Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Berita Tersebar #116


__ADS_3

Ratu Victoria dari Kerajaan Victoria tampak dikejutkan dengan kehadiran putra satu-satunya yakni Pangeran Azura yang tiba-tiba saja mendatangi kamarnya. Laki-laki tampan berambut hitam dengan kedua iris mata berwarna biru itu tampak membawa sebuah surat resmi dengan cap elang berwarna emas di salah satu tangannya. Ia segera menyampaikan surat tersebut kepada sang ibunda atau sang ratu yang hendak beristirahat malam ini.


Pintu diketuk, dan Pangeran Azura dipersilakan masuk ke dalam oleh Ratu Victoria sendiri. Wanita anggun berambut pirang itu sudah mengenakan dress tidur, dan tampak bingung dengan surat yang diterima oleh putranya.


"Zephyra?" gumam ratu duduk di tepi ranjangnya, melihat cap elang berwarna emas pada surat tersebut.


"Surat ini baru saja sampai, dan katanya harus segera dibaca," ujar Azura dengan mengerutkan dahinya, menandakan bahwa dirinya sendiri juga bingung. Laki-laki itu tampaknya masih belum membuka surat tersebut.


"Mengapa mereka mengirim surat selarut ini?" tanya Ratu Victoria sembari menerima serta membuka surat tersebut.


Pangeran Azura menggelengkan kepalanya, "aku tidak tahu, suratnya saja dikirim menggunakan merpati."


Ratu Victoria perlahan membuka surat tersebut, dan langsung membaca tulisan yang ada di dalamnya. Pangeran Azura tampak penasaran, menunggu ibundanya selesai membaca. Beberapa detik setelah membaca, sang ratu tampak membuka kedua matanya lebar-lebar, terkejut sekaligus bingung dengan apa yang ia baca.


"Ada apa?" tanya Azura penasaran.


Sang ratu tampak terdiam dengan pandangan tertunduk, syok tidak percaya terhadap apa yang baru saja ia baca. Karena tidak mungkin surat resmi tersebut hanyalah karangan atau lelucon belaka. Wanita itu memberikan surat itu kepada putranya, dan membiarkan laki-laki itu membacanya.


"Kegelapan menunjukkan intensitasnya di Selatan Zephyra," gumam Azura dengan intonasi rendah, membaca salah satu kalimat yang tertulis di secarik kertas yang kini berada di tangannya.


"Kita harus melakukan sesuatu ...!" lanjut Azura, mengangkat pandangannya perlahan, menatap sang ratu yang duduk di sebelahnya.


"Azura," ucap Victoria dengan intonasi lembut, menatap serius sosok laki-laki di hadapannya dan lanjut berkata, "lakukan apa yang harus kamu lakukan ...!"

__ADS_1


***


Di malam yang sama, dan waktu perlahan mulai memasuki sepertiga malam pertama. Seorang pria berjubah putih berambut cokelat kemerahan tampak berlutut di hadapan seorang ratu cantik berambut pirang yang duduk di kursi singgasananya.


"Selamat malam, Yang Mulia. Maaf mengganggu, saya ingin menyampaikan sebuah surat dari Zephyra yang baru saja datang melalui seekor merpati," ucap pria tersebut, mengangkat kepalanya, menatap sang ratu dan kemudian menunjukkan surat resmi dengan cap elang berwarna emas.


"Buka dan bacakan isi suratnya, Ethan ...!" pinta Ratu Freya kepada pria yang berlutut di hadapannya.


Ethan pun melaksanakan perintah tersebut, ia berdiri, dan membuka surat berukuran segenggam tangan itu sebelum kemudian membacakannya. "Kegelapan telah menunjukkan intensitasnya di perbatasan Selatan Zephyra, dan berhasil mengambil alih perbatasan hanya dengan entitas magis misterius berwarna gelap seperti tabir tebal. Pasukan Kegelapan juga telah memperlihatkan keberadaan mereka, membawa panji-panji hitam dan telah menerobos Perbatasan Selatan Zephyra."


DRAAPP ...!!!


Ratu Freya langsung berdiri dari kursi singgasananya dengan kedua iris mata biru yang tampak terbelalak terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh orang kepercayaannya, "kau yang benar saja?!" cetusnya, melangkah mendekati Ethan dan mengambil secarik kertas tersebut dari tangannya.


"Benar, Yang Mulia. Isi suratnya seperti demikian," jawab Ethan, menundukkan pandangan serta kepalanya.


"Kapan surat ini datang?" tanya Ratu Freya kepada Ethan dengan tatapan tajam dan serius.


"Baru saja, Yang Mulia." Ethan menjawab pertanyaan tersebut, meski dirinya sempat dibuat sedikit terkejut karena intonasi dari sang ratu yang cukup tinggi dan tegas.


Langkah dari wanita cantik berambut pirang dan sebuah mahkota emas di atasnya perlahan mendekat ke sebuah jendela di ruang singgasananya. Pandangannya memandangi pemandangan halaman istananya yang sangat luas mungkin hingga berhektar-hektar. Lampu-lampu taman tampak menyala indah malam ini dengan energi sihir di dalamnya, dan langit malam tidak terlalu cerah seperti biasanya.


"Ethan, lakukan apa yang harus kita lakukan sekarang juga untuk membantu saudara kita ...!" titah pertama keluar dari mulut sang ratu, tanpa menoleh sedikitpun kepada Ethan yang berdiri dua meter jauhnya di belakangnya.

__ADS_1


"Segera, Yang Mulia!" sahut Ethan, segera meninggalkan ruang singgasana yang sangat megah, bercahaya, dan luas itu.


***


"Aurora menghilang?!" cetus Asta, menggebrak salah satu sandaran tangan pada kursi singgasananya yang sangat mewah berlapis emas. Di hadapan sang pangeran tampak tunduk sesosok makhluk besar beraura hitam pekat dengan sepasang tanduk, sorot mata merah, dan sepasang sayap lebar berwarna hitam.


Iblis itu menjawab dengan intonasi berat dan rendahnya, "iya, Yang Mulia. Gadis itu tidak ada di ruang penahanan, dan tidak ada jejak magis ataupun tanda-tanda penghalang dirusak."


Pangeran Asta, atau lebih dikenal sebagai Astaroth di mata para pengikutnya. Laki-laki berambut hitam dan sorot mata yang perlahan berubah dari biru muda ke warna merah menyala, ia beranjak dari kursinya dan langsung memberikan perintah, "segera cari Aurora, dan tangkap dia hidup-hidup! Jika tidak, kau yang akan menggantikannya di dalam ruang penyiksaan neraka."


"Ba-baik, Yang Mulia!" sahut iblis itu tampak gemetar ketakutan, menundukkan kepalanya, sebelum kemudian segera berlari pergi keluar dari ruang singgasana yang sangat amat dingin itu.


Hari ini dan malam ini, Kerajaan Mystick telah melakukan pergerakannya. Di bawah kepemimpinan Astaroth, pasukan gabungan antara manusia dan iblis sudah bergerak merambah ke perbatasan yang paling dekat dengan Benua Tengah yaitu Perbatasan Selatan Zephyra. Akan tetapi kabar soal menghilangnya Aurora menimbulkan pertanyaan di dalam benak Astaroth. Untuk memastikan, Astaroth langsung saja menghampiri ruangan yang ia gunakan untuk mengurung Aurora. Ruangan tersebut berada di bawah tanah, dekat dengan penjara bawah tanah Kerajaan Mystick.


Saat ini, Astaroth berdiri tepat di depan pintu ruangan kecil itu yang tampak terbuka. Sebelum dirinya masuk untuk memeriksa, salah satu tangannya terulur ke depan terlebih dahulu dengan telapak tangan terbuka menghadap depan, dan dalam waktu singkat sebuah penghalang transparan pecah hingga lenyap.


Langkah dari laki-laki itu perlahan memasuki ruangan hampa dan kedap udara itu, terasa sangat pengap, benar-benar tidak ada oksigen di dalamnya. Kedua mata Astaroth perlahan semakin menyala, memeriksa setiap sudut ruangan yang gelap itu. Tidak ada apa-apa, jejak sihir ataupun kerusakan secara fisik, Astaroth tidak menemukan tanda-tanda Aurora berusaha melarikan diri dengan merusak segala sesuatu yang ada pada ruangan itu.


"Mustahil sekali! Bagaimana bisa dia melarikan diri!?" gusar Astaroth tampak kesal.


"SIALAN!!!"


BUGGHH!!!

__ADS_1


Astaroth memuluk salah satu dinding sisi ruangan dengan sangat keras, dinding tersebut retak dan secara tiba-tiba berubah menjadi lahar panas yang meleleh mengenai kedua kakinya. Kedua sorot matanya menyala-nyala seperti api, melupakan amarahnya dengan menjadikan dinding sebagai pelampiasan.


"Aku akan mencarimu, Aurora. Kau tidak boleh lepas dariku!" gumam Astaroth dengan salah satu telapak tangan memunculkan kobaran api berwarna merah setelah memukul keras dinding di hadapannya.


__ADS_2