
Di kamar milik Sang Ratu, Altezza dibuat tercengang dengan sebuah buku yang diambil oleh Caitlyn dari rak buku di kamar tersebut. Buku yang cukup besar, dan sangat amat tebal, lebih tebal daripada buku Benua Timur yang sempat ia baca di perpustakaan istana beberapa waktu yang lalu.
"Ibu sedang bercanda?" gumam Altezza menatap tidak percaya buku yang sangat tebal itu.
Caitlyn terkekeh ketika menunjukkan buku tersebut kepada putra bungsunya. Melihat ekspresi minat baca putranya yang sepertinya langsung kabur begitu saja, membuatnya tertawa terbahak-bahak sesaat. Dirinya sangat mengenal sosok Altezza, dia adalah laki-laki yang tidak terlalu suka membaca buku, hanya membaca ketika perlu saja. Maka dari itu, wanita itu membawa buku tersebut ke sebuah meja belajar di kamarnya, dan kemudian duduk di sana sembari membuka ratusan halaman.
"Basilisk, hewan yang muncul ketika perang besar satu abad yang lalu, yang melibatkan pasukan aliansi antar manusia, elf, kurcaci, dan manusia setengah binatang. Basilisk dimunculkan oleh salah satu iblis bernama Asmodeus, yang dimana ia memiliki berbagai kemampuan, salah satunya adalah dapat mengendalikan roh." Caitlyn memulai bacaannya ketika sudah sampai di halaman pertengahan buku tebal dan besar tersebut.
Altezza duduk di tepi ranjang, dan menyimak dengan saksama bacaan dari ibundanya yang membaca untuk dirinya. Terdapat dua hal yang menarik perhatiannya ketika Caitlyn memulai bacaannya mengenai Basilisk.
"Elf, Kurcaci, dan Manusia setengah binatang. Sekarang mereka semua ada di mana? Mengapa aku belum pernah mendengar sesuatu soal kerajaan atau negeri mereka?" tanya Altezza, terlihat cukup bingung.
Caitlyn menoleh, menatap putranya dan menjawab pertanyaan tersebut, "setiap bangsa memiliki kehidupannya sendiri, Altezza. Hal terakhir yang ibu ketahui, mereka memilih untuk hidup di dunia mereka sendiri," ucapnya dengan intonasi lembut.
"Mengapa seperti itu? Bukankah kalau kita hidup bersama, semuanya akan jauh lebih indah?" sahut Altezza.
Caitlyn menggeleng dan langsung berkata, "tidak semuanya akan lebih indah, karena ketiga bangsa itu memiliki karakteristik mereka masing-masing, dan hal tersebut-lah yang membuat kita tidak dapat hidup berdampingan secara langsung."
Wanita anggun itu kemudian membalikkan halaman bukunya, dan menemukan penjelasan mengenai ketiga bangsa tersebut. Elf, Kurcaci, dan Manusia Setengah Binatang.
__ADS_1
"Elf terkenal dengan keanggunannya, kecantikan, dan berkelas, mereka sama seperti para bangsawan manusia yaitu kita. Selain itu mereka memiliki keterikatan erat dengan alam," ucap Caitlyn, menjelaskan beberapa hal tentang elf.
"Cantik? Memangnya mereka semua perempuan?" cetus Altezza dengan polosnya ketika mendengar soal 'kecantikan'.
Caitlyn terkekeh kecil melihat serta mendengar pertanyaan tersebut, "tentu saja tidak, sayang. Mereka sama seperti kita, ada laki-laki ada juga perempuan."
"Lalu yang lainnya bagaimana? Lanjutkan, Bun!" ujar Altezza, menaikkan kedua kakinya di atas ranjang tersebut, dan perlahan memposisikan dirinya bersandar di sandaran kasur tersebut.
Ratu Caitlyn tampak tersenyum melihat sifat kekanak-kanakan putra bungsunya muncul, persisi seperti masa kecil Altezza yang hampir selalu meminta dirinya untuk membacakan cerita sebelum tidur.
"Kurcaci, meski mereka makhluk pendek, namun mereka terkenal dengan ketangguhan, kepiawaian di pertambangan, kerajinan, dan keahlian dalam membuat perangkat teknologi."
"Bagaimana dengan manusia setengah binatang yang sempat ibu sebutkan?" cetus Altezza bertanya dengan tatapan penuh penasaran.
Caitlyn menghentikan sejenak aktivitas bacanya, menatap hangat putranya sembari menjawab pertanyaan tersebut, "mereka sama seperti kita manusia biasa, yang membedakan kita dan mereka adalah mereka memiliki telinga serta ekor layaknya hewan," ucapnya.
"Bagaimana dengan kulit mereka?" tanya Altezza.
"Kebanyakan yang ibu ketahui, mereka tetap memiliki kulit yang sama seperti kita, hanya saja mereka memiliki telinga serta ekor hewan yang tidak kita miliki," jawab Caitlyn.
__ADS_1
Altezza masih menatap ibundanya dengan tatapan penasaran, apalagi mengenai hal tersebut, manusia setengah binatang yang dirinya sendiri belum pernah menyaksikan atau melihat secara langsung dengan kedua matanya.
"Lalu mereka sekarang ada di mana?" ucap Altezza kembali bertanya.
Pandangan Caitlyn terlihat cenderung menunduk mendengar pertanyaan tersebut, tersenyum kecil dan menjawab, "kesenjangan sosial yang terjadi setengah abad terakhir membuat banyak dari mereka dijadikan budak."
"Karena hal tersebut, mereka selalu membatasi diri dan memilih untuk menghilang, menjauhi kita bangsa manusia," lanjut Caitlyn.
Altezza terlihat sedikit kecewa dan sedih mendengar hal tersebut. Namun rasa penasarannya tetap saja tidak surut, "di mana aku bisa melihat atau bertemu mereka?" tanyanya kembali.
Ratu Caitlyn tampak tersenyum hangat, menutup buku tebal yang ada di atas mejanya, memandang wajah putra bungsunya dan berkata, "dunia ini sangat luas, Altezza. Jelajahilah dunia ini, sepuasmu. Kelak kau akan mengetahui banyak hal yang belum pernah kau ketahui, salah satunya mungkin saja kau akan bertemu salah satu dari mereka."
Altezza tersenyum senang, memandang ke arah langit-langit kamar yang luas dan mewah tersebut sembari berkata, "aku tidak sabar musim semi!"
"Memangnya apa yang sudah kamu persiapkan?" tanya Caitlyn, berpindah duduk di tepi ranjang tersebut, lebih dekat dengan putranya yang bersandar pada sandaran kasur miliknya.
"Aku merasa siap, namun tidak begitu yakin juga, sih. Apakah ibu bisa bantu aku apa saja yang perlu dipersiapkan?" ujarnya, menatap ibundanya yang kini berada di hadapannya.
Ratu Caitlyn tampak tersenyum lembut dan menjawab, "baiklah, besok ibu bantu, ya ...!"
__ADS_1