Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Duel #48


__ADS_3

"Tidak perlu ku jelaskan peraturannya, karena sebagai siswa akhir kalian seharusnya sudah mengetahuinya. Yang terpenting hentikan serangan serta netralkan sihir jika lawan kalian sudah memberikan kode untuk menyerah!" instruktur wanita itu berbicara dengan lantang di antara kedua siswa yang ada di tengah lapangan.


Instruktur itu perlahan mulai melangkah mundur ke tepi lapangan, melihat kedua siswa yang tampak sudah siap di posisi mereka masing-masing, dan kemudian berteriak dengan lantang, "baik, duel uji coba pagi hari ini dimulai!"


Kedua siswa tersebut langsung memulai rapalan mantra mereka. Siswa berseragam hitam menghunuskan tongkatnya ke depan, menjadikan siswa berseragam putih sebagai sasaran sembari merapalkan mantra. Namun berbeda, siswa berseragam putih justru diam sejenak untuk fokus merapal.


Altezza, Welt, dan tiga tamu pangeran sahabat mereka berdua melihat duel yang sebentar lagi akan dimulai. Duel uji coba seperti ini sudah menjadi hal yang wajar, dan biasanya dilakukan di ujian akhir para siswa, bahkan duel seperti ini juga memiliki kompetisi atau pagelaran yang biasanya menjadi sebuah persaingan antar kerajaan.


Tongkat hitam milik siswa berseragam hitam itu tampak menciptakan sebuah cahaya berwarna ungu gelap yang sangat pekat, sebelum kemudian cahaya tersebut melesat sangat cepat mengarah ke siswa berseragam putih. Namun siswa berseragam putih dengan cepat menghentakkan tongkatnya ke tanah, dan hanya dalam kurun waktu sepersekian detik dirinya menciptakan sebuah lingkaran penghalang atau pelindung yang bercahaya berwarna kuning keemasan. Benturan tidak dapat terhindarkan, cahaya ungu tersebut menabrak penghalang atau pelindung yang tercipta, dan seketika membuat sebuah ledakan yang cukup hebat hingga menciptakan kepulan asap hitam yang sangat tebal.


Dari balik asap hitam yang masih tebal, sebuah cahaya berwarna kuning keemasan tiba-tiba saja melesat keluar, mengarah ke siswa berseragam hitam dengan sangat cepat. Tidak memiliki kesempatan untuk menciptakan sebuah pelindung atau penghalang yang dapat menangkal serangan tersebut. Siswa berseragam hitam itu justru menggunakan mantra yang sama, menciptakan sebuah cahaya berwarna ungu di pola bintang lima sudut pada ujung tongkatnya, dan kemudian menggunakannya untuk menciptakan sebuah tabrakan antara kedua serangan.


Ledakan hebat seketika kembali terjadi karena dampak dari kedua serangan yang saling beradu, bahkan lapangan yang digunakan sampai hancur hingga menciptakan sebuah kawah cekungan yang cukup besar.


Para siswa-siswi yang menyaksikan duel itu berlangsung dari tepi lapangan, mereka tampak berdecak kagum melihat semua yang terjadi. Begitu pula dengan ekspresi wajah Azura, Xavier, dan Cedric yang juga menatap kagum ketika menyaksikan duel tersebut berlangsung. Namun sayangnya hal itu tidak berlaku bagi Altezza yang justru tidak berekspresi sama sekali, datar menyaksikan bagaimana duel tersebut berlangsung. Welt yang menyadarinya ketika berdiri di samping adiknya hanya tersenyum tipis melihat ekspresi biasa-biasa saja itu.


"Apakah mereka termasuk siswa terbaik di akademi?" celetuk Altezza bertanya kepada Welt yang berdiri di sampingnya.


"Mereka berdua berada di peringkat lima dan enam dari keseluruhan siswa di akademi," jawab Welt.


Altezza melirik kepada kakaknya dan berkata, "kurasa kau harus terus menempa mereka, dengan kekuatan seperti itu kurasa mereka belum siap jika harus menghadapi lawan sekelas kompetisi sihir antar kerajaan."

__ADS_1


Welt tidak terkejut jika Altezza akan berkomentar cukup pedas untuk kedua siswa akademi tersebut. Di mata para siswa lain, penyihir tingkat kerajaan, dan orang awam ketika melihat duel yang sedang berlangsung mungkin akan menatap kagum. Namun Welt menganggap ekspresi datar Altezza adalah hal yang wajar, karena dirinya sendiri pun mengakui bahwa Altezza sudah jauh berbeda kelas dengan para siswa terbaik akademi, bahkan seluruh akademi kerajaan.


Duel masih terus berlangsung, namun itu menjadi tontonan yang kurang mengasyikkan bagi Altezza, sampai akhirnya duel tersebut selesai tanpa ada yang menang ataupun kalah yang artinya seri dari kedua belah pihak. Instruktur perempuan yang menjadi wasit dalam duel tersebut pun mengakhiri duel dengan mengajak kedua belah pihak saling menundukkan kepala sebagai tanda hormat satu sama lain, sebelum akhirnya ia membereskan lapangan. Tepuk tangan terdengar dari para siswa yang menyaksikan sepanjang duel dari tepi lapangan, begitu pula ketiga pangeran tamu yang berdiri di sebelah Welt. Altezza juga ikut tepuk tangan untuk menghargai duel yang telah selesai.


Namun di tengah tepuk tangan yang meriah itu. Tiba-tiba saja seorang siswa berseragam putih bercorak biru muda menghampiri Altezza dari belakang dan kemudian berkata, "bolehkah saya menantang anda untuk berduel dengan saya, Yang Mulia?"


Welt terkejut dengan ajakan tersebut, begitu pula Azura dan kedua rekannya. Tak hanya mereka, namun para siswa yang mendengarnya juga turut terkejut, menyaksikan seorang siswa berseragam putih bercorak biru muda tiba-tiba saja menantang duel pangeran kedua Kerajaan Zephyra. Seketika seluruh perhatian orang-orang di tepi lapangan tertuju kepada Altezza dan siswa yang menantangnya.


"Apakah kau mau menerimanya?" tanya Welt, melirik kepada Altezza yang tampak tersenyum tipis, menunjukkan ekspresi ketertarikan, "dia peringkat dua terbaik di akademi," lanjutnya.


"Baik, aku terima tantangan mu ...!" sahut Altezza tanpa berpikir panjang lagi, menjawab ajakan yang dilemparkan oleh siswa tersebut kepadanya.


Altezza berjalan ke tengah lapangan, berhadapan dengan siswa berseragam putih lain yang tiba-tiba saja mengajukan ajakan serta tantangan kepada dirinya. Kehadiran putra bungsu raja atau pangeran kedua itu sontak langsung menjadi pusat perhatian hampir seluruh akademi. Bahkan ada banyak siswa-siswi di gedung belakang sampai membuka jendela kelas mereka hanya untuk melihat. Hampir semua jendela lantai dua dan tiga gedung tersebut dipenuhi oleh siswa-siswi yang ingin melihat.


"Yang Mulia Pangeran akan berduel?"


"Yang Mulia!"


"Keren ...!"


Sorak-sorai yang didominasi oleh para siswi akademi ketika melihat sosok pangeran kedua berdiri di tengah lapangan. Altezza sempat menoleh ke arah jendela-jendela lantai dua dan tiga gedung tersebut, namun sepertinya apa yang ia lakukan justru semakin membuat histeris para siswi yang melihatnya.

__ADS_1


"Ah!! Yang Mulia melihatku!"


"Bukan! Yang benar dia melihat ke arahku, tahu!"


Altezza hanya menghela napas, mengeluh betapa berisiknya siswi-siswi itu berseru berteriak ke arahnya. Welt hanya tersenyum, begitu pula dengan Azura, Xavier, dan Cedric.


"Sepertinya kita kalah populer dengan Altezza," cetus Cedric, tersenyum.


"Bukankah sudah dari dahulu?" sahut Xavier kemudian tertawa kecil.


"Baik, untuk peraturan tidak perlu saya jelaskan, seharusnya kalian sudah mengetahuinya." Instruktur itu kembali berdiri di antara kedua peserta duel, dan berbicara kepada mereka.


"Suatu kehormatan bagi saya bisa memiliki pengalaman berduel dengan anda, Yang Mulia." Laki-laki berseragam putih itu berbicara, menundukkan kepalanya dan tersenyum senang memandang Altezza.


"Siapa namamu?" tanya Altezza, berdiri sekitar 20 meter di depannya.


"Ray, Yang Mulia." Pemuda itu menjawab pertanyaan Altezza.


Altezza tersenyum tipis sebelum kemudian berkata, "Ray, jangan tahan dirimu, aku ingin melihat seberapa hebatnya siswa peringkat dua!"


Ray tersenyum tipis, menatap tajam Altezza dan kemudian langsung menjawab tantangan tersebut, "dengan senang hati, Yang Mulia."

__ADS_1


__ADS_2