Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Malam yang Tenang #140


__ADS_3

Ibu Kota Zephyra terpantau tenang dan cukup lengang malam ini. Angin berhembus dengan sangat lembut, membawakan suasana tenang sekaligus dinginnya malam. Meskipun tidak ada bulan yang terlihat, namun langit malam ini tetap terlihat sangat indah dengan berbagai macam rasi bintang yang bertaburan di cakrawala malam. Ratu Caitlyn memandangi langit cantik tersebut di depan halaman istananya dengan tenang. Sang wanita cantik dan anggun yang sangat dihormati oleh seluruh rakyatnya itu tampak hanya mengenakan dress panjang santai berwarna biru muda, dan tanpa mahkota.


Benteng istananya dijaga sangat ketat oleh banyak prajurit. Gerbang depan benteng istana, setiap atas benteng serta menara penjagaan di istana, semuanya diisi oleh prajurit berzirah gagah dengan persenjataan lengkap. Tak hanya benteng istana saja yang mendapat penjagaan ketat dan berlapis, namun benteng ibu kota yang berperan melindungi apapun dan siapapun yang ada di dalam ibu kota yang sangat besar dan luas itu juga dijaga oleh banyak sekali prajurit berzirah. Tidak tidur, mereka melakukan tugas dengan sangat baik, setia menjaga benteng ibu kota dan istana.


"Anda tidak ingin masuk, Yang Mulia? Udara di luar sangatlah dingin, dan itu tidak baik bagi kesehatan anda," ujar seorang dayang istana berambut cokelat berpakaian hitam putih, tampak berdiri di belakang Ratu Caitlyn dan menundukkan pandangannya ketika berbicara.


"Aku sedang menunggu seseorang, sebentar lagi aku juga akan kembali masuk." Ratu Caitlyn berbicara menjawab pertanyaan tersebut, menoleh dan melirik ke belakang sembari lanjut berkata, "jangan khawatir, kembalilah ke dalam, aku juga tidak lama berada di luar, kok ...!" kemudian tersenyum kecil.


"Baik, Yang Mulia. Jika anda membutuhkan saya, tinggal panggil saya saja," ujar dayang cantik itu, menundukkan pandangan dan kepalanya, sebelum kemudian ia beranjak kembali masuk ke dalam istana.


Kini hanya tinggal seorang ratu yang berdiri sendiri di halaman depan istananya--sebenarnya ia tak sendirian, karena terlihat ada beberapa prajurit berzirah yang berdiri tegap di depan gerbang istananya. Wanita cantik itu tampak sedang menunggu seseorang di tengah perasaannya dilanda rindu sekaligus kesepian.


Raja Aiden tidak sedang berada di istana malam ini, karena sedang berada di Perbatasan Mutiara. Pangeran Welt juga sedang tidak ada di istana, putra sulungnya itu sedang disibukkan dengan pasukan ahli sihir kerajaannya untuk mempersiapkan mereka dalam menghadapi segala kemungkinan. Meski terdapat banyak pelayan, dayang, dan prajurit yang berjaga. Namun istana tetap saja terasa sepi, apalagi tanpa kehadiran putra bungsunya yang masih menjadi seorang pengembara.


"Silakan tunjukkan identitas ...!" ujar salah seorang penjaga, menghadang seorang gadis berambut cokelat kemerahan bernama Bianca.


Ratu Caitlyn tampak tersenyum senang melihat kedatangan seseorang yang sudah ia nantikan. Bianca tampak mengikuti prosedur yang diberlakukan dengan menunjukkan kartu identitasnya sebagai seorang warga Zephyra, sebelum kemudian dirinya diperbolehkan untuk lewat.

__ADS_1


"Selamat malam, Yang Mulia." Bianca tersenyum, menundukkan sedikit kepala dan pandangannya ketika bertemu dengan sang ratu terhormat. Penampilannya tampak sangat sederhana hanya dengan mengenakan baju santai berlengan panjang berwarna putih, dan celana panjang berwarna abu-abu. Meski berpenampilan sederhana, hal tersebut tak mengurangi aura kecantikan dan kemanisan Bianca.


"Ada perihal apa anda mengundang saya untuk datang?" tanya Bianca, perlahan mengangkat kembali kepalanya dan tampak tersenyum kepada sosok anggun Caitlyn yang berdiri satu meter di hadapannya.


Ratu Caitlyn tampak tersenyum hangat dan dengan tatapan lembutnya kepada Bianca ia berkata, "sebenarnya tidak terlalu penting, sih. Aku hanya butuh teman berbincang malam ini, apakah kamu bersedia?"


Bianca sempat tertawa kecil, tersenyum senang dan menjawab, "sebuah kehormatan bagi saya, Yang Mulia. Namun saya tidak bisa sampai terlalu larut karena terbatas aturan asrama, atau saya bisa terkena marah oleh pemilik asrama."


"Tidak perlu khawatir soal itu, Bianca. Aku sudah mengatur semuanya, dan pemilik asrama juga sudah tahu soal ini." Ratu Caitlyn tampak dengan santai berbicara dengan senyuman yang tidak pudar dari paras cantiknya.


Tidak terkejut dengan hal tersebut--karena hal yang kurang lebih sama pernah dilakukan oleh Altezza yang tiba-tiba saja membuatnya libur dari pekerjaannya. Bianca tersenyum senang, kembali menundukkan sedikit kepala serta pandangannya dan mengucapkan, "terima kasih, Yang Mulia."


Malam yang sungguh tenang dengan suasana dingin serta pemandangan langit malam yang sangat indah. Ratu Caitlyn akhirnya tak sendirian di malam ini, terdapat Bianca yang bersedia untuk menemaninya berbincang beberapa hal. Wanita cantik dan anggun itu segera mengajak Bianca untuk masuk ke dalam istana, serta tak lupa untuk menjamu tamunya dengan secangkir teh hangat dan beberapa biskuit manis.


Memilih satu tempat kesukaannya, juga menjadi tempat kesukaan Altezza. Ratu Caitlyn mengajak Bianca untuk duduk di gazebo besar berwarna putih elegan di taman samping istananya, sembari menikmati beberapa suguhan tersebut.


"Tempat ini adalah salah satu tempat di istana yang sangat disukai oleh Altezza dan aku, kami hampir selalu menghabiskan waktu luang di gazebo taman ini." Ratu Caitlyn berbicara dengan sangat santai ketika duduk bersebelahan dengan Bianca. Ia tampak tidak ingin terlalu berjarak dengan gadis cantik berambut cokelat kemerahan itu.

__ADS_1


"Di sana, tempat di mana Shiro pernah tinggal ketika pertama kali dibawa Altezza ke istana," lanjut Ratu Caitlyn menujuk ke arah sudut taman, melihat sebuah kandang berukuran cukup besar dengan jeruji besi yang berdiri kokoh di sudut taman.


Bianca tidak berhenti tersenyum, diam menyimak setiap kata yang keluar dari mulut sang ratu sampai benar-benar habis. Ratu Caitlyn tampak perlahan meminum secangkir teh manis yang masih hangat miliknya, dan kemudian berbicara, "jangan sungkan, Bianca, silakan diminum dan dimakan biskuitnya ...! Kita tidak sedang dalam pertemuan formal, jadi santai saja ...!"


Bianca tertawa canggung dan berkata, "baik, Yang Mulia," sembari menganggukkan kepalanya dan tersenyum canggung. Gadis berambut cokelat itu benar-benar terlihat gugup. Bagaimana tidak, sosok yang saat ini bersamanya dan berbincang dengannya adalah seorang ratu, wanita yang paling cantik dan dihormati seluruh orang di kerajaan.


Ratu Caitlyn tersenyum lembut melihat ekspresi canggung gadis yang saat ini duduk bersebelahan dengan dirinya. Ekspresi wajah yang sedikit merona, semakin membuat gadis berambut cokelat itu tampak manis.


"Yang Mulia, bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya Bianca, berbicara dengan intonasi yang terdengar lembut dan rendah.


"Tentu saja, katakan ...!" jawab Caitlyn selesai menyeruput secangkir teh miliknya.


Gadis berambut cokelat kemerahan itu tampak cenderung memandang ke bawah dan bertanya, "apakah ... semuanya akan baik-baik saja ...?" dengan intonasi yang terdengar rendah, menggambarkan kegelisahan dalam hatinya.


Ratu Caitlyn perlahan meletakkan cangkir teh miliknya di atas piring kecil yang berada di atas meja keramik di hadapannya. Wanita cantik itu tersenyum kecil, paham ke mana arah dari pertanyaan tersebut, dan tahu seperti apa dirinya harus menjawabnya.


"Maksud saya adalah ... dengan deklarasi perang yang sudah beredar, jujur saja saya menyimpan cukup rasa ketakutan," lanjut Bianca, memperjelas konteks dari pertanyaan yang ia utarakan. Kedua telapak tangannya tampak tak bisa diam di atas pangkuannya, selalu saling mengatup dan menggerak-gerakkan kedua ibu jarinya yang saling bersentuhan, menandakan bahwa dirinya sedang menyimpan kegelisahan di dalam hatinya.

__ADS_1


"Kita hanyalah manusia, Bianca, dan kita tak bisa meramal ataupun melihat masa depan." Ratu Caitlyn menanggapi pertanyaan dan kecemasan tersebut dengan sikap yang sungguh tenang.


"Apapun yang terjadi kerajaan tidak akan pernah tinggal diam, dan akan selalu berjuang untuk melindungi setiap nyawa yang ada di dalamnya, apapun itu risikonya," lanjut sang ratu dengan intonasi bicara yang terdengar lembut, meletakkan salah satu telapak tangannya di atas salah satu pundak milik Bianca ketika berbicara, menatap gadis cantik itu dengan tatapan tulus, dan kemudian tersenyum hangat kepadanya.


__ADS_2