Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Isi Surat #141


__ADS_3

Benar-benar malam yang sungguh menenangkan dengan hembusan angin yang dapat terasa sangat lembut. Altezza tampak menikmati dan meresapi suasana tenang tersebut di tengah keramaian Ibu Kota Neverley yang tampaknya tidak pernah sepi. Hari sudah semakin larut, dan cakrawala malam yang bertabur bintang semakin terlihat dengan sangat jelas, indah sekali.


Laki-laki berambut hitam itu tampak bersandar di jendela kamar penginapannya yang terbuka, dan memandangi keramaian ibu kota dari lantai tiga tersebut. Penginapan yang dipilih oleh dirinya dan teman-temannya berada cukup di tengah pusat kota. Toko-toko makanan yang berada di seberang penginapan tampak buka 24 jam, mereka tidak pernah menutup dan berhenti menyambut pengunjung kapanpun itu, apalagi tempat-tempat seperti pub dan klub malam. Semuanya ada di sekitar penginapan.


Namun pandangan Altezza lebih tertarik untuk melihat ke atas, memandang ke arah langit malam yang bertabur rasi bintang yang bermacam-macam. Cahaya-cahaya kecil itu terlihat indah di tengah kegelapan malam yang menelan dunia.


"Kau belum mengantuk, 'kah?" tanya Eugene, berbicara di belakang Altezza sembari merapikan beberapa barang bawaannya yang ada di dalam tasnya di atas ranjang yang hanya cukup satu orang. Tepat di sebelah ranjang tersebut adalah ranjang milik Altezza, yang masih tampak rapi dan bersih dengan bantal dan selimut yang masih belum tersentuh.


"Mengapa? Kau mau pergi ke tempat hiburan malam?" sahut Altezza, tanpa menoleh sedikitpun, memandang ke bawah melihat beberapa tempat hiburan malam yang berada tak jauh dari penginapan tersebut.


Eugene tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Altezza, "sekali masuk akan susah keluar, jadi aku tak berani masuk ke sana," ucapnya.

__ADS_1


Altezza tersenyum sinis dan menambahkan, "aku juga tidak suka berada di sana, karena menurutku pub dan klub malam adalah tempat penghabisan uang yang dapat menyebabkan kecanduan, dan tak ada gunanya."


Kembali memandang ke arah langit, itulah yang dilakukan oleh Altezza. Laki-laki berambut hitam itu tampak tidak pernah bosan memandangi langit malam yang bertabur bintang itu. Tidak dapat dipungkiri, kedua telinga selalu mendengar hiruk-pikuk ibu kota yang tidak pernah berhenti beraktivitas meski di tengah malam sekalipun.


Di tengah ia merenung dengan pandangan terhipnotis oleh cantiknya pemandangan langit malam ini. Altezza merogoh kantong celananya, dan mengambil secarik kertas atau surat yang dibawakan oleh seekor merpati, sebelum akhirnya kembali membaca surat tersebut.


Di dalam surat itu tertuliskan sebuah kalimat singkat yang memuat beberapa poin penting, dan kalimat tersebut bertuliskan, "kegelapan telah datang, Kerajaan Mystick memulai peperangan dari Benua Selatan, Perbatasan Selatan Zephyra telah jatuh, dan deklarasi perang telah digaungkan."


Beberapa kalimat dan poin tersebut berhasil menarik perhatian Altezza, dan membuatnya langsung paham dengan situasinya. Lalu pada akhir dari surat tersebut terdapat satu kalimat yang bertuliskan, "kapan kamu pulang ke Zephyra, Altezza? Jaga dirimu baik-baik, dan kembalilah dengan selamat, semoga tuhan beserta alam senantiasa bersama dan melindungi mu di manapun kamu berada," dan terdapat dua nama pada penutup surat yakni Alaqua dan Zemira.


"Setiap bertemu malam, kau selalu saja merenung. Apakah ada hal yang sedang mengganggu pikiranmu, Altezza?" cetus Eugene yang tiba-tiba sudah berdiri tepat di sebelah Altezza, bersandar pada dinding tepat di sebelah jendela tersebut.

__ADS_1


"Apakah itu surat yang kau terima dari seekor merpati? Alaia sempat memberitahu diriku dan Aaron soal dirimu yang menerima surat dari seekor merpati." Eugene kemudian berbicara, menoleh dan menatap ke arah secarik kertas yang saat ini berada dalam genggaman kedua tangan Altezza, "kalau boleh tahu, apa isinya?" lanjutnya bertanya.


Altezza tampak menghela napas berat sejenak, pandangannya cenderung tertunduk ke bawah, menatap pada surat yang saat ini ia bawa dan berkata, "ada masalah di kampung halamanku, dan saat ini aku bingung."


"Apa yang membuatmu bingung?" tanya Eugene, masih dalam posisi yang sama, bersandar pada dinding tepat di sebelah jendela tersebut, dan melipat kedua lengannya di atas dada.


Laki-laki berambut hitam itu tampak bimbang, galau untuk menentukan keputusan yang akan mempengaruhi perjalanannya. Surat yang saat ini ada di tangannya benar-benar merubah suasana hatinya.


"Aku ingin tetap melanjutkan perjalanan ini, tetapi di sisi lain aku juga harus segera kembali ke tanah kelahirannya ku," ujar Altezza, perlahan melipat kembali secarik surat yang ia bawa.


Suasana hening sejenak, hanya terdengar hiruk-pikuk keramaian ibu kota di tengah malam yang indah ini. Eugene kemudian angkat bicara dengan mengatakan, "tujuan kita adalah ke wilayah padang pasir dan itu berjarak tidak lebih dari 60 kilometer ke arah Timur Laut dari Ibu Kota Neverley, hanya perlu melewati beberapa pegunungan."

__ADS_1


"Apapun keputusanmu, kami akan menghargainya, Altezza. Jika memang kau tidak bisa melanjutkan perjalanan dan kita harus berpisah di sini, itu tidak akan menjadi masalah. Namun jika kau masih ingin melanjutkan perjalanan bersama kami, tentu kami akan sangat senang," lanjut Eugene, berbicara dengan menoleh dan kemudian tersenyum kecil kepada Altezza.


Altezza hanya diam, tampak sedang bergelut di dalam benaknya, menentukan keputusan apa yang harus ia ambil. Surat yang ia terima dari seekor merpati adalah surat resmi yang berisikan informasi yang sangat serius, dan hal tersebut yang menjadi pertimbangan atas keputusan apa yang harus diambil.


__ADS_2