
Pagi yang cerah, di ruang kerja milik Altezza. Pangeran muda itu terlihat tengah sibuk dengan beberapa tumpukan dokumen yang menunggu keputusan serta tanda tangannya. Dokumen-dokumen itu sudah menumpuk sedari pagi buta, bahkan sesaat setelah bangun tidur dan sarapan, Altezza langsung disibukkan dengan tumpukkan dokumen itu. Ia belum sempat melakukan kegiatan-kegiatan lain di pagi ini selain mengerjakan dokumen-dokumen tersebut.
"Masuk!" cetus Altezza setelah mendengar suara ketukan pintu ruangannya.
Kenan melangkah masuk ke dalam ruangan, dengan sebuah lampiran yang berisikan tentang jadwal yang akan dilakukan oleh pangerannya hari ini. Ia berdiri di depan meja kerja milik Altezza, dan kemudian menyampaikan lampiran tersebut kepadanya. Beberapa jadwal harian yang selalu ia lakukan tertulis di sana, seperti berlatih pedang dan sihir seperti biasa, serta kegiatan sosial yang hampir tidak akan pernah dapat ia tinggalkan.
Namun di hari ini Altezza tidak berencana untuk melakukan kegiatan-kegiatan tersebut sekaligus mengurungkan niatnya kemarin malam soal mencari pasangan, karena dirinya berencana untuk berbincang lagi dengan ibundanya. Ada beberapa hal yang ingin ia bicarakan, dan tentunya beberapa hal tersebut mengenai soal pesta dansa sesuai dengan yang tertulis pada surat yang ditulis oleh Raja, serta dikirimkan padanya melalui Kenan kemarin malam.
Tak berselang lama setelah Kenan masuk, seorang pelayan wanita terlihat datang, berhenti dan berdiri di ambang pintu ruangan yang terbuka itu, mengetuk serta meminta izin untuk masuk dengan kedua tangan membawa sebuah nampan berisi teh hangat. Altezza mengizinkannya masuk, membiarkan pelayan istana itu membawa teh kesukaannya, "terima kasih."
"Izin keluar ruangan, Yang Mulia." Pelayan wanita itu langsung menundukkan kepalanya dengan penuh hormat setelah meletakkan secangkir teh hangat di atas meja kerja milik Altezza. Ia kemudian beranjak keluar setelah Altezza mengizinkannya, "silakan, terima kasih."
"Kenan, apakah kau memiliki perkembangan informasi soal tiga pembunuh bayaran itu?" tanya Altezza, kemudian meminum secangkir teh manis yang masih hangat.
Kenan yang berdiri di depan mejanya hanya menjawab, "kurang lebih semua informasi masih sama seperti kemarin, belum ada pembaruan ataupun tambahan informasi."
"Meskipun kemarin malam kau mengatakan para pembunuh bayaran itu tidak ada kaitannya dengan para bandit yang kita tangkap. Tetapi tetap saja aku mencurigai bahwa mereka saling kenal atau memiliki keterkaitan satu sama lain. Karena jika tidak, mengapa para pembunuh bayaran yang tertangkap memberikan informasi mengenai adanya persembunyian di Barat Perbukitan Pesisir? Bahkan ketika kita memeriksa wilayah tersebut, tidak ditemukan sama sekali yang katanya persembunyian itu, malah kita diserang oleh para bandit yang kini mendekam di penjara." Altezza berpendapat, serta berspekulasi mengenai kasus-kasus yang terjadi belakangan ini. Dua kasus tersebut adalah kasus kejahatan, tidak hanya membahayakan orang-orang atau keluarga kerajaan saja, tetapi juga berpotensi membahayakan orang lain atau warga sipil.
"Saya kurang mengetahui tentang hal itu, Yang Mulia," ucap Kenan.
__ADS_1
Altezza tampak bersandar pada kursinya, dan terlihat berpikir. Di atas meja kerjanya juga terdapat secarik surat dari Raja yang diberikan oleh Kenan kemarin malam. Selain kasus-kasus yang terjadi sudah cukup memusingkan kepala. Kini pangeran muda itu juga harus berpikir soal pesta musim gugur, acara dansa, serta pasangan untuk datang ke pesta tersebut sekaligus berdansa dengannya.
"Anda terlihat pusing, apa yang membuat anda gelisah seperti ini?" tanya Kenan, penasaran.
Altezza hanya menjawab dengan lirikan mata yang sempat menatap tajam Kenan, kemudian berpindah ke arah satu-satunya surat yang tergeletak di atas meja. Kenan langsung paham dengan gerak-gerik yang menjadi jawaban atas pertanyaannya itu, dan hanya tersenyum kecil serta berkata, "oh, soal itu."
"Apakah kau ada saran?" cetus Altezza.
"Saran untuk? Jangan meminta saran soal berdansa kepada saya, karena saya belum pernah berdansa sama sekali," sahut Kenan.
Altezza menggeleng, "bukan soal itu, jika soal dansa aku akan bertanya langsung saja kepada ibunda."
"Apa yang anda pusingkan soal mencari pasangan untuk pesta? Anda adalah laki-laki yang sangat diminati serta diidam-idamkan oleh banyak gadis di kerajaan ini. Tentu itu akan menjadi hal yang mudah bagi anda, seharusnya," sahut Kenan, beberapa kali tersenyum ketika melihat pangerannya terlihat cukup pusing dan bingung dalam hal tersebut.
"Tidak mungkin aku mengajak orang yang tidak ku kenal, 'kan? Pasti rasanya akan ... aneh," sahut Altezza, sedikit menyangkal kalimat terakhir yang dikatakan oleh Kenan.
Kenan tertawa kecil dan menjawab, "benar juga, sih."
***
__ADS_1
Waktu terus berjalan, pagi perlahan menjelang siang. Altezza telah mengatur pertemuan dengan ibundanya yang sepertinya masih sibuk dengan tugas-tugas sebagai seorang Ratu. Ia membuat pertemuan tersebut, juga menentukan tempat yang akan digunakan untuk sedikit berbincang. Tempat yang ia pilih adalah tempat kemarin, yaitu halaman serta taman samping istana.
Pangeran muda itu berjalan ke taman samping dengan membawa sebuah ember kecil berisikan ikan-ikan kecil, yang akan ia berikan kepada seekor elang putih yang baru saja ia pelihara kemarin. Namun betapa terkejut dan bingung dirinya ketika mendapati pintu sangkar burung yang terbuat dari jeruji besi itu terbuka lebar, dan dirinya tidak menemukan seekor elang berwarna putih itu.
"Ke mana dia? Siapa yang melepasnya ...?!" gumam Altezza, melangkah cepat mendekati sangkar untuk memastikan.
Ketika sudah berada tepat di depan pintu sangkar tersebut, ia cukup terkejut dengan apa yang dilihatnya. Beberapa helai pita perban berwarna merah yang seharusnya masih terikat pada sayap kanan milik burung elang itu terlepas, jatuh, dan ditemukan tergelatak di bawah sangkar. Tentu hal tersebut membuat Altezza semakin terheran-heran.
"Apakah dia terbang ... sendiri? Bukankah seharusnya sayapnya masih belum sembuh, ya ...?" gumam Altezza, kembali bertanya-tanya atas kebingungannya dengan keanehan tersebut.
Sebuah angin tiba-tiba saja muncul, berhembus lembut mendekatinya, dan kemudian sempat berkeliling pada tubuhnya. Angin itu seolah sedang memberitahu tuannya tentang suatu hal yang tidak diketahui oleh tuannya. Altezza terlihat mengerutkan keningnya, "sembuh dalam semalam? Lalu dia membebaskan dirinya sendiri dari dalam sangkar, begitu?"
Angin pembawa berita itu kembali berhembus lembut, terus berputar mengelilingi tubuhnya, sedang berkomunikasi dengan dirinya. Altezza terlihat diam sejenak dengan ekspresi sangat serius, seolah sedang mendapatkan informasi penting dari angin miliknya.
"Dia dapat menggunakan sihir elemen? Apa maksudmu ...?!" gumam Altezza, bertanya-tanya dan berbicara sendiri.
Tidak mendapatkan jawaban lagi dari angin tersebut, karena angin pembawa berita itu langsung pergi. Beberapa detik setelah angin lembut itu berhembus pergi, kepakan sayap terdengar jelas oleh kedua telinga milik Altezza, berasal dari pepohonan di belakangnya. Ia kemudian menoleh, dan berhasil dibuat terkejut dengan apa yang ia lihat. Seekor elang berwarna putih terlihat terbang, keluar dari area pepohonan, sempat berkeliling tepat di atasnya, sebelum kemudian secara tiba-tiba mendarat tepat di atas lengan kanannya. Tidak salah lagi, burung tersebut adalah burung yang ia bawa dari goa kemarin. Ciri-ciri fisiknya sama persis tidak ada perbedaan, semuanya sama, begitu pula dengan gerak-gerik elang itu yang terlihat begitu tenang.
"Kau ... benar-benar aneh," ujar Altezza tersenyum tipis, dan berbicara sendiri ketika elang berukuran besar itu hinggap di salah satu lengannya. Ia dapat merasakan cengkeraman kuat itu, beruntung dirinya menggunakan baju lengan panjang, tidak langsung merasakan cengkeraman serta kuku tajam itu secara langsung.
__ADS_1