Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Angin yang Membisu #129


__ADS_3

Malam yang sungguh tenang, suara jangkrik tidak berhenti terdengar. Altezza duduk dengan tenang di atas menara pengawas yang terletak tidak jauh dari gerbang Desa Arcadia, sendirian. Pandangan Altezza tidak jauh-jauh dari puncak bukit yang ada di sebelah Barat dari desa tersebut. Di atas bukit itu terlihat makhluk berwarna biru yang disegel, dikekang oleh sebuah rantai sihir berwarna kuning keemasan. Saking besar ukurannya, seekor anjing berkepala tiga itu tampak sebanding dengan ukuran dari sebuah gudang perkakas tani yang terlihat dari kejauhan.


Sejauh ini tidak terlihat pergerakan berlebih dari si anjing yang kebanyakan hanya bisa terduduk dengan tenang, dan masih dalam keadaan mendengkur alias tertidur. Di sekitar Desa Arcadia tampak dijaga ketat oleh penjaga setempat, dijaga oleh banyak Elf dan Manusia Setengah Binatang dengan persenjataan seadanya.


Sembari menunggu sesuatu terjadi, Altezza berdiri di atas menara itu sembari mengangkat salah satu telapak tangannya sejajar dengan dada, dan perlahan menciptakan sebuah pusaran angin yang terpusat pada telapak tangannya. Angin tersebut berhembus dengan sangat lembut, berpusat di atas telapak tangannya, dan beberapa kali mengelilingi pergelangan tangannya.


Ketika sihir angin tersebut tercipta, laki-laki berambut hitam itu tiba-tiba saja berbicara dengan sendirinya, "apakah kau bisa mendengarku, Aerin?" tanyanya dengan intonasi rendah.


Aerin, angin yang sering mengajak Altezza untuk berbincang hingga membuatnya harus memberikan nama untuk angin tersebut. Akan tetapi untuk kali ini, Aerin tidak hadir. Tidak ada respons jawaban yang terdengar dari dalam benaknya. Pertanyaan tersebut tidak digubris.


Altezza menghela napas, kecewa sekaligus menyimpan perasaan cemas. Perlahan ia menurunkan telapak tangannya, melepas sihir angin yang sempat ia ciptakan, dan berakhir dengan memandang langit malam yang tampak sangat gelap tak ada bintang ataupun cahaya bulan sedikitpun.


"Ada apa? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Tidak biasanya ini terjadi," Altezza berbicara dengan sendirinya, melepas unek-unek kebingungan yang hampir selalu merundung hatinya di saat malam tiba.


"Tidak ada Shiro di saat hatiku membutuhkannya, begitupula dengan Aerin. Ini benar-benar berbeda, sangat janggal, tidak seperti biasanya ...!" lanjut Altezza, tidak melepas pandangannya ke arah langit dan lanjut mengutarakan sebuah doa atau harapan, "semoga tidak terjadi hal yang buruk."


"Pe-permisi, apakah aku sedang mengganggu waktumu, Altezza?" cetus suara Alaia yang tiba-tiba saja terdengar dari belakang.

__ADS_1


Sedikit dibuat terkejut, Altezza menoleh ke belakang dan menjawab, "ti-tidak, tentu saja tidak. Memangnya ada apa?" memandang kepada gadis berambut kelabu yang selalu membawa tongkat emasnya ke mana-mana.


Alaia tersenyum manis, melangkah sedikit lebih dekat dengan Altezza, dan berakhir berdiri tepat di sebelah kanan laki-laki tersebut. Paras cantik gadis berambut kelabu itu tampak ceria, memandang ke arah langit yang sama dipandang oleh Altezza dan berkata, "maafkan aku, Altezza. Barusan aku tidak sengaja mendengar mu berbicara sendirian."


Altezza tersenyum, menggelengkan kepala dan langsung menjawab, "tidak apa, terkadang aku suka mengeluarkan keluh kesah ku kepada angin."


"Kepada angin?" cetus Alaia, langsung menoleh, tersenyum, menatap kedua iris mata hitam milik Altezza dengan kedua pupil mata emasnya yang tampak membesar.


Altezza mengangguk pelan, memandang ke arah langit malam yang tampak kelam dan menjawab, "ya, kepada angin."


Senyuman laki-laki tampan itu perlahan pudar, mengingat pertanyaannya baru saja kepada angin tidak mendapatkan jawaban sedikitpun. Akan tetapi senyuman itu kembali terukir ketika Alaia menatap dirinya dan melemparkan sebuah pertanyaan, "apa benar ada roh angin yang mendiami Negeri Zephyra? Dan seperti apa wujudnya?" tanyanya dengan rasa keingintahuannya yang tampak cukup tinggi, terlihat dari kedua bola matanya yang tampak berbinar-binar.


"Termasuk gelang hijau yang sedang kamu pakai?" sahut Alaia, menatap penasaran gelang hijau yang melingkar pada pergelangan tangan kanan Altezza. Gelang tersebut tampak beraura hijau muda, sedikit menyala, dan tampak indah.


Altezza langsung melihat tangan kanannya, dan tampak terkejut sekaligus terkesima. Gelang itu benar-benar menyala, dan beraura hijau muda yang sungguh indah. Itu adalah pertama kalinya ia melihat gelang rajutan yang dikenakannya menyala dan beraura layaknya benda yang dialiri oleh sihir atau kekuatan magis. Akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, hanya dalam beberapa detik, aura dan cahaya hijau muda itu perlahan memudar hingga menghilang, memperlihatkan kembali gelang berwarna hijau muda yang tidak bercahaya seperti semula.


"Aku tidak tahu kalau ini bisa bercahaya," ucap Altezza, menurunkan kembali tangannya setelah cahaya dan aura hijau muda itu memudar dan menghilang.

__ADS_1


"Hebat! Di mana kamu membelinya? Apakah aku juga bisa memiliki gelang ajaib seperti milikmu?" ujar Alaia, tersenyum lebar, dan masih lekat memandangi paras Altezza dari jarak kurang dari satu meter di sebelahnya.


Altezza menggelengkan kepalanya, spontan tersenyum kecil dan berkata, "aku tidak membelinya, ini gelang pemberian dari seseorang."


Sesaat setelah mendengar jawaban Altezza, raut wajah serta tatapan riang Alaia tampak perlahan memudar seperti seseorang yang kecewa, akan tetapi masih tertutupi dengan senyuman kecilnya meskipun tampak sedikit pahit.


Gadis berambut kelabu itu melempar pandangannya ke arah langit malam sembari berbicara, "pasti seseorang itu sangat berharga bagimu, ya ...?"


Tidak menjawab atau menanggapinya, Altezza hanya diam dan memandang ke arah langit yang sama. Laki-laki itu menyandarkan telapak tangan kanannya di atas genggaman pedang yang tersarung rapi dan selalu bergelantung pada ikat pinggangnya. Benar-benar malam yang tenang dengan suasana yang terasa cukup dingin.


Namun ketenangan tersebut hanya berlangsung sementara, sampai pada akhirnya terpecah dengan terdengar suara lolongan anjing dari kejauhan.


"Kawanan dari makhluk itu datang, kalian bersiaplah!" Aaron tiba-tiba saja berlari dengan cepat menaiki anak tangga menuju menara, dan mengingatkan kedua orang yang sedang asyik berdiri di atas menara pengawas tersebut.


Anjing besar yang tersegel dengan rantai sihir berwarna keemasan itu tampak terbangun dari tidurnya, dan langsung melolong dengan sangat keras seperti seekor serigala di bawah bulan purnama. Di saat yang bersamaan tampak sebuah pergerakan masif dari hutan yang tak jauh dari bukit tempat di mana anjing itu dirantai. Pohon-pohon tampak bergerak hingga merubuhkan beberapa darinya, dan tampak dari jarak yang sangat jauh burung-burung beterbangan dari hutan tersebut dalam keadaan ketakutan, terbang ke arah Desa Arcadia hingga melintas tepat di atas kepala Altezza.


"Mari selesaikan mereka," ujar Altezza, kemudian beranjak lebih dahulu, meninggalkan Alaia yang tampak masih terpaku di atas menara dan dirundung oleh rasa takut.

__ADS_1


Ekspresi wajah ceria Alaia benar-benar hilang, berubah menjadi penuh kecemasan hanya dalam sekejap.


__ADS_2