
Istana megah dan luas berwarna putih Kerajaan Zephyra. Tempat tersebut sekarang dipenuhi oleh para tamu dari berbagai kerajaan dan negeri. Mereka telah berada di istana, dan perlahan mulai memenuhi aula utama istana. Para bangsawan yang hadir benar-benar terlihat berkelas dengan pakaian-pakaian mewah mereka. Tidak hanya bangsawan saja, namun raja-raja dari berbagai kerajaan juga turut hadir di pesta tersebut.
Aula utama yang sungguh luas sekarang ramai dengan para tamu. Panggung orkestra juga sudah dihadiri oleh beberapa musisi berkelas yang siap mengiringi jalannya pesta dansa yang tak lama lagi akan dimulai. Orang-orang yang hadir juga kebanyakan saling berpasang-pasangan.
Altezza sudah berdiri di persimpangan lorong tempat awal ketika ia membawa Bianca bertemu dengan ibundanya. Tidak hanya dirinya, Welt dan juga Raja Aiden juga tengah bersiap di sisinya, dibantu oleh beberapa pelayan istana yang ada di sana. Mereka bertiga sudah siap untuk menghadiri pesta di bawah sana, hanya tinggal menunggu Ratu Caitlyn, Clara, dan Bianca.
Di ruang persiapan khusus perempuan, Bianca sudah berganti pakaian dengan sebuah gaun berlengan panjang yang cukup besar berwarna biru muda yang sangat indah. Tak hanya gaun, beberapa perhiasan seperti gelang, kalung, dan anting-anting juga ia pakai, bahkan beberapa permata berwarna biru muda yang selalu mengkilap dijadikan hiasan pada rambutnya sudah seperti sebuah mahkota indah yang berkilau. Perempuan cantik itu juga terlihat memakai riasan wajah sederhana, tidak mengenakan gincu karena memang bibirnya sudah berwarna merah muda secara natural.
Bianca terlihat sangat gugup ketika memakai gaun serta berbagai perhiasan seperti itu. Gadis itu terlihat tidak terbiasa dengan pakaian serta perhiasan-perhiasan yang sekarang ia pakai. Beberapa kali ia melirik kepada Clara yang duduk di sampingnya, dan terlihat sedang didandani oleh beberapa dayang milik Ratu.
"Apakah kamu sudah selesai, Bianca?" tanya Caitlyn, selesai dengan riasannya, dan kemudian segera menghampiri Bianca dari belakang.
Caitlyn berdiri tepat di belakang Bianca, dan kemudian menatap kagum paras cantik gadis itu melalui pantulan cermin yang ada tepat di hadapannya, "kamu cantik sekali," ucapnya.
"T-tetapi, s-saya ... tidak percaya diri, Yang Mulia," ucap Bianca dengan wajah yang cukup tersipu. Ini adalah pengalaman pertama kali dalam seumur hidupnya dapat mengenakan gaun indah milik istana.
Cailtyn tersenyum mendengar serta melihat ekspresi malu tersebut. Clara yang akhirnya selesai berdandan, secara tiba-tiba dan antusias beranjak dari kursinya, dan kemudian meraih serta menarik perlahan salah satu tangan Bianca sembari berkata, "ayo, sini ...!"
Bianca cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Clara, namun dirinya hanya mengikutinya saja. Beranjak dari kursinya, dan kemudian mengikuti langkah Clara menuju ke sudut ruangan. Di salah satu sudut ruangan terdapat sebuah cermin yang amat besar dan tinggi. Clara bersama dengan Bianca berdiri di depan cermin tersebut.
__ADS_1
Ketika berada tepat di depan cermin itu, Clara seketika berpindah posisi ke belakang Bianca dan kemudian berkata, "lihatlah dirimu, Bianca ...! Kamu sangat cocok dengan gaun itu!" sembari tersenyum dengan wajah kagum melihat penampilan Bianca malam ini.
"Benarkah ...?" gumam Bianca, menatap ragu dengan penampilannya.
Bianca perlahan menatap dirinya sendiri pada pantulan cermin tersebut. Ia sendiri menyadari bahwa penampilan sangat berubah, sangat cantik bagaikan putri kerajaan. Beberapa permata yang ada di kepalanya sudah seperti mahkota, dan semakin memperindah rambut bergelombang berwarna cokelat muda itu. Gaun berwarna biru muda itu tampak berkilau ketika terkena cahaya, dan sepasang sepatu kaca yang terlihat sangat cantik terpasang di kedua kakinya.
"Iya, terima kasih. Kalian bisa keluar ruangan terlebih dahulu ...!" ucap Caitlyn terdengar sempat berbicara dengan beberapa dayang kepercayaannya.
"Clara, Bianca, kalian sudah siap ...?" lanjut Caitlyn, berbicara berdiri tepat di belakang kedua perempuan muda itu.
"Sudah, Bun!" sahut Clara, tersenyum lebar, kemudian segera mengajak Bianca, "yuk!" ucapnya, menggandeng tangan Bianca dengan penuh antusias keluar dari ruangan tersebut.
Caitlyn tersenyum hangat melihat ekspresi tegang Bianca, "bagiku kamu terlihat sangat berbeda, Bianca. Namun cobalah kamu bertanya seperti itu kepada Altezza," jawabnya.
Clara tiba-tiba saja menyela dengan sikap antusiasnya, "tunjukkan pesonamu pada laki-laki itu! Pasti dia sangat menyukaimu."
Bianca kemudian melangkah berjalan melalui lorong tersebut bersama dengan Ratu Caitlyn dan Clara. Di depan sana terlihat sosok Altezza yang sudah menunggu dirinya bersama Raja Aiden dan Welt. Perhatian Altezza seketika langsung tertuju padanya, melihat dan menatapnya dengan penuh kagum.
"Bagaimana ... penampilan saya, Yang Mulia?" tanya Bianca ketika berdiri tepat di hadapan Altezza. Wajahnya benar-benar merona, bahkan ia tidak berani untuk mengangkat pandangannya dan balik menatap laki-laki itu.
__ADS_1
Laki-laki berseragam formal pangeran dengan dominasi warna putih itu terlihat tersenyum senang dan menjawab dengan intonasi rendah, "aku sungguh terkesan dengan penampilan mu malam ini, Bianca."
Jawaban tersebut tampak membuat Bianca tersenyum senang ketika mendengarnya. Clara dan Caitlyn diam-diam juga ikut tersenyum menyaksikan mereka berdua. Di saat yang bersamaan, seorang pria yang menjadi tangan kanan raja bernama Weiz datang dan membawa kabar, "semuanya sudah siap, Yang Mulia."
Raja Aiden mengangguk paham, "baik, siapkan saja, Weiz!" kemudian bergandengan dengan Ratu Caitlyn berjalan perlahan menuruni tangga menuju ke aula utama untuk menyambut para tamu yang sudah hadir di sana. Sekarang di lantai dua tersebut selain beberapa pelayan serta penjaga yang ada, hanya ada Welt dan Altezza beserta masing-masing pasangan mereka. Mereka tinggal menunggu waktu.
Welt dan Clara berdiri di depan Altezza dan Bianca. Pangeran pertama dan istrinya terlihat sungguh percaya diri dan antusias, mereka berdua tampak sudah sangat siap. Sedangkan Altezza, meskipun dirinya terlihat tenang, namun sebenarnya dalam hatinya sedang berdebar-debar.
"Tegang?" ujar Altezza, tersenyum tipis dan melirik kepada Bianca yang saat ini berdiri dekat di sampingnya. Perempuan itu dari tadi hanya diam, dengan wajah yang merona, dan ekspresi tegang.
"Kau tidak sendiri, aku juga merasakan hal yang sama, kok!" lanjut Altezza.
Bianca hanya melemparkan senyumannya saja ketika mendengar Altezza berbicara. Namun pandangannya masih cenderung ke bawah dengan raut wajah cemas dan gelisah. Pesta tersebut adalah acara yang sangat besar, dan dihadiri oleh raja-raja serta banyak bangsawan dari berbagai kerajaan. Tentu hal tersebut cukup untuk menggoyahkan mental orang biasa seperti Bianca yang tiba-tiba berkesempatan untuk hadir dan menjadi pasangan seorang pangeran di acara terhormat itu.
Altezza menoleh dan menatap perempuan cantik yang saat ini bersamanya. Wajah takut dan gelisah cukup terlihat pada paras cantik milik gadis itu. Laki-laki itu kemudian tersenyum dan berbicara, "bolehkah aku meminta sesuatu darimu?"
Bianca langsung menoleh, sedikit mendongak untuk dapat menatap paras tampan pangeran itu dan kemudian bertanya, "meminta apa, Yang Mulia?"
"Teruslah berada di dekat ku sepanjang pesta berlangsung ...!" sahut Altezza, kemudian langsung mengalihkan pandangannya ke depan.
__ADS_1
Perempuan itu tersenyum tipis mendengar permintaan tersebut, dan entah mengapa secara tiba-tiba hatinya jauh lebih tenang ketika Altezza memohon hal tersebut padanya, "baik, Yang Mulia," jawabnya dengan intonasi rendah dan masih tersenyum.