
Di tengah kegelapan malam, pangeran pertama Kerajaan Zephyra yakni Welt secara tiba-tiba kesulitan untuk tidur. Ia sudah berada di kamarnya, dan telah menggunakan pakaian santai serta siap untuk beristirahat malam ini, bahkan istrinya saja yakni Clara terlihat sudah nyenyak di atas ranjang dan di balik selimut tebal berwarna putih itu.
Perasaan aneh menyelimuti hatinya, gelisah, takut, dan seolah sedang mencemaskan sesuatu. Perasaan tersebut bercampur menjadi satu, tanpa ada alasan yang jelas, bahkan Welt sendiri tidak tahu sedang gelisah atau takut atau mencemaskan apa dan siapa. Perasaan-perasaan tersebut menghantuinya secara tiba-tiba, dan membuatnya kesulitan untuk tidur malam ini.
Welt memutuskan untuk beranjak pergi dari kamarnya, menyusuri lorong sebelum kemudian naik ke lantai tiga istana, dan menuju ke ruang kerjanya. Di ruang kerja yang sangat dingin, sunyi dan gelap itu. Pangeran pertama menghampiri meja kerjanya, dan kemudian mengambil sebuah bola sihir yang terbuat dari kristal kecil dari dalam laci meja.
Kedua mata Welt terbelalak terkejut, menyaksikan bola sihir yang seharusnya berkilau terang, seketika berubah menjadi gelap dan sangat pekat. Aura gelap yang sangat pekat sungguh terasa, dan kini menyelimuti bola kristal tersebut secara keseluruhan.
"Ada apa ini ...?! Tidak sewajarnya bola ini berubah hitam!?" gumam Welt, tampak sangat bingung dengan kondisi bola kristal miliknya.
Pangeran itu meletakkan bola sihir miliknya di atas meja, dan kemudian beranjak mencari sebuah buku di antara banyaknya buku yang ada di rak tepat di belakang meja kerjanya. Satu dua bagian ia lewati, tiga dan hingga bagian ke empat baru laki-laki itu menemukan buku yang ia cari-cari. Sebuah buku dengan sampul berwarna hitam pekat, tidak ada judul buku sama sekali, hanya hitam pekat dan polos. Buku tersebut juga cukup tebal, memiliki lebih dari 300 halaman.
Welt meletakkan buku itu di atas meja kerjanya, dan segera membuka dan mencari satu di antara ratusan halaman tersebut. Dirinya menemukan sebuah kalimat yang menjadi jawaban atas pertanyaan serta kebingungannya dengan berubahnya bola sihir itu secara tiba-tiba menjadi hitam pekat. Halaman yang memiliki sebuah gambar bola sihir yang sama dengan miliknya, dan memperlihatkan perubahan bola sihir tersebut dari yang awalnya mengkilat terang berubah menjadi gelap kelam.
"Bola sihir milik istana berubah hitam pekat, dan sangat gelap nan kelam, menjadi pertanda akan datangnya kegelapan dan hari kehancuran yang tidak pernah ada yang tahu kapan itu akan terjadi. Pangeran kegelapan telah bersiap mengancam berbagai bangsa di muka bumi ini," tulis salah satu kalimat yang ada pada halaman tersebut.
__ADS_1
"Kegelapan? Hari kehancuran? Pangeran kegelapan? Tidak mungkin, bukan?!" gumam Welt, tidak langsung percaya dengan apa yang ia baca, meskipun kejadian yang dijelaskan pada buku tersebut persis dengan apa yang dialami oleh bola sihir miliknya. Tanpa berpikir panjang lagi, Welt segera membawa bola sihir tersebut dengan buku itu beranjak keluar dari ruang kerjanya.
Welt pergi dari kantornya, menuruni anak tangga yang membawanya ke lantai dasar, dan kemudian menuju ke bangunan kedua dari istana. Melalui halaman serta taman tengah, menuju ke sebuah lorong di persimpangan pertama, dan langkahnya akhirnya membawa dirinya ke perpustakaan istana. Pintu perpustakaan istana tetap dijaga oleh dua orang penjaga dengan zirah besi menutupi seluruh tubuh, mereka menundukkan kepalanya ketika melihat kehadiran Welt, sebelum akhirnya Welt membuka pintu perusahaan tersebut dengan sihir dan masuk ke sana.
"Selamat malam, Yang Mulia." Seorang laki-laki berseragam penjaga perpustakaan tampak menyambut kedatangan Welt dengan menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
"Malam, Al." Welt menyapa balik laki-laki bernama Al itu.
"Ada apa gerangan yang membuat anda mengunjungi perpustakaan tengah malam seperti ini? Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Al, mengangkat kembali kepalanya.
"Baik, jika anda membutuhkan saya, silakan panggil saja, saya ada di meja depan," ucap Al. Welt hanya mengangguk sebelum kemudian ia beranjak menuju anak tangga.
Bagian terlarang lantai dua perpustakaan istana. Welt berjalan di antara rak-rak buku yang amat besar tinggi menjulang di bagian terlarang itu, dan kemudian mencari buku yang hendak ia baca. Sebelum mencari buku, ia meletakkan sejenak bola sihir berwarna gelap dan buku bersampul hitam yang ia bawa dari kantornya di atas sebuah meja panjang yang ada di salah satu tepi rak buku.
Welt mengambil salah satu dari sekian banyaknya buku yang ada di rak, dan kemudian meletakkannya di atas meja panjang tersebut. Sebuah buku dengan sampul berwarna hitam pekat, tanpa judul, namun bagian depan sampul buku itu terdapat sebuah motif bintang lima sudut kecil yang ada di bagian bawah, serta gambar siluet elang berwarna hitam dengan ukuran kecil juga tetapi posisinya berada di bagian atas sampul.
__ADS_1
Pangeran pertama itu langsung membuka halaman-halaman buku tebal tersebut, sampai pada halaman yang ia cari, dan kemudian membaca banyaknya tulisan yang tertulis di sana.
"Bola kristal sihir istana berubah menjadi hitam," gumam Welt, mencari hal tersebut di antara banyaknya kalimat yang ada pada halaman tersebut.
"Hitam pekat, pertanda kegelapan akan datang."
"Namun di lain kalimat mengatakan ini hanyalah sebuah pertanda suatu negeri akan memasuki masa yang sulit karena musim dingin yang akan datang."
Mulut Welt tak bisa berhenti berbicara, membaca, dan terus bergumam. Laki-laki itu tampak berusaha untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, karena jawaban-jawaban yang ia temukan pada halaman ini sangatlah rancu dan bisa mengacu ke berbagai hal. Namun di tengah ia membaca, bola kristal sihir yang ada di sampingnya tiba-tiba saja berubah kembali secara perlahan ke warna semula, putih dan mengkilat.
"Apa sih yang sebenarnya terjadi?! Benar-benar membingungkan!!" gusar Welt, kesal merasa dipermainkan oleh keadaan yang berubah-ubah, terlebih banyak tafsiran mengenai berubahnya bola sihir tersebut menjadi hitam yang semakin membuatnya bingung.
Namun ketika ia kembali membolak-balikkan halaman buku tersebut. Welt menemukan sebuah kalimat yang menarik perhatiannya, mengenai seekor elang hitam, dan ini mungkin berkaitan dengan pengelihatan yang menunjukkan adanya seekor elang hitam dengan aura jahat yang terbang di atas sihir angin hebat milik adiknya yakni Altezza beberapa waktu sebelumnya.
"Elang hitam, akan tampak seperti elang biasa di mata orang awam, namun akan terlihat menyimpan aura kegelapan jika dilihat menggunakan mata sihir. Elang hitam sendiri menjadi pertanda akan datangnya hal-hal buruk untuk suatu negeri yang dia sambangi. Ciri-ciri yang sangat identik adalah elang tersebut sangat tertarik dengan intensitas sihir alam dan sihir-sihir tingkat atas yang berkaitan dengan alam," tulis kalimat yang menarik perhatian Welt ketika membuka beberapa halaman setelahnya.
__ADS_1