
Jadwal keberangkatan telah tiba, dan tepat ketika matahari berada di atas kepala, kapal layar berukuran besar yang ditumpangi oleh Altezza perlahan mulai bergerak. Para kelasi yang bekerja di kapal itu mulai berteriak, menurunkan layar-layar besar berwarna putih itu, dan mulai menaikkan jangkar serta melepas beberapa tali besar yang mengikat badan kapal dengan kayu-kayu besar yang ada di dermaga. Kapten kapal juga sudah berada di atas dek utama kendali, dan tampak sudah memegang setir dengan terus menyerukan arahannya untuk para awak kapalnya.
Tidak hanya Altezza yang berada di kapal itu sebagai penumpang, namun dirinya juga melihat terdapat kurang lebih sepuluh orang yang juga ikut sebagai penumpang, dan mereka juga seorang petualang sama seperti dirinya.
Angin berhembus dengan sangat kencang, menerpa tubuh Altezza, dan membuat jubah hitam serta rambut hitamnya bergoyang-goyang ke belakang. Pandangan Altezza tampak menatap ke arah lautan, menikmati pemandangan yang jarang ia lihat. Semuanya hanyalah air, laut, berwarna biru gelap karena sudah mulai memasuki wilayah lautan dalam. Ombak terus berderu, menabrak bagian bawah kapal, sehingga menciptakan pecahan air yang cukup hebat.
Berita atau informasi yang sedang hangat soal cuaca serta ditundanya banyak jadwal berlayar kapal-kapal pelabuhan sepertinya memang benar. Kedua mata Altezza bisa melihat sendiri suasana laut yang tampak tidak bisa diam. Beberapa kali ia menyaksikan gelombang laut yang lebih tinggi daripada biasanya, disusul dengan cuaca serta penampakan langit yang perlahan mulai gelap. Awan di atas sana perlahan berubah menjadi warna abu-abu ketika kapal yang ditumpangi oleh Altezza perlahan mulai memasuki lautan lepas.
"Cuaca sejak kemarin malam memanglah seperti ini, jadi bersiaplah kepada banyak guncangan yang tak terduga," seorang pria tiba-tiba saja berdiri tepat di sebelah Altezza yang tampak masih terpana menyaksikan lautan yang perlahan mulai menunjukkan kehebatannya.
Pria tersebut bertubuh lebih tinggi dan kekar daripada Altezza, dengan rambut yang sama-sama hitam seperti miliknya. Terdapat sebuah kencana emas berbentuk bintang pada dada kirinya, dan lencana tersebut terukir sebuah tulisan "Kapten". Dari ciri-ciri serta identitas pada lencana tersebut, Altezza bisa mengetahui kalau pria tersebut adalah kapten kapal yang ia tumpangi.
Di antara mereka berdua yang sedang berdiri di tepi kapal, terdapat banyak sekali kelasi atau awak kapal yang tampak disibukan dalam pengaturan layar serta beberapa tali yang ada di dek utama. Angin berhembus dengan sangat kencang, bahkan dapat dengan mudah membuat sebuah layar kapal terbang terbawa angin jika tidak diikat dengan kuat.
"Apakah kau tahu sebuah legenda dari Timur ketika bertemu badai di tengah laut?" cetus kapten kapal, berbicara dengan intonasi tenang meskipun di sekelilingnya riuh.
__ADS_1
Pandangan Altezza perlahan menoleh, dan harus sedikit mendongakkan kepalanya untuk bisa menatap tampang sangar kapten kapal itu, "legenda?"
Tatapan sang kapten tampak tajam, memandangi lautan yang perlahan mulai menunjukkan kengeriannya. Gelombang mulai naik, dan langit kelabu perlahan semakin gelap hingga menjatuhkan air hujannya secara perlahan.
"Para pelaut yang menerjang badai akan memiliki kesempatan tinggi untuk bisa bertemu dengan makhluk mitologi bernama putri duyung, dan mereka adalah makhluk laut yang terkenal licik. Berhati-hatilah, dan jangan sampai fokusmu teralihkan oleh segala sesuatu yang kau lihat di lautan ketika kita menerjang badai."
Kapten kapal itu berbicara, menjawab pertanyaan Altezza yang tidak mengerti soal legenda itu, sebelum kemudian beranjak pergi kembali ke dek kendalinya sembari berteriak-teriak memberikan arahan untuk semua awak kapalnya.
"Pertahankan layar, dan ikat tali-tali itu!! Jangan sampai terbawa angin!" titah sang kapten ketika sudah berdiri di balik setir kendalinya, suaranya terdengar lantang di antara gemuruh ombak dan petir yang perlahan terdengar, "persiapankan diri kalian, karena sebentar lagi kita akan melewati berbagai guncangan dahsyat!" lanjut sang kapten, memperingati para awak kapalnya sekaligus penumpangnya.
Altezza menggenggam erat sebuah pembatas tepi kapal, seiring lebatnya hujan yang turun. Petir semakin terdengar, dan jelas menunjukkan entitasnya, menyambar di antara awan gelap dengan suara yang sangat menggelegar memekakkan telinga. Ini adalah kali pertama Altezza menerjang badai di tengah lautan lepas, bahkan membuat kedua matanya sedikit sulit terbuka karena saking lebatnya badai yang sedang terjadi, sehingga membuat matanya terasa pedih--antara terkena percikan air hujan atau air laut, yang membuat kedua matanya cukup pedih untuk bisa terbuka.
"Semua awak bersiap!" seru kapten kapal, menggenggam kuat-kuat setir kapalnya.
Kapal tersebut perlahan naik, mendaki tingginya ombak, sebelum kemudian seolah terjun perlahan setelah melewati ombak sebesar dan setinggi itu. Guncangan dahsyat terjadi, dan menjatuhkan beberapa kelasi yang terlepas dari pegangan mereka. Beruntung tidak ada yang jatuh ke laut--sekali jatuh kemungkinan besar tidak akan dapat ditolong, alias akan tertelan oleh lautan yang sedang mengganas.
__ADS_1
Dari sisi samping kapal, Altezza terus berdiri dan berpegangan kuat pada pagar pembatas tepian kapal. Laki-laki itu terus memandangi gelombang-gelombang di sekitar kapal yang tampak mengganas. Sesekali ia memandang ke arah langit, dan dirinya tidak melihat adanya cahaya matahari di sana yang seharusnya sedang bersinar terang di siang hari ini. Gemuruh petir di langit dan ombak besar lautan adalah perpaduan mimpi buruk yang tidak ingin dialami oleh siapapun tentunya.
"Awas gelombang kedua!!" teriak seorang kelasi dengan kepanikan ketika berdiri di bagian dek depan kapal.
Ketika menghadapi gelombang pertama saja tidak siap sepenuhnya, apalagi disusul oleh gelombang kedua yang juga tidak kalah ganas dari yang pertama, dan kemunculan dari gelombang kedua sangatlah tiba-tiba. Tabrakan dengan air laut setinggi itu tidak dapat dihindarkan, kapal layar berukuran besar itu sedikit menabrak ujung atas gelombang, dan membuat guncangan yang menghempas banyak orang yang ada di atas kapal.
BRAAAKK ...!!!
Pegangan tangan pengembara terlepas, dan dirinya terhempas hingga membentur pintu kayu kabin kapal dengan sangat keras, sebelum kemudian berakhir terduduk di atas lantai kayu dek atas kapal yang basah. Tidak hanya Altezza, namun juga terdapat banyak kelasi serta penumpang yang merupakan pengembara juga sama seperti dirinya yang terhempas akibat gelombang kedua. Mereka terjatuh di atas lantai kayu dek kapal, bahkan beberapa dari kelasi kapal itu sampai ada yang terluka hingga berdarah di bagian pelipis dan lengan.
"Hei, kau tidak apa?!" tanya seorang petualang laki-laki berambut pirang menghampiri Altezza yang masih terduduk di atas lantai kayu yang basah itu, dan mengulurkan tangannya untuk membantu Altezza berdiri kembali.
"Terima kasih," sahut Altezza, kembali berdiri meski badannya terus goyang tidak bisa diam, karena memang kapal tersebut tidak henti-hentinya dihantam ombak dengan sangat keras.
Kapten yang berdiri di balik setir kapalnya berteriak, "cepat berdiri, dan ikat kembali layarnya! Kita bisa tenggelam jika tiang itu sampai roboh terkena ombak dan angin."
__ADS_1
"Kuras airnya, cepat!!" seru beberapa kelasi yang bekerja di bagian dalam kapal. Mereka berbondong-bondong membawa ember kayu, dan menguras air yang sudah memenuhi bagian dalam lambung kapal.
Perjalanan masih terus berlanjut di tengah lebatnya badai tersebut. Tujuan menuju ke Benua Timur, akan tetapi pulau-pulau yang ada di Benua Timur belum terlihat karena hebatnya badai di tengah laut tersebut. Altezza masih terus bertahan di atas kapal tersebut, sembari terus berharap agar diri dan kapal yang ia tumpangi cepat keluar dari badai dan sampai di Benua Timur.