Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Multi Tafsir #104


__ADS_3

Kerajaan Zephyra, salah satu dari tiga kerajaan besar digdaya yang berkuasa di Benua Tengah. Suasana tentram dan damai, dengan kesibukan ibu kota yang seolah tidak pernah padam. Akan tetapi ketentraman tersebut sepertinya tidak dirasakan oleh keluarga kerajaan yang saat ini berada di istana. Raja Aiden mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh ksatria terbaik kerajaan yaitu Kenan, satu penjaga perpustakaan bernama Al, satu perwakilan prajurit yaitu Franz, tangan kanan atau orang kepercayaannya yaitu Weiz, dan tentu saja juga dihadiri oleh ratu serta putra sulung tercintanya. Pertemuan tersebut diadakan siang hari di ruang singgasana milik Raja Aiden sendiri.


Tidak ada yang berlutut, semua orang berdiri kecuali raja dan ratu yang duduk di atas kursi singgasananya dengan ekspresi terlihat cemas. Raja Aiden langsung memulai pembicaraan dalam pertemuan tersebut yang akan membahas soal apa yang terjadi semalam. Pemberitaan soal apa yang terjadi pada salah satu Kristal Sihir milik kerajaan tanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja, bahkan Weiz, Kenan, dan Franz masih tampak kebingungan atas maksud dari mereka berdua tiba-tiba dipanggil untuk menghadap dan hadir di ruang singgasana.


Raja Aiden bisa mengerti dan menyadari ada yang masih bingung. Dirinya pun segera angkat bicara untuk memulai pembicaraan, dan memberitahukan apa yang terjadi semalam kepada tiga orang itu.


"Semalam, salah satu Kristal Sihir kerajaan telah pecah setelah menunjukkan adanya entitas magis yang sungguh mengerikan."


Pernyataan dari Raja Aiden diperkuat oleh Welt yang langsung berbicara, "barang buktinya tersimpan dengan baik bersamaku."


Ratu dan Welt tidak terlalu terkejut ketika mendengar apa yang dikatakan oleh sang raja. Akan tetapi hal itu tidak berlaku bagi Kenan, Franz, dan Weiz yang baru saja mendengar kabar tersebut di siang hari ini. Semua orang di istana dan kerajaan tahu kekuatan serta kegunaan dari Kristal Sihir itu. Kerajaan Zephyra memang memiliki lebih dari satu kristal sihir, dan biasanya masing-masing disimpan di gedung-gedung penting pemerintahan kerajaan seperti akademi dan museum sebagai contohnya. Akan tetapi kristal-kristal sihir yang dimiliki oleh istana berbeda dari yang lain, dan memiliki keistimewaan.


"Apa yang ditunjukkan oleh kristal sihir itu tentu adalah sesuatu yang sangat buruk, akan tetapi aku sendiri belum mengetahui apa yang sebenarnya akan atau mungkin sedang terjadi," ujar Raja Aiden.


Situasi ruangan lengang sejenak, sebelum akhirnya Raja Aiden melempar pertanyaan kepada Franz yang isi pertanyaannya adalah, "apakah ada sesuatu atau laporan dari salah satu wilayah atau desa dalam yuridiksi Tanah Zephyra?"


Franz memberikan hormatnya dengan menundukkan kepala, sebelum kemudian ia menjawab, "tidak ada, Yang Mulia. Semuanya baik-baik saja sejak pagi tadi, tidak ada sesuatu yang janggal."


"Pihak sihir kerajaan juga tidak mendeteksi adanya sesuatu yang janggal sejak pagi ini," timpal Welt.

__ADS_1


Kebingungan pun terjadi, karena Kristal Sihir menunjukkan tanda-tanda yang mengerikan, bahkan saking kuatnya entitas sihir kegelapan yang ditampilkan oleh Kristal Sihir, membuatnya tidak sanggup dan akhirnya hancur berkeping-keping.


"Izin melaporkan juga, Yang Mulia. Situasi ibu kota juga tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ramai dan aman seperti biasa," ucap Kenan, menundukkan kepalanya sejenak sebelum berbicara.


Tatapan mata sang raja tampak cenderung ke bawah dengan ekspresi wajah menunjukkan bahwa dirinya sedang berpikir. Ratu Caitlyn yang duduk di sebelahnya ikut berbicara mengenai permasalahan ini dengan mengatakan, "ini belum pernah terjadi sebelumnya, bukan?"


"Maksudku ... Kristal Sihir yang hingga pecah seperti itu," lanjut Caitlyn.


"Berdasarkan sejarah yang pernah terjadi satu abad yang lalu, tepat beberapa hari sebelum perang besar menyelimuti hampir seluruh Benua. Kristal Sihir kita juga menunjukkan tanda-tanda yang sama, entitas magis yang sungguh gelap, tetapi tidak sampai pecah." Raja Aiden tampak berbicara dengan tatapan lamat-lamat ke bawah, ia berbicara sembari mengingat-ingat sejarah yang tercatat di banyak buku.


"Al, bagaimana menurutmu? Apakah kau bisa menafsirkan apa yang kita lihat semalam?" cetus Ratu Caitlyn menatap lembut sosok laki-laki berseragam putih dengan corak emas yang berdiri di samping Weiz. Laki-laki berambut cokelat tua itu adalah Al, salah satu penjaga perpustakaan istana.


"Seperti apa yang pernah terjadi ketika musim dingin kemarin, Kristal Sihir yang tiba-tiba gelap itu memiliki multi tafsir yang berbeda-beda. Akan tetapi dengan pecahnya kristal tersebut, banyak buku yang menjelaskan bahwa pertanda itu merujuk atau mengerucut pada suatu hal yang berhubungan dengan kekuatan," lanjut Al.


"Saking besarnya kekuatan yang ditangkap oleh Kristal Sihir untuk disampaikan atau diperlihatkan kepada kita, menyebabkan konjungsi aliran sihir yang berada di dalam kristal tersebut, sehingga menyebabkan pecahnya Kristal Sihir seperti apa yang kita lihat semalam, Yang Mulia," lanjut Al kembali, dan selesai berbicara.


Raja Aiden mencoba untuk menenangkan pikirannya yang sudah mulai meracau ke berbagai hal yang tidak-tidak. Ia bersandar pada sandaran kursi singgasananya yang berlapis permata perak, dan menatap Weiz sembari bertanya, "apakah ada kiriman surat ataupun informasi dari kerajaan tetangga yang mungkin berhubungan dengan kejadian janggal ini?"


Weiz pun menjawab dengan berkata, "tidak ada sama sekali, Yang Mulia. Tidak ada surat ataupun informasi dari kerajaan lain, mereka hanya diam dan tidak terjadi apa-apa."

__ADS_1


Pandangan dari raja perlahan teralih, menoleh ke sampingnya dan menatap ratu cantiknya sembari bertanya, "bagaimana menurutmu?" meminta saran.


Terlihat jelas bahwa hati Ratu Caitlyn sedang tidak baik-baik saja, bahkan dahinya cenderung mengkerut dengan tatapan getir. Ratu cantik dan anggun itu tampak sedang sangat khawatir terhadap berbagi hal. Ia hanya menjawab, "keamanan rakyat lebih penting, kita harus memasifkan penjagaan sampai ada kejelasan."


Pandangan Raja Aiden kembali mengarah ke lima orang yang berdiri di depannya, terutama kepada dua orang dengan seragam zirah kerajaan dan berkata kepada keduanya, "Franz, Kenan, bisakah kalian melakukan apa yang ratu katakan?"


Kenan dan Franz langsung menundukkan kepala mereka sembari berkata, "akan kami usahakan, Yang Mulia. Kami tidak akan mengecewakan," dengan serempak.


"Weiz," perhatian Raja Aiden tertuju kepada orang kepercayaannya dan lanjut memberikan titahnya, "kirimkan surat ke Victoria dan Lagarde, beritahu mereka soal Kristal Sihir ini!"


"Baik, Yang Mulia," sahut Weiz, menundukkan kepalanya.


"Welt, kau memasifkan patroli ahli sihir kerajaan!" lanjut Raja Aiden kepada putra sulungnya.


Welt mengangguk dan berkata, "baik, segera diatur."


"Al, kembali ke perpustakaan dan tetap jaga kerahasiaan soal ini ...!" lanjut raja kepada Al penjaga perpustakaan. Al mengangguk, menundukkan kepalanya dan patuh atas perintah tersebut.


Perintah yang terakhir soal kerahasiaan tampaknya tidak hanya ditujukan kepada Al saja, melainkan seluruh orang yang ada di ruang singgasana siang ini. Raja Aiden tampak sangat tegas mengatakan, "tidak hanya untuk Al, namun untuk kita semua yang ada di ruangan ini. Jangan sampai publik mengetahui apa yang terjadi pada Kristal Sihir kita, karena itu hanya akan menimbulkan spekulasi serta kepanikan masyarakat, dan aku tidak ingin itu terjadi."

__ADS_1


__ADS_2