
Hari berikutnya, butiran-butiran salju kecil berwarna putih perlahan turun dari langit, dan jatuh di tanah Negeri Zephyra. Musim dingin telah tiba, dan perubahan iklim yang cukup ekstrem sudah dapat dirasakan. Orang-orang di Kerajaan Zephyra mulai memakai pakaian hangat mereka untuk beraktivitas di luar ruangan. Sedangkan rumah-rumah, kedai, toko-toko, dan beberapa bangunan lain sudah mulai membakar kayu bakar untuk menciptakan kehangatan di balik dinginnya musim dingin yang sudah terasa.
Memakai pakaian formal kerajaan berwarna putih, dan sebuah syal berwarna biru muda yang melingkar di lehernya. Altezza memulai harinya dengan berjalan di sekitar istana dan ibu kota. Tidak sendirian, pangeran itu tentu ditemani oleh pengawal setianya yakni Kenan yang berjalan tepat di sebelahnya. Tak ada tujuan pasti dari langkahnya berjalan melalui jalan-jalan di kota, karena niat awalnya hanya untuk berjalan-jalan menikmati pagi hari yang dingin, sekaligus merasakan dinginnya butiran-butiran salju yang secara perlahan membuat pemandangan setiap sudut kerajaan berwarna putih.
"Olahraga, Yang Mulia?" cetus Kenan, terlihat ceria di pagi ini.
Altezza tersenyum mendengar pertanyaan tersebut dan menjawab, "bukankah baik menggerakkan tubuh di pagi hari? Apalagi kita baru saja mengalami pergantian musim."
Ibu Kota Kerajaan Zephyra, masih saja ramai meskipun iklim sudah berubah. Banyak kereta kuda yang melintas, memuat barang-barang dagangan, dan juga penumpang yang memanfaatkan kendaraan tersebut sebagai alat transportasi umum. Terlihat banyak sekali anak-anak yang berkeliaran, berlarian di trotoar dengan gembiranya, mengingat hari ini juga hari libur bagi sekolah-sekolah atau akademi-akademi di Kerajaan Zephyra. Selain anak-anak dan remaja, banyak juga orang dewasa yang sibuk beraktivitas, bekerja,
Ketika berjalan melalui salah satu trotoar jalan utama ibu kota, kedua mata Altezza melihat sosok yang sangat ia kenal dan tidak asing di depan. Seorang gadis dengan seragam petugas perpustakaan kerajaan, syal berwarna merah yang melingkar di lehernya, topi hangat berwarna merah, dan tampak berdiri di tepi jalan, di antara banyaknya orang yang juga berjalan di sekitarnya.
Bianca tampak sedang berdiri di pinggir penyeberangan jalan, menunggu jalanan yang ramai dengan kuda-kuda itu lengang untuk ia menyeberang. Tidak memperhatikan sekitarnya, pandangannya hanya tertuju ke depan menunggu sampai waktu yang tepat untuknya menyebrang. Orang-orang di sekitarnya terlihat terkejut melihat siapa yang berdiri tepat di belakang perempuan berambut panjang cokelat kemerahan itu, dan mereka menundukkan pandangan serta kepala untuk memberikan hormat.
"Hai! Sendirian saja?" cetus Altezza, sudah berdiri di belakang Bianca, dan tampaknya kehadirannya cukup mengejutkan perempuan itu.
"Yang Mulia?!" cetus Bianca, langsung berbalik ke belakang, menatap dengan tatapan terbelalak terkejut tidak menyangka akan bertemu pangeran muda itu di jalan.
Altezza hanya tertawa kecil dan tersenyum lebar melihat ekspresi wajah yang tampak kemerahan seperti biasa ketika bertemu atau bersamanya, "bagaimana kabarmu?" tanyanya.
__ADS_1
"Baik, Yang Mulia." Bianca menjawab tanpa basa-basi, berdiri di tepi jalan tepat di sebelah Altezza, menunggu waktu yang tepat untuk menyeberang.
Tidak membutuhkan waktu lama, apalagi ketika para penunggang kuda yang berlalu-lalang di jalanan tersebut melihat sosok Altezza yang hendak menyeberang, mereka langsung memperlambat dan menghentikan kuda-kuda mereka. Altezza kemudian berjalan menyeberangi jalan yang cukup lebar itu, bersama Bianca yang berjalan di sebelahnya, dan Kenan yang berjalan di belakang mereka berdua. Para kusir kereta kuda yang memberhentikan kuda-kuda mereka langsung menundukkan pandangan mereka ketika Altezza lewat di depan mereka. Tidak lupa untuk berterima kasih, Altezza tersenyum, melambaikan satu tangannya, dan menundukkan sedikit kepalanya kembali kepada mereka yang sudah memberikan jalan padanya untuk menyeberang.
"Kamu mau ke mana? Pergi bekerja di hari libur?" tanya Altezza, berjalan di trotoar seberang bersama Bianca dan Kenan.
"Tentu saja, Yang Mulia, pekerjaan saya jarang memiliki tanggal merah. Namun sebelum ke sana, aku ingin mampir ke kedai perempatan di depan terlebih dahulu," jawab Bianca tersenyum dengan pandangan ke depan, beberapa kali memandang ke bawah memperhatikan langkah kedua kakinya.
"Anda sendiri bagaimana? Jalan-jalan pagi?" lanjut Bianca, sempat menoleh menatap Altezza dengan senyuman yang masih tersungging.
Altezza tersenyum dan mengangguk menjawab, "jalan-jalan di bawah salju awal musim sepertinya asyik."
"Ngomong-ngomong, bukankah seharusnya beberapa petugas perpustakaan mendapatkan jatah cuti hari ini, apakah kamu tidak mendapatkan jatah tersebut?" cetus Altezza bertanya.
"Sebenarnya saya dapat, Yang Mulia. Kepala perpustakaan memberikan saya cuti di hari ini, namun saya tidak ingin mengambilnya," jawab Bianca, tanpa menoleh ataupun melirik kepada pangeran yang berjalan tepat di sebelahnya.
Altezza mengerutkan dahinya dan secara spontan bertanya, "mengapa?"
Bianca melirik ke Altezza masih dengan senyumannya, dan kemudian menjawab, "karena jika saya mengambil cuti tersebut, saya tidak tahu harus berkegiatan apa, karena saya tidak terlalu memiliki banyak kegiatan selain bekerja di perpustakaan."
__ADS_1
Mereka berdua terlihat asyik ngobrol, sedangkan Kenan hanya diam berjalan mengikuti ke manapun langkah pangerannya pergi. Seperti nyamuk, Kenan hanya menyimak perbincangan mereka berdua dari belakang, bahkan beberapa kali sempat tersenyum kecil ketika melihat sikap pangeran muda itu yang seolah melunak ketika berhadapan dengan Bianca.
***
Ruang singgasana Istana Kerajaan Zephyra. Welt tampak melaporkan sesuatu hal kepada Raja Aiden, dan juga didengar oleh Ratu Caitlyn. Pangeran pertama itu tampak menunjukkan bola kristal miliknya dan dua buah buku sampul hitam di kedua tangannya. Pangeran pertama Zephyra itu kemudian memberitahukan perasaan resah gelisah yang tiba-tiba saja muncul di tadi malam. Menjelaskan secara rinci bagaimana bola kristal itu berubah hitam secara tiba-tiba, dan warnanya sungguh pekat.
Raja Aiden tampak mendengar secara saksama penjelasan dari putra pertamanya, begitu pula dengan Ratu Caitlyn yang duduk tepat di sebelah singgasana sang raja.
"Hanya itu? Tidak ada pertanda lain yang muncul?" tanya Raja Aiden, setelah mendengar semua yang dikatakan oleh Welt, bahkan Welt juga menyebutkan beberapa kalimat yang ia baca dari kedua buku yang ia bawa, dan kalimat-kalimat tersebut berisikan tafsiran atas pertanda bola sihir yang tiba-tiba saja berubah hitam.
"Ya, hanya saja ... kedua buku ini memiliki banyak penafsiran yang berbeda," jawab Welt.
Raja dan Ratu itu tampak saling menatap untuk beberapa saat, sama-sama berpikir dan terlihat bingung, "untuk sementara ... anggap saja ini pertanda karena musim dingin telah tiba," ucap Raja Aiden kemudian menoleh dan menatap kembali ke arah Welt yang berdiri di depannya.
"Ya, musim dingin adalah musim yang cukup ekstrem bagi kita, karena sudah dipastikan kita akan membutuhkan banyak sekali persediaan makanan dan minuman, pakaian hangat, kayu bakar, dan masih banyak lagi," timpal ratu Caitlyn.
Raja dan Ratu tampak tidak terlalu berpikiran negatif mengenai laporan yang diberikan oleh putra pertama mereka. Apa yang dikatakan oleh Ratu Caitlyn ada benarnya juga, mengingat ladang tani tidak akan bisa tumbuh sepanjang musim dingin, begitu pula dengan hewan-hewan ternak tidak akan bisa menikmati padang rumput yang luas, dan hal tersebut juga berlaku bagi para nelayan yang akan kesulitan untuk memancing.
Akan tetapi mereka tetap tidak mengesampingkan pertanda yang dikatakan oleh Welt. Raja Aiden tetap memerintahkan kepada Welt untuk mengaktifkan para ahli sihir kerajaan untuk tetap berpatroli dan siaga secara masif, terutama sepanjang musim dingin ini.
__ADS_1