Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Putri Aurora #90


__ADS_3

Benua Selatan, tempat yang memiliki iklim yang sangat ekstrem, dingin bahkan dapat dengan mudah membekukan segala sesuatu yang berada di tempat tersebut. Kerajaan Mystick adalah satu-satunya kerajaan besar yang menguasai benua tersebut, tidak ada kerajaan lain yang berdiri di benua tersebut, karena memang tidak ada yang sanggup selain Kerajaan Mystick.


Namun sayangnya kegelapan serta kejahatan telah menyelimuti kerajaan tersebut selama bertahun-tahun, dan membuat rakyat kerajaan hidup sengsara penuh dengan kekurangan serta kemiskinan. Kesengsaraan mereka yang hidup di kerajaan tersebut dimulai semenjak seorang raja yang memimpin mereka jatuh sakit dan tidak kunjung sembuh.


Raja Aarav adalah seorang pemimpin yang sangat baik, bahkan berhasil membawa Kerajaan Mystick menuju kemakmuran dalam 30 tahun terakhir. Kehidupan semua rakyat kerajaan memiliki hidup terjamin, dan hidup dalam kecukupan. Akan tetapi masa-masa indah tersebut harus runtuh semenjak pria bermahkota raja itu jatuh sakit, dan lumpuh, sehingga ia tidak dapat bernajak sedikitpun dari ranjangnya.


Tidak diketahui penyakit apa yang menggerogoti tubuh Sang Raja, banyak tabib serta ahli penyembuh yang dipanggil untuk membantu serta memulihkan sosok raja tersebut. Akan tetapi hasilnya nihil, tidak ada yang mampu menyembuhkan atau bahkan hanya sekadar mengidentifikasi penyakit apa yang menyerang tubuh Raja Aarav.


Karena penyakit tersebut, alhasil Raja Aarav harus memberikan kursi singgasananya kepada salah satu keturunannya. Pria tersebut menunjuk seorang pangeran tampan berambut hitam bernama Asta untuk menggantikan kedudukannya. Namun putrinya yang bernama Aurora sempat menolak ide tersebut. Sayangnya penolakan yang ia sampaikan justru menjerumuskan dirinya ke dalam penjara bawah tanah di istananya sendiri.


Setelah Pangeran Asta menggantikan kedudukan Raja Aarav, semuanya seketika berubah, seolah kegelapan menyelimuti kerajaan tersebut. Kejadian-kejadian janggal muncul, makhluk-makhluk aneh seperti iblis perlahan mulai mendatangi kerajaan serta istana tersebut.


...

__ADS_1


Lantai bebatuan yang sangat kasar, keras, dan terasa dingin. Putri Aurora telah menjalani hidupnya lebih dari tiga tahun di balik jeruji besi penjara bawah tanah milik kerajaannya sendiri. Gadis berambut putih itu hanya duduk di dalam jeruji besinya, tampak memeluk kedua lututnya dan kemudian menundukkan kepalanya.


Tidak berselang lama, sesosok makhluk mengerikan tiba-tiba saja mendatangi jeruji besinya dengan membawakan sebuah nampan berisikan makanan dan minuman. Makhluk tersebut berjalan layaknya manusia, dengan kedua tangan dan kakinya, namun memiliki tanduk tajam di kepala serta sorot mata berwarna merah. Jelas, ciri-ciri tersebut bukanlah ciri-ciri normal seorang manusia.


Tanpa berbicara ataupun bersuara, makhluk tersebut meletakkan secara kasar nampan yang ia baca melalui celah kecil yang ada di bawah jeruji besi, sebelum kemudian langsung pergi begitu saja.


Nampan yang diberikan untuk Aurora berisikan makanan yang tampak tidak layak untuk dimakan. Sebuah roti gandum yang sudah sangat berjamur, dan secangkir air keruh. Sungguh tidak menggoda nafsu makan, yang ada malah membuat siapapun yang melihatnya akan mual.


Aurora masih tidak bergeming dari posisinya, bahkan ia tidak tertarik untuk melirik sedikitpun makanan dan minuman tersebut. Di tengah ia tertunduk lesu dan tampak putus asa, tidak bersemangat sama sekali. Kepalanya tiba-tiba saja terasa dingin, dan membuatnya sedikit terkejut. Salah satu tangannya menyentuh puncak kepalanya, dan mendapati adanya butiran salju yang mengenai kepalanya, padahal atap di dalam jeruji tersebut adalah bebatuan keras dan tebal.


Kedua iris mata berwarna biru muda milik Aurora tampak bercahaya memandangi salju-salju yang mulai memasuki ruangan sempitnya. Aurora tampak sempat melirik ke arah luar jeruji, memastikan keberadaan makhluk mengerikan sebelumnya yang rupanya sedang berjaga di pintu masuk lorong penjara.


Setelah memastikan, Aurora mengangkat satu tangannya, dan terulur ke arah ventilasi di ruangan jeruji besi miliknya. Gadis berambut putih itu tampak seakan hendak meraih salju-salju yang terbang berdatangan. Tanpa merapalkan mantra, Aurora tampak mengendalikan salju-salju tersebut beserta hembusan anginnya, bahkan hingga membekukan bebatuan ventilasi.

__ADS_1


"Membeku?" gumam Aurora, kemudian mendekati batu-batu yang membeku. Ia menyentuh bebatuan yang sudah berubah menjadi es itu dengan telunjuknya secara perlahan.


Ketika sentuhan pertama dari Aurora mendarat, bebatuan yang membeku itu tiba-tiba saja runtuh hingga menciptakan sebuah celah. Suara gemuruh reruntuhan tersebut tampaknya memancing para penjaga yang langsung berdatangan.


"Hei, mau apa kau?!"


"Tangkap dia!"


Lebih dari dua penjaga mengerikan yang datang, dan mereka melihat Aurora menjebol dinding jeruji besinya langsung bertindak masuk serta menangkap Aurora. Tanpa senjata, namun cengkraman tangan mereka sangat kuat, bahkan membuat rasa sakit di lengan kanan dan kiri Aurora.


"Sakit! Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!" pekik Aurora, tampak sedikit memberontak dan minta dilepas. Namun permintaan tersebut tidak digubris oleh makhluk-makhluk besar dan bertanduk yang menggiring dirinya keluar dari penjara.


"Diam!!" tegas salah satu dari mereka yang berjalan di depan Aurora, bersuara berat dan menggelegar, terkesan mengerikan.

__ADS_1


"Hei kalian iblis, kalian akan membawaku ke mana?!" tanya Aurora, tampak kesulitan untuk menyamai langkah mereka, bahkan berkali-kali kedua kakinya sampai terseret.


Salah satu makhluk yang disebut iblis menoleh kepada Aurora dengan sorot mata merah dan tajamnya, "kami akan membawamu kepada Pangeran Astaroth, dan kau harus menuruti apapun kehendaknya," ucap iblis yang mencengkram kuat lengan kanannya.


__ADS_2