Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Pertempuran Mutiara #145


__ADS_3

Penghalang sihir yang dibuat, menara-menara pengawas, dan pagar kayu-kayu tajam perbatasan, semuanya telah berhasil dihancurkan. Pasukan kegelapan menerobos segalanya, dan langsung terlibat bentrok dengan pasukan di bawah kepemimpinan Raja Aiden. Prajurit-prajurit berzirah miliknya tak gentar meski kematian ada di hadapan. Mereka menyerang, menghabisi banyak prajurit manusia panji hitam yang dimiliki oleh pasukan kegelapan.


Di kala prajurit-prajuritnya menyerang, rombongan pasukan berkuda dari sisi kanan dan kiri pasukan turut bergabung membentuk formasi mengapit pasukan kegelapan yang lebih dahulu menyerang. Dari barisan paling belakang tampak para penyihir kerajaan juga turut berjuang keras, mereka merapalkan banyak mantra dan menyerang ribuan pasukan kegelapan yang menyerbu. Di sekeliling barisan ahli sihir tersebut adalah para pemanah yang bersiap di bukit sekitar, mereka melakukan formasi perlindungan terhadap para penyihir kerajaan dari segala serangan udara yang dilakukan oleh banyak iblis yang beterbangan.


Situasi yang benar-benar kacau, tidak ada yang dapat mengendalikannya. Raja Aiden juga turut terlibat dalam pertempuran hebat tersebut menggunakan pedangnya, ia bersama dengan Kenan yang selalu berada di dekatnya, dan membantu serta melindungi beberapa titik buta sang raja. Meski jelas kalah jumlah, namun pasukan yang dipimpin oleh sang raja melakukan pertahanan dengan sangat baik dengan menaruh tumpuan pada barisan penyihir kerajaan, sehingga membuat pasukan kegelapan sangat kesulitan untuk bisa menaklukkan perbatasan.


Berkali-kali serangan dari para iblis dan makhluk-makhluk tak lazim itu dilancarkan, akan tetapi semua serangan tersebut dapat dipatahkan dengan mudah oleh mantra-mantra sihir yang dirapalkan para ahli sihir kerajaan. Penyihir-penyihir kerajaan memberikan perlawanan dengan sangat kuat, melancarkan beberapa elemen yang saling bereaksi seperti angin, api, dan petir, terlebih mereka semakin diuntungkan dengan cuaca badai serta hujan lebat yang dapat semakin mempermudah menciptakan reaksi dari berbagai macam elemen.


"Lini belakang mereka sangat merepotkan, dan pergerakan pasukan kita tampak kewalahan. Bagaimana langkah anda selanjutnya, Yang Mulia?" tanya sosok berjubah hitam Baltazhar, berada di sebelah Astaroth yang masih melayang di atas ketinggian.


Astaroth memperhatikan pertempuran hebat yang sedang terjadi dari atas ketinggian. Beberapa ledakan terjadi, membakar sebagian bukit-bukit yang ada di bawah sana, menjatuhkan banyak sekali korban jiwa baik dari kedua belah pihak. Angin bertiup semakin kencang, bereaksi dengan badai dan hujan, menghempas serta meratakan prajurit-prajurit kegelapan. Kedua matanya dapat menyaksikan bahwa pasukannya terbantai dengan mudah di bawah sana oleh sihir dari para penyihir milik musuh yang sangat kuat di bagian belakang. Prajurit-prajurit iblis yang beterbangan juga tampak sangat kesulitan untuk menyentuh serta menghancurkan barisan ahli sihir tersebut, banyak dari mereka ditembak jatuh oleh para pemanah ulung yang dimiliki oleh kerajaan-kerajaan manusia.


"Bereskan para penyihir mereka, Baltazhar ...! Kau boleh menggunakan kekuatanmu di sini," ujar Astaroth dengan santai dan tenangnya, memberikan perintah kepada Baltazhar.


"Baik, Yang Mulia." Baltazhar menundukkan kepalanya, sebelum kemudian ia terbang melayang layaknya sebuah bayangan hitam, meluncur ke bawah di antara petir serta lebatnya badai.


Di bawah, di antara para prajuritnya, dan di tengah ia menghadapi banyak musuhnya. Perhatian Raja Aiden tertuju ke arah langit, melihat sebuah bayangan berwarna hitam pekat, bergerak terbang dengan cepat menuju barisan paling belakang pasukannya. Melihat hal tersebut ia tak tinggal diam, menyeru kepada Kenan yang juga tampak cukup kewalahan menghadapi lima orang sekaligus di belakangnya, "sesuatu mendekati barisan belakang!"

__ADS_1


Sesaat setelah berseru, Raja Aiden memutuskan untuk segera bergegas pergi, dengan langkah cepat di antara pertempuran menuju barisan belakang.


Perhatian Kenan juga sempat melirik ke atas, sebelum akhirnya ia harus fokus kembali pada pertempuran. Menebaskan pedangnya dengan sangat kuat, dan membuat lima prajurit manusia berzirah hitam di hadapannya jatuh, sebelum kemudian ia bergegas lari menyusul sang raja sekaligus melindunginya dengan cara menangkis beberapa anak panah serta serangan yang nyaris melukai rajanya menggunakan pedangnya.


"Kau melihatnya, 'kan?!" seru Raja Aiden, terus berlari di sela-sela pertempuran, menatap ke arah langit.


"Ya!" sahut Kenan mengikuti di belakang sang raja.


Tepat di atas mereka berdua melintas sebuah bayangan hitam pekat, terbang dengan kecepatan yang cukup kencang, menuju barisan paling belakang pasukannya. Namun belum sampai di barisan paling belakang, langkah sang raja dan Kenan terpaksa harus terhenti, diberhentikan oleh seekor anjing raksasa berkepala tiga.


"Keberos!" ujar Kenan, langsung memasang badan, berdiri di depan Raja Aiden dengan menghunuskan pedangnya ke arah makhluk mengerikan tersebut.


ROOAAARR ...!!!


Makhluk bernama Keberos itu tiba-tiba saja mengaum, dan langsung menghantam Kenan dengan satu cakarnya. Beruntung Kenan dapat bergerak cepat menghindar, dan di saat itu juga Raja Aiden lanjut bergegas menuju barisan paling belakang.


Kenan bergerak cepat masuk di antara keempat kaki makhluk tersebut, dan menebaskan pedangnya ke kulit anjing berkepala tiga itu. Akan tetapi kulitnya sangat keras, bahkan hanya menyebabkan goresan ringan. Seekor keberos itu tak tinggal diam, ia segera melompat, dan menebaskan ekornya yang tajam dan runcing itu ke arah Kenan.

__ADS_1


Aarghhh ...!!!!


Tak mengenai sosok Kenan yang sudah lebih dahulu melompat ke bekakang, ekor tersebut justru mengenai banyak dari prajurit lain yang berada di sekitarnya, tak peduli itu teman ataupun lawan, semuanya ditebas oleh makhluk besar mengerikan itu.


"Sialan! Harus memakai sihir!?" gusar Kenan, kesal dengan tatapan tajamnya ke arah makhluk itu.


...


Di sisi lain, Raja Aiden sudah berlari di antara mayoritas prajurit-prajuritnya. Tatapannya masih tertuju ke arah langit di depan, melihat bayangan hitam itu semakin mendekati barisan belakang pasukannya. Tampak sudah ada banyak pemanah yang melesatkan anak-anak panah mereka, akan tetapi semuanya percuma karena hanya bisa menembus bayangan tersebut, tak menghentikannya dan semakin cepat.


"Tak akan semp--"


SLiingg ...!!!!


DUUAARR ...!!!


Sudah berusaha keras untuk berlari menuju lini belakang pasukannya, namun usaha tersebut tidak sempat. Sebuah kilatan cahaya berwarna putih menyilaukan tiba-tiba saja muncul, sebelum kemudian membuat sebuah ledakan berskala besar. Ledakan tersebut menghantam, melenyapkan, serta menghempaskan apa saja yang berada di sekitarnya, bahkan bukit-bukit di wilayah itu juga ikut terhempas bagaikan kapas-kapas yang berhamburan. Tubuh sang raja juga ikut terkena dampaknya, terhempas beberapa meter ke belakang bersama banyak prajuritnya.

__ADS_1


Astaroth menyaksikan semua hal yang terjadi di dalam pertempuran yang ada tepat di bawahnya, termasuk ledakan yang baru saja melumpuhkan lini belakang pasukan musuh hanya dalam sekejap. Laki-laki berambut hitam itu kemudian menyeringai, dengan sorot mata tajam berwarna merah. Ia tampak senang sekaligus puas dengan apa yang baru saja dilihatnya.


__ADS_2