Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Pengalaman yang Sangat Berharga #45


__ADS_3

Susahnya mencari tempat yang sedikit lengang, karena hampir di setiap sudut istana malam ini dipenuhi orang, dan mereka selalu menyapa serta menundukkan kepala memberikan hormat setiap kali berpapasan dengan Altezza. Bahkan tidak jarang juga terdapat beberapa putri raja serta gadis-gadis di acara itu menawarkan ajakan kepadanya untuk bisa menyaksikan momen kembang api berdua, namun tentu saja ajakan serta tawaran mereka mendapat penolakan dari Altezza.


Pangeran kedua Kerajaan Zephyra itu memilih sebuah menara yang tidak terlalu tinggi dan berada di bagian depan istana. Ketika berada di menara tersebut, Altezza berbicara, "maaf atas sedikit ketidaknyamanan yang baru saja terjadi."


Bianca tertawa kecil, tersenyum manis dan berkata, "tidak apa, Yang Mulia. Saya tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut."


"Namun kamu benar-benar tidak apa-apa, 'kan?" tanya Altezza kembali, menatap serius, dan cukup cemas karena mengingat Bianca sempat ditarik oleh pria yang ditolaknya.


"Tidak apa-apa, Yang Mulia. Saya tidak terluka, kok." Bianca menjawab sembari menunjukkan pergelangan tangan kanannya kepada Altezza.


Altezza secara tiba-tiba meraih salah satu pergelangan tangan halus tersebut, dan menatapnya dengan mata sihir yang membuat kedua iris matanya yang sebelum berwarna hitam berubah menjadi hijau muda bercahaya. Bianca cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh pangeran itu, dan juga terkejut dengan perubahan secara tiba-tiba pada kedua mata milik Altezza.


Kedua mata Altezza sedikit terbelalak terkejut, melihat serta mengetahui adanya tanda sihir secuil kacang polong beraura hitam pekat. Bianca bingung dengan tatapan terkejut dari Altezza, "ada apa, Yang Mulia?"


Kini Altezza menggenggam tangan kanan Bianca dengan kedua tangannya, sebelum kemudian hembusan angin lembut terasa berputar pada pergelangan tangan milik gadis bergaun biru muda itu. Laki-laki berseragam putih pangeran itu tidak menjawab pertanyaan Bianca, sampai tindakan yang ia lakukan benar-benar selesai, dan tanda sihir hitam tersebut hilang dari pergelangan tangan Bianca.


"Laki-laki yang mengajakmu berdansa itu, dia adalah Pangeran Asta dari Kerajaan Mystick. Seperti dengan apa yang dikatakan oleh Pangeran Azura, kondisi internal Kerajaan Mystick sedang tidak baik-baik saja, dan dari kabar burung yang ku dengar ... Pangeran Asta-lah yang menjadi biang dari permasalahan mereka." Altezza langsung berbicara, dan memberitahu Bianca soal siapa laki-laki yang sempat memaksa untuk mengajaknya berdansa.


"Permasalahan seperti apa memangnya?" cetus Bianca, sempat menoleh dan menatap laki-laki itu di bawah indahnya langit malam, sebelum kemudian memalingkannya kembali dan tertunduk sembari berkata, "maaf jika saya lancang karena terlalu banyak ingin tahu."

__ADS_1


Altezza tertawa kecil, menoleh dan tersenyum kepada Bianca, melihat sikap lembut gadis itu. Pandangan Altezza kembali menatap indahnya langit malam dan menjawab, "aku tidak mengetahui seperti apa permasalahan mereka, dan selama kerajaan mereka tidak membuat masalah dengan kerajaan ini, maka buat apa aku harus ikut campur?"


"Benar juga, sih," gumam Bianca.


"Lalu, soal ...," Bianca mengangkat kembali pergelangan tangan kanannya dan menatap bingung dengan apa yang baru saja ia rasakan. Genggaman telapak tangan hangat dari seorang pangeran tampan seperti Altezza, sungguh pengalaman yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Altezza sempat melirik sebelum akhirnya kembali menatap ibu kota kerajaan yang terlihat gemerlap indah dari atas situ dan berkata, "terdapat tanda sihir hitam yang sengaja ditempelkan di pergelangan tanganmu, kurasa dia memasangkannya ketika menarik paksa pergelangan tanganmu."


"Benarkah ...?!" sahut Bianca, terkejut, dan langsung mendekatkan pergelangan tangan kanannya di kedua matanya, menyaksikan dengan saksama, khawatir jika sihir tersebut masih ada.


Altezza tersenyum melihat reaksi panik itu dan kemudian berkata, "jangan khawatir, aku sudah menghilangkan jejaknya."


Altezza kembali menoleh dan menatap gadis itu dengan tatapan lembut, "Clara mengajakmu apa saja? Dan bagaimana dengan pesta ini? Apakah kamu menikmatinya?"


Pandangan Bianca sedikit tertunduk ke bawah, dan tersenyum senang mendengar pertanyaan tersebut. Tentu saja hatinya merasa sangat bahagia malam ini, bisa menghadiri sebuah acara atau pesta di istana, bahkan hadir sebagai pasangan dari seorang pangeran terhormat yang hampir selalu menjadi dambaan hati setiap perempuan di kerajaan.


"Saya sangat menikmati pesta ini, dan jujur saja dari hati yang terdalam, saya sedang merasa sangat bahagia malam ini, Yang Mulia. Pengalaman yang belum pernah sama sekali saya rasakan di seumur hidup saya, hadir di acara istimewa istana, bersama dengan anda dan kehadiran saya rupanya diterima sangat baik oleh keluarga anda."


Bianca menoleh dan memandang ke arah Altezza, kali ini benar-benar menciptakan sebuah kontak mata yang cukup dalam, sebelum akhirnya gadis itu kembali berbicara. Pangeran kedua Kerajaan Zephyra hanya bisa tertegun, terdiam ketika memandangi paras cantik Bianca yang terlihat semakin indah untuk dipandang ketika terkena cahaya ribuan bintang di langit malam ini.

__ADS_1


"Saya masih tidak menyangka akan mendapat pengalaman yang sangat berharga ini, dan tentunya saya sangat berterima kasih kepada anda dan seluruh keluarga kerajaan yang sangat saya hormati, Yang Mulia."


Pandangan Bianca kemudian berpaling dari wajah Altezza, memandang ke arah indahnya langit malam ini dan berbicara, "terima kasih telah memilih saya sebagai pasangan anda dalam dansa dan pesta ini, terima kasih telah memberikan pengalaman yang sungguh indah dan sangat berkesan ini, terima kasih juga untuk Yang Mulia Ratu karena telah bersedia meminjamkan gaun yang sangat indah ini."


"Dan ... pokoknya ... saya sangat berterima kasih banyak untuk semuanya, Yang Mulia. Tidak bisa saya sebutkan satu persatu, kalau semisal saya sebutkan dan semua dituliskan ... bisa-bisa satu halaman buku penuh dengan ucapan terima kasih," lanjut Bianca, kemudian tertawa kecil dengan sendirinya dan berakhir dengan menyunggingkan senyuman manisnya.


Bianca kembali menoleh untuk bisa menatap Altezza, tersenyum senang sembari berkata, "oh iya! Tadi Clara mengajak ku untuk mencicipi beberapa hidangan yang ada, dan jujur saja aku menyukai semuanya--mengingat juga aku belum pernah merasakan hidangan-hidangan mewah seperti yang ada di sini, hehe."


"Apa saja yang kamu coba? Apakah kamu juga mencoba beberapa jus yang ada?" sahut Altezza, tersenyum, dan bertanya penasaran menatap perempuan itu.


Bianca terlihat bingung dengan pertanyaan tersebut dan hanya berkata, "sa-saya ... saya tidak tahu apa saja nama hidangan yang tadi saya coba, Yang Mulia. Beberapa daging panggang yang sangat lezat, dan sedikit lapisan kentang tipis serta seperti ada saus yang rasanya gurih manis."


"Namun saya tahu kalau ada jus yang rasanya enak sekali, manis dan lembut dengan rasa yang cukup kuat, berwarna merah muda," lanjut Bianca, antusias ketika mengingat-ingat minuman yang sempat ia minum bersama Clara.


Altezza berhasil dibuat tertawa kecil ketika mendengarkan serta melihat ekspresi Bianca yang terlihat berusaha mendeskripsikan hidangan yang sempat dicobanya, mengingat rasanya namun tidak tahu nama hidangannya.


"Kurasa itu adalah Steak dan jus semangka dengan campuran rasberi," ucap Altezza setelah Bianca selesai bercerita dan mendeskripsikannya.


"Steak? Ya! Kurasa itu nama makanannya!" sahut Bianca, terlihat berpikir dan tersenyum ceria, "namun aku lebih suka dengan jus semangka campur rasberi itu, rasanya cukup membuat ku candu," lanjutnya.

__ADS_1


Altezza hanya diam dan tersenyum, menyaksikan serta mendengarkan perempuan itu bercerita mengenai pengalamannya ketika diajak oleh kakak iparnya yakni Clara untuk mencoba hidangan-hidangan yang disajikan dalam acara. Sungguh polos, namun terlihat lucu di mata Altezza, seperti anak-anak yang baru saja merasakan makanan terlezat yang belum pernah mereka makan.


__ADS_2