
Berjalan di antara luasnya peternakan, pemandangan serta suasana yang masih asri. Altezza berjalan bersama seorang biarawati bernama Alia melewati beberapa peternakan yang sangat amat luas. Tak hanya mereka berdua, Arthur juga turut berjalan di antara keduanya. Bocah laki-laki itu sepertinya memang memiliki kepribadian yang cukup aktif, tidak bisa diam, meski lututnya masih terasa sakit.
"Sekali lagi aku ingin ucapkan terima kasih karena sudah membawanya kembali," ujar Alia, sempat menoleh dan menatap paras pengembara laki-laki yang berjalan tepat di sampingnya.
"Kebetulan saja aku berada tidak jauh dari Arthur yang terjatuh, karena terdengar suara keributan itu, maka dari itu aku mendatanginya," sahut Altezza, terlihat tersenyum kecil.
Beberapa langkah terus berjalan, melewati banyak sekali domba-domba yang sedang menikmati segarnya rumput di wilayah mereka. Tak hanya domba, namun juga terlihat adanya kawanan sapi, kerbau, kuda, dan angsa yang juga terlihat di beberapa peternakan di desa tersebut. Desa Vesperin memiliki tanah yang sangat luas, dan mampu untuk menciptakan tempat tinggal yang nyaman bagi hewan-hewan ternak yang ada di desa tersebut.
Situasi canggung sempat tercipta, terlihat sekali bahwa Alia cukup gugup dan bingung untuk mencari topik pembicaraan. Pandangan dari gadis berambut pirang dan berpakaian seorang biarawati itu terus ke depan, mengawasi bocah bernama Arthur yang sudah beberapa langkah lebih dahulu meninggalkannya.
Altezza sempat menoleh, menatap biarawati yang berjalan di sampingnya dan bertanya, "Arthur sempat bercerita padaku kalau para bandit itu sering mengganggu desa akhir-akhir ini, apakah itu benar?"
Pandangan Alia sedikit tertunduk ke bawah ketika mendengar pertanyaan tersebut, "benar," jawabnya singkat.
"Mengapa mereka melakukan itu? Apakah ada alasan tertentu?" tanya Altezza kembali.
Alia menggelengkan kepalanya dan menjawab, "aku tidak tahu pasti mengenai alasan mereka, namun yang jelas mereka telah mencuri bahkan membunuh beberapa hewan ternak kami tanpa alasan yang jelas."
"Tak hanya itu, mereka juga sempat merampas banyak hal akhir-akhir ini. Mungkin karena itu Arthur mengejar mereka tadi pagi, dan berhasil membuat satu desa kebingungan dibuat mencarinya," lanjut Alia kemudian tersenyum kecil dengan pandangannya yang tak bisa lepas dari bocah laki-laki yang sudah lebih dahulu berlarian meninggalkannya bersama Altezza.
__ADS_1
"Laporkan saja permalasahan seperti ini kepada istana, aku yakin pasti akan segera diurus," cetus Altezza, dengan santainya memandang sedikit ke arah langit.
Alia tersenyum, mengangguk kecil dan berkata, "sudah, kami sudah melaporkannya, dan akan pihak dari kerajaan akan turun tangan mulai besok."
"Oh iya! Aku sampai lupa memperkenalkan diri, namaku Alia, dan aku adalah seorang biarawati dari gereja Desa Vesperin," lanjut Alia tampak sedikit gugup dan salah tingkah, mengingat dirinya belum memperkenalkan diri secara langsung.
Altezza hanya tersenyum dan berbicara, "salam kenal, Alia. Aku Altezza."
Arthur tampak berlari kembali menghampiri mereka berdua, dan menatap kepada Alia sembari berkata, "kita makan siang apa hari ini, Kak Alia?" dengan sikap antusiasnya.
"Kak pengembara juga ikut makan siang bareng, ya!" lanjut Arthur, beralih menatap kepada Altezza dengan pupil mata sedikit membesar, menunjukkan sebuah permohonan.
Altezza tidak langsung menjawab perkataan Arthur, ia lebih dahulu menatap kepada Alia yang juga pada saat ini menatap dirinya dan berkata, "ikutlah makan siang bersama kami, anak-anak pasti senang bertemu dengan seorang pengembara sepertimu."
***
Gereja Vesperin, bukanlah tempat yang megah dan mewah. Gereja tersebut menjadi tempat ibadah warga di desa, sekaligus menjadi tempat tinggal dari beberapa anak yatim piatu. Gereja tersebut dipimpin oleh seorang pendeta perempuan berambut cokelat kemerahan bernama Kezia, dan dibantu oleh beberapa biarawati lain seperti Alia. Kehadiran Altezza disambut hangat dan sangat baik di gereja tersebut, terlebih ada sekitar delapan anak yang tinggal di gereja itu juga ikut menyambut kedatangannya.
Anak-anak yang tinggal di gereja tersebut adalah anak-anak baik, terlihat dari bagaimana sikap mereka kepada sesama dan orang yang lebih tua, sangat sopan dan ramah. Altezza cukup dibuat terkesan, dan juga berhasil dibuat tersentuh ketika melihat mereka.
__ADS_1
"Selamat datang, pengembara," ujar Keiza, menyambut kedatangan Altezza di pintu depan gereja kecil dan sederhana itu.
"Kak Arthur!" seru seorang gadis kecil berambut kemerahan, terlihat sangat senang sekali melihat Arthur, dan kemudian memeluk erat bocah laki-laki itu tepat di samping Altezza.
Pandangan serta perhatian Altezza tak bisa lepas dari mereka berdua, terlihat sangat manis sekali. Keiza menyadari hal tersebut dan berbicara, "meski mereka bukan sedarah, tetapi Arthur dan Lulu sudah seperti kakak beradik."
"Mereka semua anak-anak baik," ujar Altezza terlihat tersenyum, memandangi anak-anak lain yang tampak membantu beberapa biarawati membersihkan sisi-sisi gereja sesuai dengan kapasitas tubuh mereka yang masih kecil.
Keiza berjalan menuju ke samping gereja bersama Altezza sembari berbicara, "mereka memang anak-anak yang baik, namun tidak terlalu beruntung terlahir di keluarga yang tidak terlalu baik untuk mereka."
"Namun mereka pasti merasa beruntung bisa tinggal di sini," sahut Altezza sembari tersenyum dan sedikit melirik kepada Keiza yang berjalan di sampingnya.
Keiza hanya tersenyum lebar mendengar apa yang dikatakan, dan sampai di samping gereja, dirinya bertemu dengan Alia yang tampak sedang mencuci sayur-sayuran di dekat kran air dan berbicara, "apakah semuanya cukup?"
"Syukurlah, sangat cukup," jawab Alia sembari mencuci beberapa jenis sayuran yang ada di dalam keranjangnya.
Selain sayur-mayur, Alia juga tampak mempersiapkan beberapa buah serta kentang yang ada di keranjang lain. Ia tampak sedikit kerepotan, dan akhirnya Altezza berinisiatif untuk membantunya, "biarkan aku membantu," ucapnya.
"Aku juga!"
__ADS_1
"Aku juga mau bantu!"
Beberapa anak laki-laki dan perempuan yang kebetulan sedang berada di sana tampak terpanggil, dan langsung mengajukan diri untuk membantu Alia membawa beberapa keranjang tersebut. Alia mempersilakan, dan Altezza pun membantunya, bersama dengan anak-anak yang ada di gereja itu. Mereka tampak senang sekali bisa ikut membantu.