Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Ekspedisi Gurun, Batal #146


__ADS_3

Altezza tampak terdiam dengan kedua mata terbelalak seperti orang yang terkejut. Sebuah perasaan yang sangat menyakitkan sekaligus membuatnya jauh lebih gelisah daripada malam-malam sebelumnya. Laki-laki berambut hitam itu benar-benar tampak seperti orang yang tengah syok. Hal itu tentu membuat rekan-rekannya yang duduk di restoran lantai satu penginapan bingung.


"Kau ... baik-baik saja, Altezza?" tanya Aaron yang duduk tepat di sebelah Altezza, menepuk dan memegang pundak kanan milik laki-laki berjubah hitam itu.


Berkedip beberapa kali, terpecah dari lamunannya. Altezza mengangguk, tersenyum kecil dan langsung berkata, "aku baik-baik saja, memangnya ada apa?"


Alaia yang duduk berhadapan dengannya berbicara, "habisnya kamu terlihat seperti orang yang sedang syok."


"Jadi apa keputusanmu soal pembicaraan kita semalam?" tanya Eugene, langsung mengalihkan topik pembicaraan.


Alaia dan Aaron langsung memandang laki-laki berambut pirang itu dengan pandangan bingung, sekaligus penasaran. Mereka berdua belum mengetahui apapun soal pembicaraan semalam yang dilakukan Eugene dengan Altezza di kamarnya, karena memang Eugene sendiri belum berbicara kepada mereka mengenai hal tersebut.


Altezza tampak termenung, hingga menciptakan situasi hening di mejanya saat ini. Suasana ramai restoran seolah tak teredam dan terdengar olehnya yang sedang kembali masuk ke dalam konflik kebingungan yang ada pada benaknya.


Sekelompok pengembara itu masih duduk-duduk di restoran lantai satu penginapan, meski mereka sudah check-out dari kamar-kamar yang mereka sewa. Di pagi yang cerah ini, mereka tampak menunggu kabar atau berita dari pihak serikat petualang yang kebetulan kantornya hanya berjarak dua blok dari penginapan tersebut. Tak hanya mereka saja, namun ada banyak pengembara yang tertahan dan menunggu kepastian di restoran tersebut.


"Maaf sekali, teman-teman." Altezza mulai berbicara dengan pelan, kemudian tersenyum kecil dengan memandangi satu per satu wajah teman-temannya, sebelum akhirnya ia lanjut berkata mengutarakan keputusannya, "aku tak bisa melanjutkan perjalanan bersama kalian, aku harus segera kembali ke Zephyra."

__ADS_1


Tentu, tak bisa disembunyikan lagi wajah dari ketiga temannya yang tampak kecewa sekaligus sedih mendengar keputusan Altezza, tak terkecuali Alaia. Gadis berambut kelabu itu tampak menatap lekat sosok Altezza yang duduk di hadapannya dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Mengapa?" tanya Alaia, menjadi orang pertama yang langsung menanggapi keputusan Altezza.


Altezza terdiam, bingung dalam merangkai kata-kata yang tepat untuk alasannya. Eugene yang sudah lebih tahu masalah yang tengah dihadapi Altezza pun mengatakannya, "Altezza sepertinya ada masalah di kampung halamannya, dan itu membuatnya harus segera pulang," ucapnya kepada Alaia dan Aaron.


"Jika memang begitu, apa boleh buat?" Aaron berbicara, menoleh dan tersenyum kecil kepada Altezza di sebelahnya, "tentu kami sedih atas kabar itu dan keputusanmu, tetapi kami mengerti dan menghargainya, Altezza," lanjutnya.


"Terima kasih," sahut Altezza, tersenyum kepada teman-temannya.


Tak berselang lama, seorang prajurit berzirah gagah tiba-tiba saja masuk ke dalam restoran tersebut dengan membawa sebuah gulungan kertas di tangan kirinya. Kehadiran prajurit berzirah itu langsung menarik perhatian siapapun yang ada di sana, termasuk Altezza dan teman-temannya yang kebetulan posisi meja mereka tak jauh dari pintu masuk.


Prajurit berzirah itu segera mengambil kesempatan berbicara setelah semuanya hening, menanti dirinya untuk berbicara.


"Saya adalah utusan dari Serikat Petualang Neverley sekaligus dari Kerajaan Neverley, dan di sini saya membawakan kabar penting untuk kalian para pengembara!" ujar prajurit tersebut, tegas dengan intonasi bicara yang terdengar cukup tinggi. Ia segera membuka gulungan kertas yang dibawanya, dan kemudian membacakan beberapa kalimat yang tertulis di dalamnya.


"Kerajaan Neverley mengumumkan dengan tegas bahwa tidak akan ada ekspedisi gurun mulai pagi ini hingga pemberitahuan berikutnya melalui serikat. Kami, pihak kerajaan juga dengan tegas meminta kepada kalian para pengembara dari seluruh penjuru negeri untuk segera kembali ke negeri kalian masing-masing. Jika ada yang melanggar, maka kami pihak kerajaan berhak menindak tegas sekaligus memberikan sanksi dalam bentuk apapun kepada pelanggar, bahkan hukuman mati sekalipun."

__ADS_1


Semua orang yang rata-rata adalah pengembara atau petualang di dalam ruangan tersebut hanya bisa terdiam ketika prajurit berzirah itu membacakan sebuah surat yang dibawanya. Kabar atau berita yang dibacakan tentu sangat menjadi kontroversi, terutama pada bagian hukuman untuk pelanggar yang terdengar bahwa berita atau kabar yang disampaikan sangat-sangat serius.


Selesai menyampaikan berita tersebut, prajurit berzirah itu kembali pergi dari sana, meninggalkan banyak pertanyaan bagi semua pengembara yang memenuhi restoran tersebut, termasuk Altezza dan kawan-kawannya.


"Tak ada ekspedisi gurun?" gumam Eugene dengan penuh kebingungan setelah mendengar pemberitahuan tersebut.


"Hukumannya juga terdengar sangat serius," timpal Alaia dengan ekspresi yang sama seperti Eugene dan Aaron, terkejut sekaligus bingung dengan hal yang baru saja mereka dengar.


"Kerajaan Neverley sangat serius dalam pemberitahuan barusan, apa ini ada hubungannya dengan isi surat dari ibunda dan Bianca ...?" batin Altezza, melipat kedua lengannya di atas dada, dan cenderung memandang ke bawah dengan tatapan kosong.


 "Ya sudah, mau bagaimana lagi? Lebih baik kita patuh terhadap pemberitahuan barusan, dan kembali ke Benua Tengah," ujar Aaron, memandangi satu per satu wajah temannya.


Eugene tampak tersenyum, memandang kepada Altezza dan berkata, "kami berencana untuk kembali ke Benua Tengah, siapa tahu kau tertarik untuk bergabung dalam perjalanan kami?"


Altezza tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Eugene. Dirinya seketika teringat momen ketika ia pertama kali bertemu dengan laki-laki berambut pirang itu, dan dia menawarkan ajakan untuk melakukan perjalanan bersama.


"Aku akan berbohong jika berkata 'tidak'," jawab Altezza, tersenyum kepada Eugene dan kedua temannya.

__ADS_1


Raut wajah Alaia yang awalnya tampak sedih dan kecewa, secara cepat berubah drastis menjadi riang ketika mendengar keputusan yang baru saja dibuat oleh Altezza, "ini akan menyenangkan!" ujarnya berseru riang.


"Baiklah, saatnya berkemas, karena perjalanan dari ibu kota kembali ke Kota Beladon cukup memakan waktu," ucap Aaron, tersenyum.


__ADS_2