Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Guru Dadakan #51


__ADS_3

Pengetahuan dasar soal sihir angin. Murid-murid kelas dasar itu terlihat sangat antusias saat mendengarkan guru mereka menerangkan materi tersebut, hingga pada akhirnya mereka dibuat terkejut ketika menyadari keberadaan Altezza, Welt, dan ketiga pangeran yang dari awal diam menyimak di belakang barisan mereka. Namun perhatian para murid itu sepertinya lebih tertarik tertuju kepada sosok Altezza yang berdiri tepat di sebelah Welt, dan bersikap biasa tanpa ekspresi.


"Yang Mulia, bolehkah aku melihat sihir angin anda?" cetus seorang anak laki-laki yang berdiri tepat di depan Altezza.


Welt tersenyum kecil, melirik kepada adiknya sebelum kemudian berceletuk, "siapa yang ingin melihat Pangeran Altezza mendemonstrasikan sihir angin?"


"Aku!!"


"Aku juga ingin melihatnya, Yang Mulia!"


Mereka dengan sangat bersemangat langsung menjawab secara serempak dan kompak. Guru laki-laki yang sebelumnya berada di depan anak-anak kemudian berjalan menghampiri para pangeran itu dan kemudian bertanya kepada Altezza, "apakah anda berkenan untuk melakukannya, Yang Mulia?"


Azura terlihat melirik Altezza dengan senyuman kecilnya, begitu pula dengan yang dilakukan oleh Cedric dan Xavier. Mereka tidak berbicara serta berkomentar lebih, hanya tersenyum melihat ekspresi Altezza yang cukup kewalahan menghadapi anak-anak kelas dasar itu.


"Tentu saja bisa! Pangeran Altezza dengan senang hati melakukannya," sahut Welt tanpa berpikir panjang dan memutuskan secara sepihak.


"Maksud--?!" belum selesai Altezza menyanggah untuk mengkomentari keputusan sepihak Welt. Welt meliriknya dengan senyuman kecil sembari berbisik, "apakah kau ingin menghancurkan harapan anak-anak, Altezza?"


Altezza menghela napas berat, memandangi ekspresi anak-anak kelas dasar yang terlihat sangat antusias menatap dirinya. Tidak ada pilihan lain, pangeran kedua itu kemudian berkata, "baiklah, aku akan menunjukkan kepada kalian bagaimana sihir angin bekerja."


"Hore!!"


"Terima kasih, Yang Mulia!"


Anak-anak itu bersorak gembira mendengar keputusan akhir Altezza yang mau mendemonstrasikan sihir angin miliknya di hadapan mereka. Ekspresi riang mereka tidak dapat disembunyikan dan ditahan-tahan, bahkan mereka juga tidak lupa untuk berterima kasih kepada pangeran tersebut.


Welt tertawa kecil menyaksikan adiknya perlahan berjalan maju ke depan barisan murid-murid kelas dasar. Begitu pula yang dilakukan oleh Azura, Xavier, dan Cedric, tertawa dan tersenyum ketika melihat Altezza berjalan di depan anak-anak kelas dasar.


"Anda cukup mendemonstrasikan dasar-dasarnya saja, Yang Mulia. Biar saya yang menjelaskan," ucap guru laki-laki itu.


"Ini pengenalan pertama untuk mereka, bukan?" sahut Altezza bertanya.


"Iya, Yang Mulia." Guru tersebut menjawab pertanyaan.


Pangeran muda itu tiba-tiba saja membuat keputusannya sendiri dengan berkata, "baik, biar aku saja yang menanganinya, jika hanya pengenalan dasar," kepada guru tersebut.

__ADS_1


"Benarkah?" sahut guru laki-laki itu, terkejut dengan keputusan Altezza. Altezza hanya tersenyum kecil dan mengangguk yakin.


Guru atau instruktur itu kemudian berjalan kembali ke barisan paling belakang murid-murid, dan berdiri tepat di sebelah Welt, "apa yang hendak dilakukannya?" tanya pangeran pertama kepada instruktur itu.


"Beliau berkata akan menanganinya sendiri jika hanya pengenalan dasar," jawab guru laki-laki itu, tersenyum melihat pangeran kedua hendak berbicara di depan murid-muridnya.


"Apa kalian sudah siap?" cetus Altezza, bertanya dengan intonasi yang terlihat cukup dipaksakan untuk bersemangat di depan anak-anak itu.


"Sudah!!" sahut mereka, serempak dan kompak sekali, antusias dan sangat bersemangat.


Tidak memiliki pengalaman dalam mengajar, namun Altezza sendiri tetap berusaha yang terbaik, mengingat anak-anak kelas dasar ini menjadi generasi penerus negerinya dan suatu saat mereka bisa saja menjadi ahli sihir yang lebih hebat daripada para ahli sihir kerajaan saat ini. Laki-laki berpakaian formal biru muda dengan syal biru di lehernya mulai berbicara di depan anak-anak itu, sembari tubuhnya dikelilingi oleh hembusan lembut angin yang selalu setia dengannya.


"Seperti yang sudah kalian ketahui, angin memiliki sifat dasar kebebasan yang membuatnya unik, dan sulit untuk dikendalikan. Kunci dari pengendalian angin adalah ketenangan, dan perasaan."


Anak-anak itu terlihat lebih antusias ketika Altezza yang menerangkan materi pelajaran mereka, bahkan mereka juga menatap kagum sosok Altezza yang terlihat keren di mata mereka, berdiri gagah dengan pakaian pangeran dan dikelilingi oleh aura angin yang dapat disaksikan serta dirasakan.


"Sama seperti sihir lain, sihir angin juga dapat digunakan untuk menyerang, bertahan, meningkatkan kemampuan persenjataan, dan bahkan juga bisa digunakan untuk hal-hal yang menyenangkan lainnya."


"Menyenangkan?" sahut salah satu siswi perempuan, menatap penasaran ketika mendengar bagian 'menyenangkan' itu.


Azura menghela napas menyaksikan cara mengajar Altezza sebelum kemudian berbisik kepada rekan-rekannya, "sepertinya dia lupa untuk merapalkan mantranya." Xavier dan Cedric hanya tertawa kecil, begitupula dengan Welt.


"Waahhh!!" murid-murid itu terpukau, menatap kagum ketika papan kayu yang tidak terlalu panjang itu melayang berkat hembusan angin yang berputar tepat mengelilinginya.


Altezza tersenyum melihat ekspresi gembira anak-anak itu, sebelum akhirnya ia menyudahi sihirnya untuk menerbangkan papan kayu tersebut. Mereka terlihat suka sekali ketika menyaksikan pangeran itu melakukan trik-trik menyenangkan menggunakan sihir angin tersebut.


"Lagi, Yang Mulia!"


"Kami ingin lihat lagi!"


"Sesuatu yang menyenangkan!"


Welt tersenyum menyaksikan siswa-siswi kelas dasar itu terlihat nyaman dan sangat menikmati momen ketika Altezza menunjukkan trik menyenangkan menggunakan sihir anginnya.


"Oke, baiklah, satu kali lagi, ya ...?" ucap Altezza, menghela napas, kemudian disusul oleh sorak gembira anak-anak itu.

__ADS_1


"Aku butuh dua orang, ada yang mau maju ke depan?" lanjut Altezza.


"Aku!!"


"Aku, Yang Mulia. Pilih aku!"


Mereka langsung antusias mengajukan diri, mengangkat salah satu tangan mereka, dan berharap dipilih oleh Altezza untuk maju ke depan. Altezza kemudian menunjuk dua orang siswa dan siswi untuk maju ke depan.


"Sini, kalian berdiri di sini, ya ...! Berhadapan dan saling berpegangan tangan." Altezza terlihat telaten dan sabar ketika mengarahkan anak laki-laki dan perempuan untuk berdiri di depan teman-temannya. Kedua murid yang terpilih itu terlihat senang dan antusias sekali, mereka berdua juga menurut dengan arahan yang diberikan oleh Altezza.


Kedua siswa-siswi itu sudah berdiri di depan teman-temannya, saling berhadapan dan berpegangan tangan. Altezza menerangkan terlebih dahulu apa yang hendak ia tunjukkan serta lakukan, "selain peningkatan untuk persenjataan, sebenarnya sihir ini juga bisa digunakan untuk meningkatkan serta memodifikasi benda ataupun pakaian yang kita kenakan."


Murid-murid terlihat bingung ketika mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh Altezza. Tak hanya mereka para murid, namun instruktur atau guru yang berbaris di barisan paling belakang mereka juga ikut merasa bingung. Berbeda dengan Welt, Azura, Cedric, dan Xavier yang terlihat sudah menduga apa yang akan dilakukan oleh Altezza.


Angin perlahan berhembus lembut mengelilingi kedua murid yang berdiri di depan teman-temannya. Tanpa merapalkan mantra, Altezza hanya mendekati kedua siswa-siswi itu, dan perlahan seragam akademi mereka terselimuti oleh aura berwarna hijau muda cerah. Semua murid yang ada di aula tersebut berhasil dibuat kagum dan terkesan.


"Apa yang kalian rasakan?" tanya Altezza.


"Ringan!" sahut siswi kelas dasar dengan ekspresi riangnya, "apa yang bisa dilakukan dengan ini, Yang Mulia?" lanjut siswa laki-laki bertanya kepada Altezza.


"Kalian bisa terbang menggunakan seragam ini, caranya cukup hentakkan sedikit kaki kalian untuk melayang," sahut Altezza.


Mereka berdua langsung mencobanya, menghentakkan kedua kaki mereka, dan kemudian secara perlahan tubuh kecil kedua murid itu melayang dikelilingi oleh hembusan angin yang terasa lembut terus mengelilingi tubuh mereka.


"Wahh!!"


"Keren!"


"Bisa seperti itu, ya?!"


Sontak apa yang dilakukan oleh Altezza langsung membuat decak kagum siswa-siswi yang berada di aula tersebut. Tak hanya para siswa, namun guru atau instruktur mereka juga turut menatap kagum dengan apa yang dilakukan oleh pangeran kedua.


"Untuk mengendalikannya, kalian cukup gerakkan tubuh kalian layaknya berenang," ucap Altezza tersenyum, sedikit mendongak ke atas memantau kedua murid yang masih beterbangan di atasnya. Tubuh mereka berdua masih terus dikelilingi oleh angin lembut miliknya yang terus menjaga keseimbangan mereka agar tidak hilang kendali dan saling menabrak.


"Persis seperti dahulu pada saat Altezza menerbangkan tubuh Xavier di perkemahan musim panas," celetuk Cedric ketika menyaksikan kedua murid itu melayang, kemudian tertawa kecil, melirik kepada Xavier yang berdiri tepat di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2