
Kurang lebih dua jam telah berlalu. Kapal layar berukuran besar itu perlahan mulai keluar dari badai setelah digempur habis-habisan oleh banyak gelombang tinggi yang mengganas. Semua kelasi dan penumpang kapal tidak ada yang kurang ataupun hilang, lengkap dan selamat. Hanya saja ada beberapa dari mereka yang cedera dan juga luka-luka karena berkali-kali benturan serta hempasan dari guncangan kapal akibat dari benturan dengan gelombang laut yang mengerikan.
Kapal layar besar itu keluar dari badai dalam keadaan masih kokoh, mulai memasuki lautan yang kembali tenang. Semua orang yang ada di kapal menghela napas lega dengan tatapan gembira ketika mereka menyadari bahwa kapal tersebut mulai memasuki wilayah yuridiksi Kerajaan Neverley, alias perlahan sudah memasuki Benua Timur.
"Bagaimana? Kau baik-baik saja?" tanya laki-laki berambut pirang berdiri tepat di samping Altezza yang berdiri di atas dek depan kapal, ia adalah seorang petualang yang sempat membantunya ketika di tengah badai sebelumnya.
Altezza tersenyum, sempat menggelengkan kepalanya sebelum kemudian menjawab, "rasanya masih berguncang sampai sekarang," dengan intonasi santai bahkan terdengar sedikit gelak tawanya ketika berbicara.
Laki-laki berambut pirang itu ikut tertawa kecil, tersenyum, dan memandang ke arah lautan. Di kejauhan sana terlihat pulau besar dan salah satu pelabuhan besar milik Kerajaan Neverley. Akan tetapi ukuran semua hal yang dilihat itu masih tampak kecil, karena masih sangat jauh. Yang terpenting, kapal tersebut sudah keluar dari badai, meski semuanya dalam keadaan basah.
Altezza sempat menoleh ke belakang, melihat pemandangan langit badai yang tampak menyeramkan di antara para kelasi yang tengah sibuk menstabilkan layar dengan memindahkan serta mengikat beberapa tali besar belakangnya. Pemandangan langit yang sangat amat buruk, dan itu ada dari arah Selatan--sama seperti apa yang dikatakan oleh wanita si penjaga resepsionis sebelumnya. Alam tampak mengamuk di arah sana, dan berhasil membuat Altezza bertanya-tanya mengenai alasan mengapa alam bisa tiba-tiba marah dalam benaknya.
"Sejak semalam sering terjadi badai serta cuaca buruk seperti itu, dan semuanya berasal dari Selatan. Entah apa yang terjadi di sana, tetapi apapun yang terjadi di sana sepertinya membuat alam marah," cetus laki-laki berambut pirang itu, berbicara dengan memandangi pemandangan yang sama dengan Altezza. Ia ikut berbalik badan sama seperti Altezza, dan melihat awan badai yang tampak sangat gelap di jauh belakang kapal.
__ADS_1
Masih hanyut dalam segala tanda tanya di dalam benaknya, Altezza sampai terlihat seperti orang yang sedang melamun. Melihat serta mendengar hal tersebut tentu menarik perhatian Altezza untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan alasan di balik alam yang tiba-tiba saja tidak ramah.
Di tengah Altezza sedang melamun dengan pandangan terus menatap ke arah awan badai yang sudah jauh dan semakin jauh tertinggal. Laki-laki berambut pirang dengan jubah cokelat muda dan sebuah pedang bergelantung di ikat pinggangnya itu menoleh kepadanya dan berbicara, "ngomong-ngomong, perkenalkan ...! Namaku Eugene, dan aku berasal dari Lagarde."
Altezza tersenyum, terpecah dari lamunannya, menoleh dan menjawab, "aku Altezza dari Zephyra, salam kenal dan senang mengenalmu, Eugene." Ia tampak sungguh senang karena merasa memiliki teman setelah perjalanan panjang beberapa hari berlalu lebih kebanyakan sendiri.
"Ke mana tujuanmu berkelana, Eugene?" tanya Altezza kepada laki-laki muda yang tampak tidak jauh lebih tua daripada dirinya--mungkin sekitar dua tahun di atas usianya.
"Apalagi aku telah membaca banyak buku, bahwa tercatat ada banyak mitos serta sejarah yang masih misteri di banyak bagian di wilayah Kerajaan Neverley," lanjut Eugene, menoleh dan menatap Altezza di sampingnya dengan senyuman kecil.
Setelah memberikan jawabannya, kini giliran Eugene yang bertanya, "bagaimana denganmu? Apa yang membuatmu berkelana?"
Karena ini adalah giliran Eugene yang bertanya, maka kini giliran Altezza yang menjawab. Ia sedikit mengangkat pandangannya ke arah langit dan kemudian berkata, "mungkin kurang lebih sama sepertimu, akan tetapi tujuanku lebih spesifik tertuju pada satu tempat."
__ADS_1
"Kalau begitu bagaimana kalau kau bergabung dengan kami?!" sahut Eugene dengan antusias serta sikap bersemangat. Sepertinya sifat laki-laki berambut pirang itu agak sedikit periang dan bersemangat selalu.
Altezza mengerutkan dahinya, menatap laki-laki yang berdiri tepat di sebelahnya dan bertanya, "kami?" mengulang salah satu kata yang sempat terucap oleh Eugene dengan ekspresi penuh tanya.
Eugene mengangguk, "aku akan menemui dua sahabatku yang sepertinya sudah menunggu di sana," ucapnya sembari memandang ke arah Benua Timur yang perlahan semakin mendekat seiring kapal tersebut berlayar mendekat.
"Jika memang kau mau, aku bisa memperkenalkan mu dengan mereka, siapa tahu kau juga tertarik untuk bergabung bersama kami!" lanjut Eugene, belum selesai berbicara ia lanjut berbicara lagi dengan berkata, "berpetualang sendiri itu rasanya berbeda jika dibandingkan ketika berpetualang bersama teman."
Pandangan Altezza perlahan terlempar kembali ke arah lautan luas di hadapannya dengan ekspresi seolah sedang berpikir-pikir. Apa yang dikatakan oleh Eugene pada kalimat terakhirnya memang benar, dan itulah yang dirasakan Altezza beberapa hari terakhir ini.
"Akan ku pikirkan sampai kita sampai di pelabuhan," ucap Altezza.
Eugene tampank tersenyum antusias dan berkata, "akan ku nantikan keputusanmu nanti!"
__ADS_1