
Malam kemenangan bagi warga desa di wilayah Arcadia. Teror yang selama ini merundung mereka untuk beraktivitas, kini telah teratasi oleh sekelompok pengembara yang datang ke desa mereka. Warga desa tampak perlahan membuka pintu serta jendela rumah mereka, dan menyambut kedatangan Altezza dan teman-temannya kembali ke desa setelah malam pembasmian selesai dilaksanakan.
Penduduk desa terdiri dari Elf dan Manusia Setengah Binatang, mereka sangat ramah dan menyampaikan banyak kata terima kasih serta pujian yang ditujukan pada sekelompok pengembara yang berjalan melewati jalanan desa. Legolas bersama mereka, dan langsung membawa para pengembang tersebut menuju ke penginapan untuk beristirahat.
"Terima kasih banyak atas perjuangan serta bantuan kalian, aku sungguh berterima kasih!" ucap Legolas hingga menundukkan kepalanya ketika sampai di sebuah penginapan sederhana miliknya.
"Silakan gunakan penginapan ini untuk kalian beristirahat malam ini, jika memerlukan sesuatu cukup panggil Emily. Tenang saja, kalian tidak perlu membayar, semua biaya anggap saja telah terbayarkan oleh kerja keras serta perjuangan kalian malam ini," lanjut Legolas, tersenyum kepada keempat pengembara yang berdiri di depannya. Tepat setelah ia selesai berbicara, sosok Emily si pelayan setengah kucing datang untuk memindahkan barang bawaan para pengembang ke kamar mereka masing-masing.
Membiarkan mereka berisitirahat, Legolas tidak lama kemudian memutuskan untuk pergi dari penginapan tersebut, dan mempercayakan penginapan kepada Emily.
Masih enggan untuk pergi ke kamar dan memejamkan mata beristirahat. Altezza duduk di salah satu meja yang ada di lantai satu penginapan yang rupanya adalah restoran kecil. Bersamanya terdapat Aaron dan Alaia, sedangkan Eugene sendiri memutuskan untuk pergi ke kamar untuk merapikan barang-barangnya.
"Altezza, aku tak tahu harus berkata apa, yang jelas aku sangat berterima kasih karena kau telah menyelamatkan adikku," ujar Aaron, duduk bersebrangan dengan Altezza, menatap laki-laki berambut hitam itu dengan tatapan tulus. Alaia sendiri masih tampak diam, duduk tepat di sebelah kakak laki-lakinya yakni Aaron.
Altezza tampak tersenyum kecil dan berbicara, "kalian adalah temanku, dan tidak mungkin aku diam saja ketika salah satu dari kalian sedang dalam bahaya. Aku tidak bisa hanya diam, tubuhku bergerak sendiri."
"Tetapi apapun itu, yang terpenting kita bisa kembali berbincang seperti saat ini," lanjut Altezza, kemudian menghela napas lega karena tugasnya dan teman-temannya di desa tersebut telah selesai.
__ADS_1
Aaron mengangguk, setuju dengan kalimat terakhir yang dikatakan oleh Altezza barusan. Perbincangan sempat berlanjut sedikit lebih lama, sampai pada akhirnya laki-laki berambut pirang itu memutuskan untuk pergi ke kamar, meninggalkan Alaia yang tampaknya masih enggan untuk tidur sama seperti Altezza.
Kini hanya ada mereka berdua di lantai satu penginapan--sebenarnya ada sosok Emily juga, namun ia berada di balik meja resepsionis dan tampak siap melayani tamunya bila memerlukan dirinya.
"Semua yang kamu lakukan tadi sungguh hebat, Altezza. Aku belum pernah melihat kekuatan magis sehebat itu seumur hidupku di akademi kerajaan," cetus Alaia, berbicara dengan sedikit senyuman yang terukir pada paras cantiknya.
"Terima kasih sekali lagi, mungkin aku sudah menjadi abu jika kamu tidak melindungi ku. Aku juga ingin meminta maaf karena aku lengah," lanjut Alaia, menundukkan kepala dan pandangannya.
"Tidak ada yang menyangka serangan dadakan dari dalam tanah itu terjadi, bahkan Legolas dan Caelum saja terkejut. Tidak ada yang salah dari dirimu, Alaia. Hanya saja nasib makhluk itu memilih untuk muncul tepat di belakang mu, dan menjadikan mu sasaran." Altezza berbicara dengan sikapnya yang tenang dan santai seperti biasa.
Setelah selesai berbicara, laki-laki itu menoleh ke arah Emily sembari mengangkat satu tangannya dan bertanya, "apakah aku bisa memesan minuman, Emily?"
"Kau juga mau sesuatu?" tanya Altezza, sempat menawari Alaia. Akan tetapi Alaia sungkan, menggelengkan kepalanya dan tersenyum sembari berkata, "tidak perlu, terima kasih."
"Satu teh hangat manis!" ucap Altezza kepada Emily.
Gadis berambut kelabu dan memiliki dua telinga serta satu ekor kucing itu tampak tersenyum riang, "baik, segera datang!" serunya tetap bersemangat meski waktu menjelang tengah malam.
__ADS_1
"Sihir yang kau gunakan, ku akui kau adalah salah satu penyihir terbaik dalam menggunakan mantra pendukung yang pernah ku kenal," ucap Altezza, mengganti sedikit topik pembicaraannya dengan Alaia, "selain mantra itu, apakah kau bisa menggunakan mantra penyembuh?" lanjutnya bertanya.
Alaia mengangguk dengan cukup bersemangat, tersenyum lebar dengan kedua pipi tampak sedikit merona karena pujian tersebut, "i-iya, aku bi-bisa menggunakan mantra penyembuh!" jawabnya dengan sedikit kikuk.
Altezza mengangguk dengan senyuman kecil, memandangi penampilan Alaia yang lengkap dengan jubah putih serta tongkat emas yang terikat di punggungnya, "tidak salah lagi, sih. Penampilan mu memang identik seperti seorang ahli sihir penyembuhan," ucapnya kemudian.
"Tadi kau sempat menyebut akademi, apakah kau belajar dari salah satu akademi di Kerajaan Arandelle?" lanjut Altezza kembali bertanya.
Lagi-lagi Alaia menjawabnya dengan anggukan, dan kemudian berbicara, "ya, aku belajar di sana, dan aku lulusan tahun kemarin dari Satuan Akademi Sihir Arandelle, jurusan pengobatan."
"Pengobatan?" gumam Altezza, mengetahui sesuatu hal yang baru dari sosok Alaia di hadapannya, "bukankah seharusnya penyihir yang ahli dalam bidang tersebut mendapatkan prioritas sebagai penyihir kerajaan?" tanyanya.
"Kau benar, prioritas itu memang ada!" sahut Alaia, kemudian tersenyum kecil dan lanjut berkata, "namun aku tidak mengambilnya, aku memilih untuk berkelana bersama mereka berdua, sekaligus menjadi seorang pendukung atau penyembuh di saat mereka membutuhkan peranku."
"Dan aku ingin selalu bisa bersama mereka," lanjut gadis berambut kelabu itu, tersenyum senang kemudian setelah selesai berbicara.
Altezza ikut tersenyum setelah mendengar jawaban sekaligus alasan perempuan di hadapannya berkelana, "maaf bila aku seperti menginterogasi mu karena bertanya banyak hal," ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Ti-tidak apa-apa!" sahut Alaia, kemudian menundukkan kepalanya, sedikit menyembunyikan ekspresinya yang tampak merona sembari lanjut berbicara, "ju-justru ... a-aku sangat senang ... bila bisa ngobrol banyak hal dengan mu, Altezza," dengan intonasi serta sikap yang terlihat sangat gugup.
Di saat yang bersamaan, secangkir teh hangat dibawakan oleh Emily dan disajikan di atas meja milik Altezza. Gadis setengah binatang itu tersenyum ramah, menundukkan kepalanya dan berbicara, "silakan dinikmati!"