Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Cuti Tiba-tiba #62


__ADS_3

Berkuda di antara hamparan salju yang amat luas, ditambah tidak berkuda sendirian. Altezza berada di atas kuda yang sama dengan Bianca. Perempuan itu tampak duduk tepat di belakang Altezza, dan berpegangan erat ketika Altezza memacu kencang kuda putih itu.


"Yang Mulia, bisakah lebih pelan?!" cetus Bianca, sedikit berteriak.


Altezza tertawa mendengar hal tersebut, apalagi ketika menyadari bahwa Bianca cukup takut ketika ikut berkuda bersamanya, melaju di atas hamparan salju yang cukup luas. Pangeran muda itu kemudian sedikit memperlambat kuda yang ia kendarai agar Bianca tidak lagi ketakutan.


Bianca tampak menghela napas lega ketika kuda tersebut berlari kecil, dan tidak sekencang sebelumnya. Namun meski begitu, kedua tangannya tidak dapat lepas dari pinggang milik Altezza, masih saja memegang erat jubah putih milik pangeran itu.


"Memangnya ini benar-benar pengalaman pertama mu berkuda?" tanya Altezza.


"Iya, Yang Mulia. Saya tidak pernah berkuda sebelumnya," jawab Bianca, memandang ke arah bawah, melihat bahwa kuda tersebut lebih tinggi daripada tanah. Apalagi kuda putih yang digunakan oleh pangeran itu sangatlah gagah dan besar, dan tentu hal tersebut semakin membuat Bianca cukup cemas ketika menungganginya, berpikiran jika jatuh dari atas kuda itu pasti akan sakit.


Altezza terlihat tersenyum senang mendengar jawaban tersebut, sebelum kemudian ia tiba-tiba saja berbicara, "berarti aku jadi yang pertama memberikan pengalaman ini untukmu."


Tidak menjawab, menanggapi atau berkata-kata. Bianca hanya diam, namun tersenyum secara sembunyi-sembunyi dengan kedua pipi merona, apalagi jarak dirinya dengan pangeran itu sungguh dekat bahkan hingga bersentuhan, kepala milik Bianca saja bisa dengan mudahnya bersandar pada punggung milik Altezza.


Tidak berselang lama, mereka berdua mulai memasuki sebuah hutan yang tidak terlalu besar, dan kemudian langsung bertemu dengan sebuah danau yang amat luas namun dalam keadaan beku. Altezza menghentikan kudanya, dan kemudian perlahan turun terlebih dahulu sebelum kemudian ia membantu gadis dengan jubah hangat berwarna putih itu juga ikut turun.

__ADS_1


"Terima kasih, Yang Mulia," ucap Bianca sesaat setelah dibantu oleh Altezza untuk turun dari kuda yang lebih besar daripada tubuhnya.


Sesaat setelahnya, kuda putih itu tiba-tiba saja berlari pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua. Melihat hal tersebut tentu membuat Bianca terkejut, dan cukup panik, karena kuda itu satu-satunya transportasi yang membawa mereka berdua.


"Dia pergi ke mana ...?!" cetus Bianca, menatap bingung, melihat kuda tersebut berlari menuju ke dalam hutan.


"Biarkan saja, dia mungkin ingin mencari rumput segar, apalagi melihat hampir semua tanaman di sini terselimuti oleh salju," jawab Altezza, tampak sangat santai, berbeda sekali dengan Bianca yang masih terlihat bingung bercampur panik ketika melihat kuda itu pergi begitu saja.


Altezza kemudian berjalan mendekati danau yang beku itu, diikuti oleh Bianca dari belakangnya sembari bertanya, "apakah dia akan kembali?"


"Tenang saja, dia akan kembali saat aku memintanya," jawab Altezza, tersenyum sembari melirik gadis itu di sampingnya. Bianca terlihat lebih tenang ketika Altezza berbicara seperti itu.


Cuaca yang sangat dingin dengan salju-salju kecil yang turun secara perlahan di tempat tersebut. Pepohonan, semak-semak, dan rerumputan di sekitar danau tertimbun serta terselimuti oleh salju yang cukup tebal. Pemandangan hanyalah warna putih salju dan danau luas yang beku.


"Mengapa anda mengajak saya ke sini, Yang Mulia?" tanya Bianca, berdiri tepat di samping Altezza yang tampak sangat tenang berdiri di tepi dermaga, tidak takut jatuh--meskipun jatuh juga tidak akan membuatnya tenggelam dengan kondisi danau yang beku.


"Aku ingin mendengar pendapat mu mengenai sesuatu hal," jawab Altezza, menghembuskan napasnya yang dingin kemudian.

__ADS_1


Bianca tersenyum mendengar jawaban tersebut, menoleh dan menatap laki-laki yang berdiri di sampingnya lalu berkata, "kalau begitu sebenarnya anda tinggal mendatangi saya ke perpustakaan di saat jam istirahat, tidak perlu sampai mengirimkan surat resmi istana kepada kepala perpustakaan yang isinya adalah perintah untuk memberikan saya jatah cuti untuk hari ini."


Altezza tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh perempuan itu. Tepatnya pagi tadi, Bianca sangat terkejut mendapatkan surat cuti dari kepala perpustakaan, karena hal tersebut sangat tiba-tiba. Namun rupanya itu semua kerjaan Altezza yang sengaja membuat Bianca menerima cuti gratis dari atasannya.


"Maaf soal itu," ujar Altezza, berakhir dengan senyuman tipisnya.


Bianca menggelengkan kepalanya, "tidak apa, terima kasih, Yang Mulia. Saya akhirnya merasakan jatah cuti di hari ini," ucapnya, menghirup udara segar pagi menjelang siang hari ini di antara dinginnya salju.


"Jadi soal apa yang ingin anda bicarakan?" lanjut Bianca, menoleh dan menatap hangat laki-laki itu.


"Aku memutuskan untuk pergi berkelana setelah musim dingin berakhir." Altezza langsung berbicara hal yang rupanya langsung membuat senyum Bianca pudar secara perlahan dengan tatapan kosong tidak menyangka.


"Namun aku tidak yakin apakah raja akan mengizinkan--" Altezza langsung menghentikan ucapannya ketika menoleh dan menatap wajah datar dengan tatapan kosong dari Bianca, "hei, kau baik-baik saja?" cetusnya.


"Ah! Ma-maaf, Yang Mulia. Sa-saya ...." Bianca langsung terpecah dari lamunan, kembali tersenyum meski terkesan dipaksakan, dan melanjutkan ucapannya, "saya hanya ... kepikiran soal ... pekerjaan, hehe," kemudian diakhiri dengan tawa kecil yang cukup dipaksakan.


Altezza tampak cukup khawatir terhadap gadis di hadapannya. Secara tiba-tiba ia melepas salah satu sarung tangan putih yang ia pakai, dan kemudian meraih serta meletakkan telapak tangan tersebut tepat di kening milik Bianca sembari bertanya, "kau tidak sedang sakit, 'kan ...?!"

__ADS_1


Cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Altezza, terlebih dengan jarak yang sangat dekat, "ti-tidak, Yang Mulia! Saya baik-baik saja, saya sehat, kok!" sahut Bianca dengan wajah yang cukup merona.


"Bagaimana tadi? Silakan dilanjut!" lanjut Bianca, tampak cukup gugup.


__ADS_2