
"Apa yang kau bicarakan, Altezza?!"
Raja Aiden tampak cukup marah sekaligus terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan oleh putra bungsunya. Pagi hari yang disambut dengan kabar yang tampaknya tidak menyenangkan bagi Sang Raja di ruang singgasananya.
Altezza memutuskan untuk berbicara serta memberitahu mengenai keputusannya berkelana kepada Raja Aiden, dan tampaknya hasil dari apa yang ia sampaikan sesuai dengan dugaannya. Tidak ada orang lain di ruang singgasana, hanya ada Raja Aiden dan Altezza yang saling berhadapan.
"Katakan kalau kau sedang tidak serius, bukan?" tanya Raja Aiden terlihat ingin memastikan.
Pertanyaan tersebut langsung mendapat sanggahan dari Altezza yang menatap dirinya dengan sangat tajam dan serius, "aku sedang berbicara serius, Ayah!" ucapnya, memanggil sosok ayah tanpa membawa atau mengungkit gelar yang disandang oleh pria yang duduk di singgasananya.
Dari yang awalnya menatap tajam putra bungsunya, seketika perlahan menjadi lembut ketika melihat serta mendengar panggilan yang digunakan oleh putranya padanya. Raja Aiden menurunkan amarahnya, dan perlahan beranjak dari kursi singgasananya, berjalan mendekati Altezza yang masih mengikat kontak mata dengannya.
"Ikut aku ...!" ucap Aiden kepada putranya, sebelum kemudian berjalan menuju pintu keluar singgasana.
Altezza terlihat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu. Tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, bahkan Altezza sendiri sedang menduga-duga akan diapakan dirinya, akankah diberi wejangan-wejangan panjang, ataukan dirinya akan mendapatkan kemarahan dari Sang Raja. Namun Altezza tetap mengikuti ke mana langkah dari raja itu pergi.
Berjalan keluar dari ruang singgasana, melalui lorong, halaman atau taman tengah istana, sempat melewati aula utama sebelum kemudian naik ke lantai dua istana, dan berakhir di balkon lantai dua istana. Raja Aiden langsung bersandar pada pagar pembatas balkon, menghirup udara dingin di pagi hari, dan diam sejenak dengan pandangan mengarah taman samping istana yang terlihat putih terselimuti oleh salju.
__ADS_1
"Ulangi apa yang kau bicarakan tadi ...!" pinta Raja Aiden kepada Altezza yang berdiri tepat di sebelahnya.
"Aku telah lama memendam impian untuk bisa menjadi seorang pengembara, dan aku telah memutuskan untuk pergi mengembara di awal musim semi. Tidak peduli apa kata orang, aku juga tidak begitu peduli dengan semua risikonya, aku akan menghadapi semuanya bila perlu." Tanpa berbasa-basi, Altezza mengulang kembali pembicaraan yang ia sampaikan ketika berada di ruang singgasana.
Raja Aiden tidak menoleh atau bahkan melirik sedikitpun kepada putra bungsunya yang saat ini berdiri tepat di sebelahnya. Pria itu tampak sangat serius dengan tatapannya yang cenderung tajam.
"Apa alasanmu?" tanya singkat Raja Aiden, tanpa menoleh atau melirik sedikitpun kepada Altezza di sampingnya.
"Aku ingin belajar serta mengetahui banyak hal selain hanya di negeri kita, apalagi menjadi seorang pengembara adalah pengalaman yang belum pernah aku miliki sepanjang hidupku, jadi setidaknya aku ingin memilikinya walaupun paling sedikit cuma satu kali."
"Aku tahu kita memiliki pusat pengetahuan yang luas, banyak sekali buku pengetahuan tentang dunia ini yang tersimpan di perpustakaan. Namun aku juga ingin meraih semua pengetahuan tersebut dengan pengalaman, bukan hanya sekadar membaca dan membaca," lanjut Altezza, berusaha memperkuat alasannya agar dapat dimengerti atau dipahami oleh Raja Aiden.
Altezza menatap Raja Aiden yang masih diam saja dengan sangat serius dan dalam, penuh harapan, "kumohon izinkan aku untuk berkelana, setidaknya sekali dalam hidupku ...!"
"Sampai kapan ayah akan terus mengurung serta mengekang diriku?" lanjut pangeran muda itu.
Raja Aiden menoleh, menatap tajam putra bungsunya dan berkata, "bukankah itu sudah menjadi konsekuensi serta kewajiban mu sebagai seorang pangeran?"
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan tugas serta tanggung jawabmu? Apakah kau akan menelantarkannya begitu saja tanpa bertanggung jawab?" lanjut Aiden, dengan intonasi yang tidak terlalu tinggi, namun serius.
Altezza terdiam mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut, terlebih perkataan mengenai "konsekuensi serta kewajiban sebagai seorang pangeran". Kata-kata tersebut tidak dapat ia sangkal, karena dirinya tahu semua konsekuensinya sebagai seorang pangeran.
"Bagaimana dengan tujuan mu? Kau berkelana tentu memiliki tujuan yang jelas, bukan?" tanya Raja Aiden perlahan memalingkan pandangannya menatap ke arah langit yang berawan.
Laki-laki dengan jubah kerajaan berwarna putih itu terlihat menunduk dan menjawab, "kemungkinan besar aku akan pergi ke Benua Timur ke Tenggara," singkat sebelum kemudian ia membungkam mulutnya karena sebal dan memilih untuk tidak berbicara lagi.
Raja Aiden sempat melirik kepada putranya, dan melihat ekspresi kesal serta tidak memperlihatkan adanya kepuasan. Pria tersebut tidak marah, mewajarkan jika putranya kesal dengan dirinya, "asal kau tahu, kerajaan ini akan hampa tanpa kehadiran dirimu, Altezza," ucapnya kembali memandang ke arah langit
"Apa bedanya?! Aku bukan pewaris tahta, jadi seharusnya aku boleh menentukan serta memutuskan untuk mengejar impianku!" sahut Altezza, terlihat kesal dengan intonasi bicara yang sudah bercampur sedikit emosi.
Menunda sejenak pembicaraan, Raja Aiden menghela napas dan diam setelah mendengar serta melihat putra bungsunya yang sudah kesal dengan dirinya. Ia mendiamkannya saja dalam beberapa detik, sebelum kemudian kembali berbicara, "kerajaan ini akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya jika kau pergi."
"Tanpa diriku juga pasti kalian baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan? Kak Welt ahli dalam sihir, ibu ahli penyembuhan, dan ayah sendiri juga ahli dalam sihir. Di sisi lain, kerajaan ini memiliki banyak sekali ahli sihir yang hebat, prajurit-prajurit yang tangguh, dan para kesatria yang setia serta tidak perlu diragukan lagi kapabilitasnya. Semua rakyat di seluruh penjuru Negeri Zephyra juga sangat baik dan ramah, selalu mendukung kerajaan." Altezza kemudian menoleh kepada ayahnya dan bertanya, "lalu mengapa ayah terlihat sangat berat untuk melepaskan ku serta mengizinkan ku pergi berkelana?"
"Karena aku takut kehilangan dirimu, Altezza," sahut Raja Aiden sembari menoleh dan menatap kedua iris mata hitam pekat Altezza yang sama seperti miliknya.
__ADS_1