
Berada di dapur belakang gereja, terlihat beberapa biarawati yang tampak sibuk menyiapkan hidangan makan siang untuk anak-anak yang ada di sana. Dapur yang sangat sederhana, rata-rata peralatan dapur yang ada di sana terbuat dari kayu, bahkan piring dan cangkirnya pun dari kayu. Altezza juga ikut berada di sana, di dalam dapur yang tidak terlalu besar itu, dan membantu Alia beserta beberapa biarawati yang lain.
Hanya ada lima biarawati termasuk Alia yang ada di gereja tersebut, dan satu orang pastur yakni Keiza. Namun mereka terlihat selalu tersenyum dan senang, apalagi ketika momen kebersamaan saat mempersiapkan makanan. Altezza dapat menyaksikannya dari mata serta ekspresi wajah para biarawati di sana ketika memasak dan meracik bumbu.
"Kamu rupanya cukup terbiasa juga dalam memotong semua selada itu," cetus Alia, menghampiri Altezza yang tampak sedang asyik memotong beberapa selada dan jenis sayuran lain seperti tomat dan acar.
"Ini bukanlah hal yang menyulitkan, sih," sahut Altezza sembari tersenyum.
Alia kembali ke tungku yang sudah tampak membara dengan sebuah panci di atasnya, sebelum kemudian panci tersebut diisi dengan beberapa irisan kentang yang telah dikupas serta dibersihkan oleh seorang biarawati lain. Perempuan berambut pirang itu tampak berbicara beberapa hal dengan temannya, sebelum kemudian ia meraih sebuah centong untuk memastikan semua kentang yang sedang direbus.
Tidak membutuhkan waktu lama, Altezza telah selesai memotong beberapa sayuran berwarna hijau, dan kemudian memberikannya kepada seorang biarawati yang berdiri di belakang tungku api yang berada dekat dengan Alia. Biarawati berambut pirang yang sama seperti Alia itu tampak sedang memanaskan minyak di atas pancinya. Setelah minyak yang ada di atas panci tersebut panas, tampak ia mulai menumis bawang putih dan bawang bombay hingga seisi dapur beraromakan khas kedua jenis bawang tersebut, harum.
"Terima kasih," ucap biarawati tersebut setelah menerima satu keranjang berisikan sayuran hijau yang telah dipotong-potong oleh Altezza.
Alia selesai merebus semua kentangnya, dan kemudian membawanya ke atas meja dapur untuk mulai memotong kentang tersebut. Altezza kembali ke meja dapur, mendekati Alia, dan ikut membantunya dalam memotong semua kentang rebus tersebut.
"Mau diapakan semua kentang ini?" tanya Altezza sembari memotong semua kentang tersebut berbentuk dadu.
"Ini akan disandingkan dengan sup yang sedang kita buat, anak-anak sangat menyukainya," jawab Alia sembari tersenyum dan memotong.
__ADS_1
Altezza sempat menoleh sejenak, dan melihat tiga biarawati di belakangnya yang tampak mulai memasukkan beberapa racikan bumbu dan sayuran yang telah ia potong ke dalam satu panci. Selain itu, mereka juga tampak memasukkan kentang lain yang telah dikupas dan dipotong ke dalamnya, dan ditambah dengan kuah kaldu hingga menciptakan aroma yang sungguh menggoda, harum dan sangat menggugah selera makan. Selain menu atau hidangan utama, mereka juga memasak lauk seperti tempe dan tahu yang cocok untuk disandingkan dengan menu utama sup tersebut.
...
Selesai memasak hidangan makan siang, Alia bersama dengan Altezza membawa dua mangkuk berukuran cukup besar, dan menyajikannya di atas sebuah meja makan panjang. Anak-anak yang sudah menunggu di sana bersama Keiza tampak sangat senang sekali, mereka tidak sabar, dan sudah siap dengan mangkuk dan piring mereka masing-masing di atas meja.
"Hati-hati, supnya masih panas ...!" ujar Alia.
"Lulu, tunggu sebentar, ya ...!" cetus Keiza menatap ke arah seorang gadis kecil berambut kemerahan yang duduk tepat di sebelah Arthur. Ia tampak tidak sabar, dan hampir mendahului teman-temannya untuk segera menyantap.
"Hehehe ...!" Lulu hanya tertawa kecil dan tersenyum.
Setelah semua hidangan sudah berada di atas meja makan tersebut, para biarawati termasuk Alia kemudian menempati posisi duduk mereka di kursi kayu yang panjang. Para biarawati yang ada di meja makan juga terlihat membantu untuk mengambilkan makanan dari mangkuk besar ke mangkuk kecil milik mereka, sebelum kemudian Keiza menunjuk salah satu anak untuk doa sebelum makan.
"Sebelum kita makan, aku ingin menunjuk Arthur untuk memimpin doa sebelum makan." Keiza yang duduk di ujung meja makan berbicara dengan sikapnya yang lembut seperti biasa, menujuk Arthur sebagai pemimpin doa.
"Aku ...?!" Arthur terlihat sedikit terkejut, menuju dirinya sendiri dengan salah satu jari telunjuknya dengan tatapan bertanya-tanya.
Keiza tersenyum dan mengangguk, begitu pula debgan Alia dan Lulu yang duduk tepat di sebelah Arthur. Bocah laki-laki itu pun melakukan tugasnya, mengatupkan kedua tangannya di atas dada, dan kemudian memejamkan matanya sembari mengucap, "Ya Tuhanku, berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepada kami ini, dan peliharalah kami dari siksa neraka."
__ADS_1
"Amin," sahut anak-anak, para biarawati, termasuk Altezza yang duduk bersebrangan dengan Arthur.
"Selamat makan!" seru anak-anak itu dengan gembiranya, mengambil sendok dan garpu mereka, sebelum akhirnya mulai menyantap sup kentang sayur mereka masing-masing yang masih hangat.
Altezza menyendok sup miliknya, dan lidahnya seolah langsung termanjakan oleh kental serta nikmatnya kuah kaldu dari sup tersebut. Dirinya tidak menyangka ada menu masakan yang sangat sederhana seperti ini, namun memiliki cita rasa yang sangat amat memanjakan lidah.
"Bagaimana? Enak?" tanya Alia, menatap Altezza di hadapannya yang terlihat tenggelam dalam kenikmatan sup tersebut.
"Aku tidak menyangka akan seenak ini," ujar Altezza sembari tersenyum.
"Enak!!!" seru Lulu, begitu pula dengan anak-anak lain.
"Kak Alia, aku mau tambah, dong! Boleh nggak?" cetus Arthur, mengangkat mangkuknya yang sudah kosong.
"Eh?! Cepat sekali!" cetus Keiza menatap tidak menyangka akan secepat itu Arthur menghabiskan supnya.
Alia menerima mangkuk milik Arthur dengan senyumannya, dan kemudian mulai mengisi ulang sup untuk bocah laki-laki itu, "pelan-pelan makannya, ya ...! Jangan terburu-buru, nanti bisa tersedak," ucap Alia sembari mengingatkan.
"Baik!" sahut anak-anak yang ada di meja tersebut dengan antusias serta sikap riang mereka.
__ADS_1
Altezza berada di antara kebahagiaan mereka semua yang ada di meja makan ini, dan berhasil dibuat tersenyum dengan pemandangan hangat nan harmonis tersebut. Mereka tampak bahagia meski hidup penuh dengan kesederhanaan dan kecukupan, tidak perlu sesuatu yang megah dan mewah untuk bisa menciptakan suasana harmonis seperti itu.