
Pagi yang tampaknya tidak terlalu cerah dengan langit penuh awan--belum berwarna abu-abu ataupun gelap, namun memiliki kemungkinan akan terjadi perubahan cuaca yang cukup signifikan. Altezza menuruni tangga, telah membereskan dan membawa semua barang bawaannya, dan mengembalikan kunci kamar kepada penjaga resepsionis yang ternyata adalah wanita yang kemarin--hanya saja mengenakan seragam dengan warna biru muda berbeda dari yang kemarin.
Ketika laki-laki itu mengembalikan kunci, kedua telinganya mendengar sebuah pembicaraan yang menarik baginya. Pembicaraan di antara sekelompok petualang yang duduk di meja ujung kedai, dan tidak terlalu jauh dari meja resepsionis.
"Lautan mengamuk semalam," ucap seorang pria dengan rambut berwarna pirang kepada ketiga rekannya.
"Bukan hanya lautan, langit pun juga melakukan hal yang sama. Langit di bagian Selatan seperti sedang marah, dengan petir yang hampir selalu menyambar-nyambar,," timpal laki-laki yang lebih muda daripada pria pertama, berambut cokelat dan berkulit kuning langsat, duduk tepat berhadapan dengan pria tersebut.
"Kalau seperti itu, bagaimana kita bisa menyebrangi lautan?" tanya salah satu dari kedua perempuan yang duduk di antara mereka, berambut cokelat kemerahan.
"Namun menurut laporan dari beberapa pelaut pagi ini, lautan sudah kembali tenang, akan tetapi sepertinya tidak dengan cuaca," timpal perempuan berambut hitam bergelombang yang duduk tepat di sebelah perempuan pertama.
"Aku dengar-dengar, jika cuaca di laut memburuk, akan ada putri duyung yang menampakkan diri dan mengganggu para pelaut," timpal laki-laki sebelumnya dengan intonasi yang tiba-tiba saja antusias ketika membahas soal makhluk mitologi itu.
Teman-temannya langsung tertawa dan si pria pertama menyanggah, "kau ini ada-ada saja."
Obrolan mereka tentu menarik perhatian Altezza, karena Altezza sendiri akan mengarungi lautan untuk menuju ke Benua Timur. Mencari tahu sekaligus mendapatkan informasi mengenai laut serta cuaca adalah hal yang sangat penting baginya.
__ADS_1
"Topik yang sedang hangat sejak matahari terbit," cetus wanita penjaga resepsionis kepada Altezza.
"Apakah anda mengetahui sesuatu?" tanya Altezza kepada penjaga resepsionis itu.
Wanita berambut pirang itu menjawab, "soal putri duyung?" sembari mencatat sesuatu di dalam buku tebal yang ada di atas meja kerjanya.
"Bukan, tetapi soal laporan cuaca pagi ini, dan apa yang sedang mereka bicarakan" sahut Altezza.
Penjaga resepsionis itu sempat tertawa kecil, tersenyum, memandang laki-laki yang berdiri di depannya dan kemudian berbicara, "apa yang mereka katakan adalah pemberitaan yang baru saja muncul tepat sebelum matahari terbit."
Pandangan Altezza cenderung ke bawah setelah mendengar apa yang dikatakan oleh si penjaga resepsionis, sekaligus setelah mendengar pembicaraan dari sekelompok pengembara itu. Tatapannya kembali menatap wanita di hadapannya dan lanjut bertanya, "bagaimana dengan para pelaut di Pelabuhan Aerheria hari ini? Apakah mereka menunda jadwal?"
"Saya kurang begitu tahu, akan tetapi ada beberapa kapal yang memilih untuk menunda jadwal mereka demi keselamatan terhadap cuaca yang sulit untuk diprediksi dalam beberapa jam ke depan," jawab wanita berambut pirang itu, kemudian beranjak mendekati sebuah rak buku yang berada tepat di belakangnya, mengambil sebuah buku catatan dari sana dan kembali lagi kepada Altezza.
Sembari membaca catatan-catatan terbarunya, wanita itu lanjut berbicara, "namun jika anda ingin tetap menyebrangi lautan hari ini, saya bisa memberitahukan beberapa kapal yang bisa mengantarkan anda menuju tujuan anda, dan mereka tidak menunda jadwal mereka di hari ini."
"Sungguh? Terima kasih bantuannya," sahut Altezza tampak senang.
__ADS_1
***
Altezza berjalan keluar dari serikat petualang setelah berbincang banyak dengan si penjaga resepsionis. Berbagai informasi telah ia terima, dan dirinya bergegas menuju ke pelabuhan untuk mengurus beberapa keperluan sebelum ikut salah satu kapal yang akan berlayar dengan rute menuju ke Benua Timur. Laki-laki itu tidak dapat menaiki kapal-kapal penumpang, karena mereka rata-rata menunda jadwal berlayar mereka hingga hari esok. Satu-satunya cara baginya untuk bisa pergi ke Benua Timur hari ini juga adalah ikut menumpang dengan salah satu dari beberapa kapal dagang yang kebetulan sedang bersandar memenuhi dermaga.
Para kelasi kapal tampak sibuk dengan berbagai tugas mereka, mulai dari mengikat kapal-kapal layar tiga yang berukuran amat besar ke dermaga agar tidak terbawa ombak, mengangkat barang-barang seperti kotak-kotak kayu yang berbisikan berbagai benda, mendata setiap barang dan juga orang yang akan menaikinya, memastikan kondisi kapal, dan masih banyak lagi. Pelabuhan Aerheria terlihat hidup dan sangat sibuk di pagi ini, semua itu bisa disaksikan oleh Altezza secara langsung, sebelum kemudian dirinya mulai mengurus pendataan ikut sertanya menjadi bagian dari salah satu penumpang dari salah satu kapal dagang yang ada.
Ternyata tidak hanya dirinya yang memiliki niat untuk menumpang di kapal-kapal dagang itu, melainkan ada juga banyak orang yang memiliki niat serta tujuan yang sama setelah kapal-kapal penumpang memutuskan untuk menunda jadwal keberangkatan mereka di hari ini. Beruntung sekali Altezza datang lebih awal, dan dirinya mendapatkan antrean paling depan, langsung mengurus tiket pada loker yang dijaga oleh beberapa penjaga pelabuhan.
Tidak membutuhkan waktu lama, Altezza sudah diperbolehkan menuju ke kapal yang akan ia naiki. Berjalan melewati beberapa dermaga awal, dan menuju ke dermaga empat. Di dermaga tersebut terlihat sebuah kapal berukuran sangat besar dengan tiga tiang layar yang berdiri kokoh. Layar-layar besar berwarna putih yang ada pada kapal itu tampak memiliki motif matahari bersinar dengan warna kuning keemasan. Kapal tersebut adalah kapal dagang milik Kerajaan Neverley yang mengangkut beberapa barang dagang yang diimpor dari Kerajaan Lagarde. Barang-barang dagangan yang disimpan di dalam kotak-kotak kayu besar itu akan diantarkan ke Kerajaan Neverley dan Benua Timur.
Beberapa kelasi berseragam putih tampak berteriak-teriak tegas ketika hendak menaikkan beberapa kotak kayu ke atas geladak kapal, mereka sangat hati-hati sekali. Suasana pelabuhan yang sangat masif dan aktif sekali, dan hal tersebut mengingatkan Altezza kepada suasana Pelabuhan Ormos milik kerajaannya--yang juga memiliki tingkat keramaian serta keaktifan yang hampir sama dengan Pelabuhan Aetheria.
Altezza berjalan menaiki geladak kapal setelah melewati beberapa kelasi kapal yang memeriksa tiketnya. Ketika sudah berada di atas geladak utama kapal, laki-laki itu langsung mencari posisi ternyamannya untuk berdiri dan bersandar di tepian geladak, dan memandangi pemandangan lautan yang tampak sangat amat luas. Di kejauhan mata terlihat siluet kecil daratan, saking kecilnya Altezza sampai harus memicingkan matanya untuk bisa melihat siluet daratan Benua Timur itu.
Udara lautan yang sungguh menyejukkan, dengan angin yang tidak henti-hentinya berhembus kencang hingga membuat jubah serta rambutnya melambai-lambai gembira seperti suasana hatinya saat ini. Pandangan Altezza perlahan terangkat, menatap langit biru yang dipenuhi awan putih sembari berharap, "tetaplah seperti ini, langit. Kau terlihat sangat indah dan cantik dengan cuaca yang cerah," gumamnya, tersenyum kecil kemudian.
Meski begitu, namun kepala Altezza masih dipenuhi oleh beberapa pemberitaan yang sedang hangat pagi ini, dan dibicarakan oleh sekelompok petualang di serikat. Wanita penjaga resepsionis serikat petualang juga memberikan konfirmasinya mengenai topik pembicaraan tersebut bahwa apa yang dibicarakan memang terjadi kemarin malam.
__ADS_1