Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Surat untuk Rumah #87


__ADS_3

Hari semakin malam, dan Altezza harus segera beristirahat. Dengan membawa tas ranselnya, ia berjalan menuju ke sebuah bangunan kecil yang ada di halaman belakang rumah kepala desa. Ketika pintu kayu itu ia buka, dirinya dapat melihat sebuah kamar yang sangat sederhana, bersih, rapi, bahkan lantainya saja kayu jati yang terkesan elegan. Di dalam kamar itu tentu ada sebuah ranjang yang terletak dekat dengan jendela dan hanya cukup untuk satu orang saja, lemari kayu, serta sebuah meja belajar yang sudah ada pena dan beberapa kertas di atasnya.


Altezza meletakkan pedangnya di atas meja belajar tersebut, dan ransel miliknya ia sandarkan di dekat dengan lemari, sebelum kemudian dirinya duduk di atas ranjang tersebut. Kecil, namun terasa cukup empuk dan nyaman.


Tak berselang lama, Shiro datang dan hinggap di jendela kayu kamar tersebut. Altezza memandang elang berbulu putih bersinar itu dengan tatapan hangat, tersenyum kecil dan berbicara, "kau mau membantuku mengirim surat lagi, 'kan?"


Menjawab pertanyaan tersebut, Shiro seolah menganggukkan kepalanya dua kali, dan berkicau layaknya burung biasa bukan seperti seekor predator. Melihat jawaban serta reaksi tersebut, Altezza beranjak duduk di meja belajar itu, dan kemudian langsung mulai menuliskan beberapa kalimat di atas sebuah kertas yang telah ia robek menjadi kecil.


Laki-laki berpakaian abu dan jubah hitam itu tampak tersenyum dengan sendirinya ketika menulis surat yang hendak ia kirim. Tidak hanya satu robekan kertas saja, namun ia membuat satu surat lagi di robekan kertas yang berbeda. Tidak membutuhkan waktu lama, Altezza telah menuliskan beberapa kalimat kecil di robekan kertas pertama, dan beberapa kalimat kecil di robekan kertas kedua, sebelum kemudian dirinya melinting kedua robekan kertas tersebut menjadi kecil.


Altezza sedikit merobek sebuah ikatan kulit dari tasnya, dan kemudian mengikatkan tali kecil yang terbuat dari kulit itu pada kaki kanan milik Shiro. Laki-laki itu terlihat sangat hati-hati dan telaten ketika mengikat tali tersebut, karena tentu saja dirinya tidak ingin mengikatnya terlalu kencang sehingga membuat hewan tersebut kesakitan. Setelah ikatan itu terpasang, dan dipastikan kuat ketika dibawa oleh Shiro bermanuver serta terbang dengan cepat. Altezza mengambil kedua lintingan kertas yang sebelumnya ia letakkan di atas meja, dan kemudian memasangkan kedua kertas tersebut pada ikatan tali berbahan kulit yang kini sudah terpasang di kaki kanan milik Shiro.


"Surat yang ini untuk istana, dan surat yang kedua hantarkan ke asrama perempuan kerajaan." Altezza berbicara sembari menunjukkan kedua surat itu secara berurutan terlebih dahulu kepada Shiro.


Ketika kedua surat kecil itu telah terpasang dan dipastikan tidak akan jatuh ketika dibawa terbang oleh Shiro. Altezza menghela napas, menatap iris mata tajam berwarna kuning milik Shiro dan berkata, "aku mengandalkan mu, dan aku percaya pasti kau tahu kedua surat ini harus diberikan kepada siapa."

__ADS_1


"Kau meremehkan ku, Altezza ...?"


Suara lembut dan sopan terdengar di dalam kepalanya, menanggapi perkataan terakhir Altezza. Mendengar suara tersebut terdengar, laki-laki itu tampak tertawa kecil dan berbicara, "sampaikan kedua surat itu kepada mereka," dengan senyuman yang terukir pada wajahnya.


Elang putih itu kemudian melebarkan kedua sayapnya, sebelum kemudian ia mengepakkannya hingga membuatnya terbang sangat tinggi dan dengan sangat cepat menghilang dari pandangan mata. Terbang di bawah ribuan bintang serta cahaya bulan yang bersinar terang di malam ini. Pemandangan indah di malam hari, dan tidak pernah membuat bosan meski dilihat berkali-kali.


Altezza menutup jendela tersebut beserta tirai putihnya, sebelum akhirnya ia berbaring pada ranjang tersebut dan perlahan menutup mata untuk beristirahat sejenak. Tempat sederhana namun sangat nyaman, hangat, suasana kehangatan yang sama seperti ketika di kamar istananya.


***


Shiro terbang dengan sangat cepat, mengepakkan kedua sayapnya yang lebar dan besar, melintasi beberapa wilayah hanya dalam hitungan menit. Elang putih itu terbang di bawah cakrawala malam yang sungguh indah bertabur bintang, dan di atas awan-awan malam yang tampak gelap. Tidak ada mahluk lain selain dirinya yang saat ini terbang di malam hari.


Beberapa kali elang berbulu putih itu terbang mengelilingi istana terlebih dahulu, sebelum kemudian menghampiri sebuah jendela yang terletak di bangunan utama istana lantai tiga. Shiro mengepakkan kedua sayapnya, terbang di tempat layaknya merpati pengirim surat, dan mengetuk jendela besar tersebut yang tertutup tirai putih dari dalam dengan paruhnya yang kuat.


Seorang wanita cantik berambut panjang berwarna cokelat muda tampak menghampiri jendela kamarnya, dan membuka tirai. Kedua iris mata berwarna hitam miliknya terbuka lebar, melihat sosok Shiro yang menunggu dirinya membukakan jendela untuknya.

__ADS_1


"Shiro, ada apa?" ucap Ratu Caitlyn, jendela tersebut terbuka, dan Shiro hinggap di sana.


Pandangan Caitlyn tertuju kepada kaki kanan milik Shiro, melihat dua buah kertas yang dilinting. Ia mengambil salah satu kertas tersebut yang berada di depan, dan kemudian membacanya.


"Terima kasih, Shiro," ucap Ratu Caitlyn ketika mengambil surat tersebut.


Shiro kembali merentangkan kedua sayapnya, dan kemudian terbang kembali setelah surat tersebut sampai kepada Ratu Caitlyn. Wanita bergelar ratu itu memandangi Shiro yang sudah terbang di langit, dan tersenyum kecil ke arah elang itu.


Terbang sedikit melewati ibu kota, dan ke arah tepian kota. Shiro melihat sebuah asrama yang berdiri kokoh dengan halaman yang cukup luas, dan kemudian terbang mendekati asrama tersebut. Elang tersebut sedikit berputar ke arah samping asrama, dan kemudian hinggap di atas sebuah pipa yang berada tepat di depan jendela dari sebuah kamar di lantai dua asrama.


Jendela tersebut terlihat sangat gelap, tertutup oleh tirai berwarna putih dari dalam. Shiro mengetuk kaca jendela itu menggunakan paruhnya, hingga memanggil seorang gadis berambut cokelat kemerahan mendekat dan membuka jendela tersebut.


"Shiro? Kamu sedang apa di sini?" tanya Bianca, menatap dengan ekspresi cukup terkejut dengan kehadiran Shiro.


Kepala Shiro menunduk ke bawah sembari berkicau kecil, dan mengangkat sedikit kaki kanannya, menunjukkan kepada gadis itu bahwa dirinya memiliki surat yang ditujukan kepada gadis di hadapannya. Bianca langsung peka, dirinya segera mengambil surat kecil yang digulung dan diikat di kaki kanan milik Shiro, dan kemudian membuka gulungan kertas itu untuk membacanya.

__ADS_1


Bianca tampak tersenyum senang dengan tatapan lembutnya ketika membaca kalimat yang tertulis cukup kecil pada robekan kertas yang kini ada di tangannya. Merasa tugasnya telah selesai, Shiro kembali pergi, mengepakkan sayapnya dan terbang ke langit hingga menghilang dari jangkauan pandangan.


"Terima kasih, Shiro ...!" gumam Bianca, tersenyum dan memandang ke arah langit malam.


__ADS_2