Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Berkeliling Istana #30


__ADS_3

Tepuk tangan terdengar dari para pelayan dan keluarga kerajaan termasuk Caitlyn yang menyaksikan bagaimana menakjubkan pasangan itu berdansa. Bianca terlihat sangat terkejut mendengar serta melihat ternyata sudah banyak orang di aula, dan mereka semua melihat bagaimana dirinya berdansa dengan Altezza. Gadis itu seolah seperti orang yang baru tersadarkan setelah terkena hipnotis, hanyut ke dalam ritme serta dansa yang dibuat oleh Altezza yang tidak pernah melepas kontak mata dengan dirinya sepanjang dansa, dan dirinya juga seolah terkena hipnotis itu, terus menatapnya dalam-dalam. Namun ketika selesai, perempuan itu baru sadar bahwa ternyata dirinya berada di tengah-tengah aula bersama dengan Altezza, dan semua orang istana melihatnya.


Altezza hanya tertawa setelah dansanya bersama Bianca berakhir, terlebih menyadari betapa imutnya wajah Bianca yang sangat merah tersipu, berdiri dan seolah sedang bersembunyi di belakang tubuhnya karena malu.


"Sungguh menakjubkan, tidak buruk untuk pengalaman pertama kalinya, Bianca." Caitlyn berbicara kepada Bianca yang berdiri sedikit di belakang Altezza, dan kemudian tersenyum padanya.


"Te-terima kasih, Yang Mulia." Bianca tersenyum manis, menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang cukup merona.


Clara juga ikut memuji Bianca yang tampil menakjubkan dan sangat indah ketika berdansa dengan adik iparnya, "kalian serasi banget!"


"Sayang, kita juga tidak boleh kalah! Ayo, kita juga harus berlatih untuk besok!" lanjut Clara dengan sangat antusias, menoleh kepada Welt suaminya yang berdiri tepat di sebelahnya, dan kemudian mengajaknya untuk praktek dansa sama seperti yang dilakukan oleh Altezza dan Bianca.


Welt hanya tersenyum, dan menuruti kemauan istrinya, beranjak ke sisi aula tempat awal Altezza dan Bianca memulai dansa mereka. Ketika berjalan melewati Altezza, laki-laki itu sempat berbicara dengan nada berbisik, "itu baru adik ku! Kerja bagus!" kepada adik kandungnya. Namun Altezza hanya tersenyum, tidak berkata atau menanggapi lebih.


"Sepertinya kalian berdua sudah siap untuk besok," ucap Aiden, tersenyum senang, kemudian berakhir memandang ke arah putra bungsunya.


"Semoga," sahut Altezza, kemudian sempat menoleh dan tersenyum kecil kepada Bianca yang berdiri tepat di sebelahnya.


Di saat yang bersamaan, terlihat satu orang pria dengan zirah besinya, dan satu lagi wanita dengan pakaian pelayannya. Mereka berdua berjalan menghampiri, dan berbicara kepada Aiden, menyampaikan suatu persoalan yang memerlukan peran serta kehadiran Raja tersebut.

__ADS_1


"Ya sudah, kalian lanjut dahulu, ya! Sepertinya ada yang harus ku selesaikan terlebih dahulu," ucap Aiden, sebelum akhirnya beranjak pergi dari aula tersebut bersama dengan salah satu penjaga istana itu.


Setelah Aiden benar-benar sudah beranjak dari aula tersebut, pergi menuju pintu depan istana. Caitlyn kemudian menoleh dan berkata kepada putra bungsunya, "sepertinya ibu juga harus pergi terlebih dahulu, ibu lupa untuk menyiapkan beberapa hal untuk besok."


"Altezza, ajak Bianca berkeliling! Nanti ibu akan temui kalian di taman samping, ibu ingin berbincang dengan Bianca," lanjut Caitlyn, kemudian tatapannya tertuju kepada Bianca yang hanya diam menyimak pembicaraan mereka, dan tersenyum kepada gadis manis itu.


"Baik, Yang Mulia," ucap Bianca, tersenyum manis, dengan pandangan tertunduk.


Altezza pun mengajak perempuan itu bersamanya, berkeliling dan melihat-lihat istana yang sangat besar dan luas itu. Pertama-tama ia mengajak Bianca untuk melihat halaman belakang, salah satu tempat kesukaannya, menghabiskan waktu untuk membuang-buang tenaga seperti berlatih pedang ataupun meluapkan sihir.


"Mereka berdua terlihat sangat sibuk, ya?" ucap Bianca, berjalan bersama dengan laki-laki itu, melalui lorong yang menjadi jalan pintas untuk menuju ke halaman belakang.


Tidak lama kemudian, langkah mereka berdua sampai di halaman belakang istana. Tempat yang sangat luas sekali, bahkan terbagi menjadi dua bagian, bagian taman yaitu bagian yang sangat dekat dengan pintu belakang istana, dan bagian lapangan berlatih yang juga sangat luas. Tempat atau halaman tersebut terlihat sangat sepi, sunyi, dan cukup gelap, hanya ada beberapa lampu penerangan taman yang mempercantik penampilan taman di halaman tersebut.


"Tidak ada yang istimewa, karena memang halaman ini lebih sering digunakan untuk berlatih." Altezza berbicara sembari berjalan di antara taman bunga yang ada bersama dengan Bianca.


"Tetapi ini sangat luas sekali, Yang Mulia. Kurasa ini melebih luasnya taman yang ada di kota," sahut Bianca, pandangannya menatap kagum betapa luasnya tempat tersebut.


Altezza mengangguk menjawab, "ya, mungkin ... tiga sampai empat kali lipat lebih luas daripada taman pusat kota."

__ADS_1


"Kurasa ... perpustakaan kerajaan bisa muat jika dibangun di sini," gumam Bianca.


Mendengar hal tersebut, Altezza hanya tertawa kecil, terlebih melihat betapa manisnya paras Bianca yang terlihat cukup terkesan. Di tengah perbincangan mereka, angin tiba-tiba saja berhembus cukup kencang, menerpa mereka berdua, dan di saat yang bersamaan Shiro datang dari antara pepohonan yang ada di seberang lapangan.


Bianca cukup terkejut dengan Shiro yang tiba-tiba saja terbang mendekat, namun kedua matanya memandang kagum elang tersebut, terlebih ketika elang itu mendarat dan hinggap di atas lengan kiri milik Altezza.


"Bisakah aku memegangnya?" tanya Bianca, terlihat antusias dan sangat senang.


"Tentu saja! Dia jinak, kok." Altezza tersenyum menjawab pertanyaan tersebut.


Secara perlahan Bianca mengulurkan tangan kanannya, mendekatkan dan berusaha untuk menyentuh elang berwarna putih itu. Ketika sudah sangat dekat, Shiro tiba-tiba saja bergerak menyandarkan kepalanya tepat di telapak tangan milik Bianca seolah minta dielus.


Bianca tertawa kecil, terlihat asyik menyentuh bulu lembut berwarna putih itu, "dia manja sekali, benar-benar keluar dari karakteristiknya sebagai pemangsa," ucapnya.


"Namanya siapa?" lanjut Bianca, menatap Altezza di hadapannya dan bertanya demikian.


"Karena bulunya putih, jadi aku menamainya Shiro. Dia memang elang yang unik, dan salah satu keunikannya adalah manja dan suka sekali bila disentuh oleh perempuan." Altezza menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus teringat di hari pertama ketika ia membawa Shiro ke istana. Di hari itu ibundanya sempat menyentuh Shiro, dan Shiro terlihat sangat menyukainya walaupun dalam keadaan salah satu sayapnya terluka.


Setelah Altezza memberikan jawaban tersebut. Shiro terlihat seolah mengerti dengan yang dikatakan oleh pemiliknya, ia menanggapinya dengan mendengkur manja ketika mendapatkan sentuhan hangat dari Bianca, dan mengeluarkan suara-suara tinggi namun terkesan lembut serta tidak memekakkan telinga dengan menoleh menatap ke arah Altezza.

__ADS_1


Beberapa menit telah dilalui oleh mereka berdua, dan Altezza memutuskan untuk lanjut mengajak gadis itu berkeliling istana. Masih ada beberapa tempat yang ingin ia tunjukkan, dan sepertinya tempat-tempat itu akan disukai oleh Bianca. Halaman tengah istana, halaman belakang, beberapa menara istana, dan masih banyak lagi. Namun salah satu dari beberapa tempat itu yang sepertinya akan sangat disukai oleh Bianca adalah perpustakaan istana, tempat buku-buku yang tidak disediakan di perpustakaan kerajaan.


__ADS_2