah Altezza menghabiskan jajanan pertama yang ia beli, dirinya mulai membeli jajanan kedua yang menarik perhatiannya. Laki-laki berjubah hitam itu tampak menghampiri salah satu kios yang sedang sibuk membakar banyak daging yang ditusukkan pada banyak kayu kecil. Aroma sedap mengundang Altezza untuk menghampiri kios tersebut, dan menyaksikan langsung proses pembuatan dari makanan yang menurutnya unik itu.
"Seperti barbeque tetapi tampilannya berbeda sekali," gumam Altezza tampak sedikit keheranan ketika menyaksikan banyak tusuk daging yang sudah dilumuri oleh bumbu seperti saus dan saat ini sedang dibakar.
Seorang wanita yang sedang membakar tusuk-tusuk daging tersebut menyadari kehadiran Altezza di antara banyaknya pelanggannya yang saat itu juga sedang mengerumuni kiosnya. Wanita berambut cokelat panjang itu tersenyum ramah dan bertanya, "apakah kamu mau membelinya, pengembara?"
"Tentu, berapa harganya?" sahut Altezza tampak antusias dan tertarik.
Wanita tersebut kemudian memberikan sebuah lembaran menu kepada Altezza, dan membiarkan laki-laki itu menentukan pilihannya. Ketika Altezza membaca isi dari menu tersebut, dirinya akhirnya mendapatkan jawaban dari rasa herannya di awal.
"Sate?" gumam Altezza, tidak pernah mendengar hal tersebut di negerinya. Tertera berbagai macam daging yang digunakan, dan semuanya berkualitas. Tidak ingin berbasa-basi lagi, ia segera menentukan pilihannya dan melakukan transaksi untuk mendapatkan makanan enak tersebut.
Sate yang dipesan oleh Altezza telah selesai, dan hanya memerlukan penyelesaian. Di atas sebuah bungkus kertas yang cukup tebal, wanita itu tampak menuangkan sambal kacang di atas tusukan-tusukan daging ayam yang sudah matang itu. Kedua mata Altezza tampak bekerjap-kerjap, menunggu, tidak sabar.
***
__ADS_1
Beberapa waktu telah berlalu, Altezza akhirnya bertemu kembali dengan sosok Eugene di tengah pasar raya yang ramai sekali di siang menjelang sore hari ini. Laki-laki berambut pirang itu tampak masam, tidak bersemangat, atau kecewa. Altezza menghampirinya dengan salah satu tangan membawa bungkus kertas berisikan sepuluh tusuk sate ayam--lima tusuk hanyalah tinggal kayunya saja alias sudah habis dimakannya.
"Mengapa mukamu masam begitu?" tanyanya, kemudian menyantap tusukan sate yang ke enam.
"Barang-barang antik di sini mahal sekali, terlalu mahal untuk bisa ku miliki," sahut Eugene, kemudian menghela napas dengan pandangan cenderung ke bawah. Altezza mendengar jawaban tersebut, dan masih lanjut menyantap yang ke tujuh.
Altezza menyodorkan bungkus kertas yang ia bawa dengan sisa tiga tusuk sate di dalamnya kepada Eugene sembari berkata, "kau mau mencobanya? Sate ini enak sekali."
"Sate?" gumam Eugene, menerima bungkus kertas tersebut. Wajah masamnya seketika berubah menjadi antusias--antusias dalam menyampaikan sejarah sepertinya. Laki-laki berambut pirang itu langsung berbicara, "sate seperti ini adalah makanan khas dari belahan dunia bagian Timur, atau lebih tepatnya sedikit ke arah Tenggara."
Seketika ekspresi wajah Eugene berubah, dari yang sebelumnya antusias untuk berbicara soal sejarah dari makanan tersebut, menjadi ketagihan dan langsung melahap tusuk kedua setelah yang pertama habis. Altezza hanya tertawa, tersenyum melihat temannya hampir sama sepertinya ketika pertama kali mencoba makanan tersebut.
"Oi!! Eugene!"
Dari antara keramaian orang yang ada di pasar raya tersebut, terdengar suara seruan yang memanggil nama Eugene dari belakangnya. Altezza menatap ke arah belakang Eugene yang berdiri di depannya, dan melihat dua orang laki-laki dan perempuan berlari kecil menghampiri sembari melambaikan tangan.
__ADS_1
"Apakah mereka temanmu?" tanya Altezza, menunjuk ke arah belakang Eugene.
"Hmm? Apwa?" sahut Eugene dengan mulut masih penuh daging. Ia kemudian menoleh ke belakang, dan menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.
Seorang gadis cantik dengan rambut bergelombang berwarna kelabu indah, dan kedua iris mata berwarna kuning keemasan datang menghampiri. Gadis itu berpakaian dress panjang selutut berwarna putih dengan ikat pinggang tampak terus membawa sebuah tongkat sihir berwarna emas. Tidak sendirian, ia ditemani oleh seorang laki-laki yang memiliki ciri-ciri sama seperti Eugene, berambut pirang dan bermata biru.
"Rupanya kalian di sini, pantas saja ketika aku sampai di perempatan kalian tidak ada," ujar Eugene sesaat setelah menelan makanan yang ada di dalam mulutnya, berbicara dengan kedua temannya.
"Wisata kuliner, Eugene. Kapan lagi bisa menikmati makanan-makanan khas Timur dengan harga murah di sini," sahut gadis berambut kelabu itu sembari tersenyum dengan sikap riang.
"Lagipula tampaknya kau juga sangat menikmatinya, Eugene. Tumben sekali," celetuk laki-laki yang bersama gadis itu, memandang Eugene dengan sedikit menyipitkan matanya.
Eugene tertawa, dan tanpa sadar dirinya telah selesai menghabiskan tusuk sate terakhirnya. Ketika sadar, dirinya tampak tercekat, langsung menoleh kepada Altezza yang kini berdiri di sampingnya dan berkata, "ma-maaf, aku menghabiskannya."
Altezza tertawa melihat sikap tersebut, "tidak apa-apa, santai saja."
__ADS_1
"Oh! Sebelumnya, perkenalkan! Yang saat ini bersamaku, dia adalah Altezza, pengembara dari Zephyra." Eugene langsung memperkenalkan sosok Altezza kepada kedua rekannya.