Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Laporan Tiba-tiba #34


__ADS_3

Tengah malam dengan suasana yang sangat dingin dan tenang. Langit malam dipenuhi oleh ribuan bintang di langit, hanya saja di malam ini tidak terlihat adanya cahaya bulan. Angin bertiup lembut dan perlahan, namun terasa dingin, bahkan mungkin lebih dingin daripada malam-malam sebelumnya.


Sebuah pelabuhan besar, dengan aktivitas yang seperti tidak ada waktu untuk beristirahat. Setiap waktu pasti ada saja kapal-kapal layar yang berukuran besar, berlabuh di setiap dermaga yang ada. Hanya saja jika di malam hari pelabuhan besar tersebut tidak terlalu padat atau ramai, tidak seperti saat di pagi hingga sore hari.


Pelabuhan tersebut adalah salah satu pelabuhan utama atau pelabuhan besar. Kapal-kapal yang berlabuh di sana rata-rata adalah kapal-kapal yang berasal dari luar negeri, menurunkan penumpang, atau bahkan menurunkan barang-barang dagangan bagi kapal-kapal dagang.


Di antara kesibukan orang-orang di pelabuhan tersebut. Terpantau terdapat pergerakan dari beberapa orang berjubah serta berpakaian serba hitam, memasuki wilayah pelabuhan, dan merapat ke sebuah gudang penyimpanan yang terletak di ujung pelabuhan.


Mereka bergerak dengan memanfaatkan gelapnya malam, melalui sela-sela pepohonan yang ada di luar pagar pelabuhan, dan menyusup masuk tanpa sepengetahuan penjaga yang ada.


Jumlah mereka tidak terlalu banyak, namun mereka tetap nekat menerobos pelabuhan meskipun dijaga oleh beberapa penjaga di sana. Ketika sampai tepat di belakang gudang yang sepertinya menjadi target mereka. Mereka mulai berpisah untuk memasuki gudang, beberapa mengambil sisi kanan gudang, beberapa sisi kiri, dan satu orang memanjat tanpa menggunakan alat apapun menuju ke atap gudang. Orang yang memanjat itu terlihat merapalkan sesuatu untuk kedua kakinya, sebelum kemudian ia benar-benar ringan layaknya kapas, dan dapat menempel dinding layaknya kadal.


Tidak membutuhkan waktu lama, mereka berhasil memasuki gudang, dan mengambil banyak barang dari dalam sana. Rata-rata yang mereka ambil adalah bahan makan, sebelum kemudian mereka juga merampas beberapa harta yang terlihat.


"Apakah kau sudah benar-benar memeriksa dan memastikan semuanya?" tiba-tiba saja terdengar percakapan antara beberapa penjaga di pintu depan gudang.


"Tentu saja," sahut seorang penjaga yang mendapat pertanyaan itu dari temannya.


Pintu depan gudang perlahan terbuka lebar, dan derap langkah kedua penjaga itu perlahan terdengar memasuki gudang dengan dua buah lentera yang mereka bawa. Begitu sunyi, tidak terlihat serta terdengar apapun di dalam gudang itu.


"Gelap sekali, kurasa kita harus meminta penerangan untuk di dalam gudang."


"Sepertinya begitu."

__ADS_1


Percakapan mereka berdua terdengar beberapa kali, dengan langkah yang semakin ke dalam gudang, melalui banyak sekali kotak-kotak kayu yang isinya adalah bahan makanan.


Namun sayangnya langkah mereka berdua harus dihentikan, dengan melesatnya dua buah belati hitam yang tiba-tiba saja terlempar dari balik kegelapan mengarah mereka.


Jleebb ...!!!


GUBRAAAKKK!!!


"A-apa?!"


Dari dua belati itu hanya mengenai satu orang penjaga, sedangkan yang satunya berhasil selamat karena sempat reflek menghindar. Penjaga yang selamat sempat melompat hingga membentur beberapa kotak kayu, sebelum kemudian ia berusaha untuk segera bergegas keluar.


"Penyusup!! Ada penyus--"


Craatt ...!!!


Langkah penjaga yang selamat baru saja sampai di ambang pintu masuk gudang. Namun sayangnya seorang pria bertopeng hitam dan berpakaian serba hitam tiba-tiba saja muncul di belakangnya, dan dengan sangat cepat menyayat leher milik penjaga tersebut.


"Terlambat ...! Mereka sudah mengetahui kehadiran kita di sini," cetus laki-laki lain dengan penutup wajah berwarna hitam seperti pakaiannya, melangkah dan berhenti tepat di belakang pria pertama.


"Kembali masuk ke hutan, untuk sementara kita bersembunyi terlebih dahulu! Bawa semua yang dapat kita bawa!" sahut pria itu, berjalan kembali ke dalam gudang, sebelum kemudian menghilang begitu saja ketika kembali menyentuh sisi gelap gudang yang tidak terkena cahaya bintang di malam ini.


***

__ADS_1


Pagi hari di istana yang megah dan sangat luas. Altezza bersama dengan saudaranya yakni Welt mendapatkan panggilan untuk berkumpul ke ruang singgasana Raja. Tentu hal tersebut dituruti oleh keduanya yang langsung bergegas secara bersamaan.


"Bukankah ini terlalu pagi?" cetus Altezza bertanya curiga sekaligus penasaran dengan apa yang sebenarnya Raja inginkan.


"Entahlah, kita ke sana saja terlebih dahulu," jawab Welt, tenang dan santai, menaati perintah tersebut tanpa keluhan.


Kedua pangeran itu berjalan bersama, melalui halaman serta taman kecil di tengah istana, dan kemudian menuju ke sebuah lorong yang akan membawa mereka ke ruang singgasana. Di dalam lorong tersebut terdapat beberapa persimpangan yang dapat membawa mereka ke sisi lain dari istana. Benar-benar istana yang sangat luas, bahkan orang baru mungkin bisa tersesat di dalamnya karena saking banyaknya ruang, lorong, persimpangan, serta bagian-bagian lain di istana.


Namun tidak membutuhkan waktu lama, langkah mereka berdua akhirnya sampai di depan pintu singgasana yang berlapiskan emas. Pintu tersebut dijaga oleh dua orang kesatria kerajaan, dan merekalah yang membukakan pintu berukuran besar itu.


Di dalam ruang singgasana, terlihat Raja yang sedang duduk di singgasananya bersama Ratu yang duduk tepat di sampingnya. Di bawah singgasana tersebut, tepatnya di sebelah sebuah karpet merah terlihat Clara yang berdiri di sana. Hanya ada mereka bertiga tanpa aparatur istana lain, namun di depan mereka bertiga dan di atas karpet merah itu, terlihat seorang prajurit laki-laki yang sedang berlutut tunduk di hadapan Raja.


"Ada apa ini? Tiba-tiba sekali," ucap Welt, menghampiri mereka, dan berdiri tepat di sebelah istrinya yaitu Clara. Sedangkan Altezza, terlihat ikut berdiri di sebelah saudaranya.


"Franz, laporkan apa yang terjadi!" titah Raja Aiden kepada prajurit yang berlutut serta tunduk di hadapannya.


Prajurit laki-laki bernama Franz itu menangkap kembali kepalanya, dan kemudian langsung menuruti apa titah dari Rajanya.


"Salah satu gudang pangan yang ada di Pelabuhan Ormos, tepat tengah malam tadi mendapatkan serangan dari para penyusup, dua orang penjaga tewas di tempat, dan mereka berhasil melarikan diri ke arah hutan."


"Ciri-ciri mereka berpakaian serba hitam, menutupi hampir seluruh tubuh kecuali kedua mata, dan rata-rata mereka menggunakan senjata tajam seperti belati."


"Pakaian serba hitam, dan belati?" gumam Altezza, mengerutkan dahinya, melipatkan kedua lengannya, dan pandangannya tertunduk, berpikir-pikir setelah mendengar laporan tersebut.

__ADS_1


Welt melirik saudaranya, dan menyadari kalau Altezza sedang berasumsi banyak hal di dalam benaknya. Terlebih ketika ciri-ciri pelaku disebutkan, Altezza seperti orang yang sedang menebak-nebak sesuatu yang sangat ia yakini kebenarannya.


__ADS_2