
Sebuah ledakan terjadi di bagian benteng Istana Kerajaan Mystick hingga membuat bongkahan-bongkahan es pada benteng tersebut berhamburan. Hancurnya salah satu bagian benteng tersebut adalah ulah dari Aurora yang secara sengaja menggunakan sihirnya dan menciptakan ledakan. Setelah sebuah celah yang muat baginya untuk lewat tercipta, Aurora segera mengambil langkah cepat, keluar dan berlari melarikan diri dari istananya sendiri.
Situasi dari bagian belakang benteng istana tidaklah ramai dengan penjaga, maka dari itu Putri Aurora memilih bagian tersebut untuk menciptakan celah bagi dirinya melarikan diri. Pergerakan dari Aurora tampaknya terbaca dengan sangat mudah, dirinya langsung dikejar oleh beberapa prajurit penunggang kuda dengan ciri-ciri pakaian jubah serta zirah hitam. Mereka berjumlah kurang lebih lima orang, dan bersenjatakan tongkat sihir panjang berwarna hitam pekat.
"Mereka bukan manusia!?" ujar Aurora, sempat menoleh ke belakang dan menyaksikan sendiri sosok-sosok yang mengejar dirinya. Para penunggang kuda itu memiliki aura berwarna hitam yang sangat pekat, dan mengerikan.
"Celaka--!"
Beberapa meter setelah dari benteng istananya, langkah dari Aurora harus terganggu. Kelima penunggang kuda yang mengejar menyerang dirinya. Mereka mengayunkan tongkat yang mereka bawa, dan kemudian melesatkan sebuah bola sihir berwarna hitam dengan sangat cepat ke arahnya.
Beberapa ledakan kecil pun terjadi, membuat Aurora terjatuh dan tersungkur dengan sangat keras dan kasar. Namun gadis berambut putih itu tidak ingin menyerah begitu saja, tidak peduli kalau dirinya terluka ataupun cedera, ia langsung bangkit dan kembali berlari hingga menuju ke benteng kota Kerajaan Mystick.
Benteng yang amat besar tinggi menjulang, terbuat dari es yang sangat tebal dan kokoh, dan semuanya berwarna biru. Aurora berlari ke arah dinding es tersebut, sembari mengulurkan kedua tangannya ke depan dan merapalkan sebuah mantra. Ketika kedua telapak tangannya perlahan mulai bercahaya biru muda, konsentrasi Aurora buyar dengan entitas sihir berwarna hitam gelap berukuran sangat besar yang tiba-tiba saja terbang ke arahnya dari arah samping.
Tatapan iris biru milik Aurora sempat terbelalak, sebelum akhirnya dirinya ditabrak oleh entitas sihir berbentuk layaknya debu beterbangan itu, dan membuat tubuhnya terhempas cukup jauh hingga membentur salah satu bangunan yang juga terbuat dari lapisan es dan salju.
__ADS_1
"A-duh ...!" rintih Aurora dengan kedua mata masih setengah terpejam dan pandangan buram, tersunkur kesakitan setelah punggungnya membentur dengan sangat keras.
Ketika kedua matanya perlahan terbuka, ia melihat sepasang kaki laki-laki yang tertutup oleh zirah besi berwarna hitam, berdiri tepat di hadapannya. Perlahan Aurora mengangkat pandangannya, dan dirinya bisa melihat sosok Pangeran Asta yang sudah berdiri di depannya dengan sorot mata berwarna merah, bukan biru muda seperti kedua mata milik Aurora lagi.
"Aku memang tidak segan padamu, Aurora. Aku bahkan bisa membunuhmu sekarang juga hanya dengan menjentikkan jari," ujar Asta dengan intonasi rendah dan terkesan sedang mengancam, menatap Aurora yang masih terduduk di atas tanah, tepat di kedua kakinya.
"Namun aku tidak ingin secepat itu melakukannya jika harus ku lakukan," lanjut Asta, berlutut secara perlahan, meraih dagu milik Aurora dan kemudian mengangkatnya, menatap kedua iris mata biru milik Aurora dengan sorot mata merah miliknya.
Tatapan itu sangat tajam, seolah sedang menggambarkan terdapat api yang menyala-nyala di dalamnya. Kedua iris mata milik Aurora saja sampai bergetar ketika dipaksa untuk menjalin kontak mata secara langsung dengan Pangeran Asta. Hati dan tubuh Aurora tidak dapat bergerak, sangat ketakutan seperti ketika seseorang melihat penampakan setan, sangat menyeramkan.
BRAAKK ...!!
Pintu terbuka dengan sangat kasar, membanting hingga membentur dinding kamar denagn sangat keras. Tubuh Aurora terdorong dan terjatuh dengan posisi tersungkur oleh laki-laki bermahkota hitam bernama Asta. Tempat atau kamar tersebut cukuplah kecil, bahkan lebih kecil daripada penjara bawah tanah.
Aurora masih terduduk di atas dinginnya lantai, dengan kedua tangan terikat oleh ikatan sihir yang sangat kuat beraura hitam. Tatapan gadis cantik itu hanya bisa berkaca-kaca, menatap getir sosok Asta yang masih berdiri di ambang pintu kamar dengan sorot mata merah yang semakin membuatnya terlihat sangat mengerikan.
__ADS_1
"Astaroth, kumohon hentikan apapun rencanamu, karena semua itu akan percuma!" ucap tegas Aurora, memberanikan diri untuk menatap kedua mata merah milik Asta langsung.
Namun Pangeran Asta hanya diam, tidak menggubris sedikitpun apapun yang dikatakan oleh Aurora. Ia perlahan mengulurkan salah satu tangannya, tampak komat-kamit kecil merapalkan mantra kuno, dan kemudian membuat ikatan sihir yang mengikat kedua tangan Aurora terlepas.
DEG!
Akan tetapi tubuh Aurora tiba-tiba saja terasa sangat sakit, sesak, tidak bisa bernapas hingga membuatnya tertunduk dengan kedua tangan memegangi dadanya.
"A-apa ... yan ... uhukk!" rintih Aurora, sesak, menatap Asta yang masih berdiri di sana dengan posisi yang sama.
"Maaf, Aurora. Karena kau sangat keras kepala, maka aku harus mengambil kekuatan magismu," ujar Asta dengan sikap yang tenang seolah sedang tidak terjadi apa-apa.
Sebuah cahaya berwarna biru muda dan bersinar sangat terang tiba-tiba saja muncul, keluar menembus dada milik Aurora, terbang dan berakhir dalam genggaman Asta. Ketika cahaya tersebut keluar, tubuh Aurora kehilangan keseimbangannya, dan membuatnya tersungkur lemas dengan pandangan perlahan buram.
Laki-laki itu tampak menyeringai ketika cahaya bulat yang bersinar sangat terang itu berada di atas telapak tangannya, "aku tidak menyangka akan bisa merasakan kekuatan magis sehebat ini," ujarnya, menggenggam cahaya tersebut dan kemudian menghilang.
__ADS_1
Setelah itu, Asta beranjak pergi begitu saja, dan pintu besar kamar tersebut tertutup rapat-rapat. Ia tidak lagi mempedulikan kondisi Aurora yang masih tersungkur lemas, bahkan tidak bergerak sama sekali setelah cahaya tersebut direnggutnya dari tubuh gadis itu.