Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Membantu Bocah Tersesat #93


__ADS_3

Altezza langsung membersihkan darah yang keluar dari luka goresan yang ada pada lutut milik bocah tersebut, dan kemudian menutupinya dengan sebuah plester pengobatan yang dibawa. Di saat itu juga, dirinya menyempatkan diri untuk bertanya, "mengapa kau bisa dikejar-kejar oleh para bandit itu? Apa yang kau perbuat pada mereka?"


Bocah laki-laki itu tampak sedikit menundukkan pandangannya yang murung dan menjawab, "mereka adalah orang-orang yang sempat merampok beberapa rumah warga di beberapa waktu belakangan ini, dan di hari ini aku berpikiran untuk membalas perbuatan yang telah mereka lakukan."


"Membalasnya?" tanya Altezza, selesai mengobati luka kecil itu, dan kemudian merapikan kembali barang bawaannya.


"Pagi ini mereka merampas salah satu barang pedagang di desa kami, dan aku mengikuti mereka pergi ke hutan ini. Ketika mereka lengah, aku rampas kembali barang-barang yang telah mereka rampas," jawab bocah laki-laki itu.


Altezza tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh seorang bocah laki-laki yang duduk di hadapannya, bersandarkan sebuah pohon yang cukup besar dan rindang, cukup untuk membuat mereka berdua tidak kepanasan karena terik matahari.


"Oh iya, sebelumnya perkenalkan! Namaku Arthur, umurku 10 tahun, dan aku berasal dari Desa Vesperin." Bocah laki-laki itupun segera merubah topik pembicaraan sejenak dengan memperkenalkan dirinya kepada Altezza.


"Desa Vesperin?" gumam Altezza tampak bertanya-tanya penasaran.


Bocah bernama Arthur itu menganggukkan kepalanya dengan antusias dan dengan tatapan berbinar, "kau mau mampir ke desaku, Kak Pengembara? Letaknya tidak jauh dari sini, kok!"


"Benarkah? Ke arah mana?" tanya Altezza, kembali menggendong tas ransel miliknya di pundak.

__ADS_1


Bocah bernama Arthur tampak kebingungan menjawab pertanyaan tersebut, ia menoleh ke kanan dan kiri secara berulang kali, sebelum akhirnya ia tertawa kecil dengan sendirinya dan berkata, "maaf, sepertinya aku tersesat di sini."


Altezza menghela napas, sembari berdiri ia tampak tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. Arthur juga ikut beranjak berdiri dengan perlahan setelah lututnya tertutup oleh plester kecil, ia menatap kepada Altezza dan memohon, "bisakah antarkan aku kembali ke desa?"


***


Altezza kembali berjalan setelah pertemuannya dengan para bandit sebelumnya, dan kini dirinya memutuskan untuk membantu bocah laki-laki bernama Arthur itu kembali ke desa atau tempat asalnya. Sebenarnya Altezza sendiri tidak begitu yakin, karena dirinya tidak mengetahui letak dari Desa Vesperin, dan Arthur yang ternyata tersesat tidak tahu pasti ke mana arah jalan pulangnya.


"Aku tadi melewati pepohonan ini," ujar Arthur, tampak berusaha menyusuri kembali jalan-jalan yang telah ia lalui sebelumnya, "tetapi sepertinya hutan ini memiliki banyak pohon yang sama," lanjutnya, terlihat kebingungan.


"Bisa ceritakan bagaimana Desa Vesperin itu?" tanya Altezza yang berjalan tepat di sebelah bocah itu.


"Desa kami juga sering dikunjungi oleh banyak pengembara seperti kakak, bahkan mungkin menjadi salah satu destinasi pilihan," lanjut Arthur, tampak dengan bangganya menceritakan soal desanya.


Altezza terus berjalan melalui banyaknya pepohonan di hutan tersebut, mengikuti langkah Arthur yang mencoba mengingat serta mengikuti jalan yang sempat ia lewati sebelumnya.


Tak berselang lama, dari kejauhan di depan terdengar banyak sekali orang yang berteriak, dan mereka menyerukan nama Arthur. Altezza yang pertama kali mendengarnya pun berkata, "apakah kau mendengarnya?"

__ADS_1


"Arthur ...?!"


"Arthur, di mana kamu!?"


Arthur sempat diam sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "aku kenal suara mereka!"


Langkah dari bocah bernama Arthur itu kemudian semakin cepat, berlari menuju ke sumber suara dan tidak mempedulikan lututnya yang sakit. Altezza hanya mengikuti ke mana Arthur berlari dari belakang dengan santai. Benar saja, dari kejauhan terlihat banyak sekali orang-orang desa yang tampaknya sedang mencari-cari sosok Arthur dari luar hutan. Mereka juga terlihat membawa beberapa senjata tajam seperti golok, cangkul, garu dan beberapa benda lain.


"Kak Alia!" seru Arthur berlari dengan girangnya, keluar dari hutan lebat itu, dan kemudian memeluk seorang wanita berambut pirang berpakaian layaknya seorang biarawati.


Seorang biarawati bernama Alia itu tampak sangat senang dan lega ketika bertemu dengan Arthur, begitupula dengan bocah laki-laki itu yang langsung memeluk dirinya. Tak hanya mereka berdua, namun beberapa warga desa yang ada di sana juga merasakan hal yang sama.


"Syukurlah, kamu baik-baik saja, 'kan? Apa yang mereka perbuat padamu?" tanya Alia, sedikit menunduk dan bertanya kepada Arthur yang berada sangat dekat dengan dirinya.


Arthur mengangguk, tersenyum dan menjawab, "mereka sempat mengejar ku hingga ke tengau hutan, tetapi untung aja ada kakak pengembara yang membantuku."


Di saat yang bersamaan ketika Arthur menjawab pertanyaan tersebut, Altezza berjalan keluar dari hutan tersebut dan langsung menjadi pusat perhatian semua warga desa yang ada di sana, termasuk Alia. Biarawati muda dengan rambut pirangnya itu tampak menatap dirinya dengan senyuman, dan kemudian langsung mengucapkan, "terima kasih ...!"

__ADS_1


"Namanya Kak Altezza, dia orang yang hebat! Aku melihatnya dengan kedua mataku, dia mengalahkan para penjahat itu hanya dengan hembusan angin," cetus Arthur dengan sangat antusias dan bersemangat, langsung memperkenalkan Altezza di depan mereka semua.


Altezza hanya diam dan tersenyum kecil melihat Arthur yang tampak sangat antusias dengan dirinya. Begitupula yang dilakukan oleh biarawati bernama Alia, ia juga cenderung diam dan tampak tersenyum melihat bocah laki-laki itu.


__ADS_2