Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Akan Pergi? #77


__ADS_3

Tiga hari telah habis digunakan untuk Altezza melakukan persiapan. Akhir musim dingin, salju-salju putih itu perlahan mencair, hanya tinggal menghitung hari untuk memasuki awal musim semi. Beberapa hal yang perlu ia bawa telah selesai disiapkan, semua juga berkat bantuan Ratu Caitlyn. Laki-laki itu juga sudah memutuskan senjata apa yang akan menemaninya selama berkelana.


Di hari keempat ini, Altezza memilih untuk menghabiskan waktunya bersama gadis bernama Bianca. Tidak ada lagi yang perlu ia persiapkan, hanya tinggal menunggu waktu dan hari keberangkatannya saja.


"Suasana hati anda sepertinya sedang sangat baik, Yang Mulia. Apa yang membuat anda seperti ini?" tanya perempuan dengan jaket berwarna putih, berjalan berdampingan dengan laki-laki berjubah hangat putih kerajaan itu.


"Tentu saja karena jalan bersamamu, Bianca," celetuk Altezza, tersenyum kecil dan melirik gadis itu. Sontak hal tersebut berhasil membuat wajah Bianca merona hanya dalam sekejap, dan membuat Altezza tertawa melihatnya.


"Jangan keseringan menggoda saya, saya tidak tanggung jawab jika nanti anda semakin suka," sahut Bianca dengan pandangan ke depan dan sedikit tertunduk, serta tersenyum kecil dengan wajah masih merona.


Altezza hanya tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Bianca. Ia terus berjalan melalui ramainya jalanan ibu kota, dan menuju ke sebuah menara yang ada di salah satu sudut benteng kerajaan. Salah satu menara kesukaan Altezza, menara yang dahulu sempat ia gunakan untuk mencoba sihir angin miliknya untuk pertama kalinya.


Bianca berdiri di tepi menara tersebut, di samping sosok pangeran muda itu yang tampak tenang memandangi hamparan yang seharusnya hijau kini masih tertutup oleh putihnya salju.


"Jadi, apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?" tanya Bianca, sempat menoleh dan menatap hangat Altezza, sebelum kemudian memandang ke arah yang sama dengan apa yang dilihat oleh laki-laki tersebut, hamparan putih yang sangat amat luas.


"Musim dingin sebentar lagi berakhir, dan Raja Aiden juga sudah memberikan izin untuk diriku pergi berkelana di awal musim semi nanti." Tanpa berbasa-basi, Altezza langsung berbicara pada inti pembicaraan yang ingin ia katakan.

__ADS_1


Bak mendengar suara petir yang menggelegar di dalam benaknya, Bianca terkesiap, pupil mata membesar, dan terdiam ketika mendengar hal tersebut. Altezza yang masih belum memperhatikan ekspresi serta sikap Bianca yang tiba-tiba saja diam. Laki-laki itu lanjut berbicara, "aku akan segera keluar dari negeri ini, dan berke--"


"Bianca, apakah kau baik-baik saja?" Altezza menghentikan bicaranya, dan bertanya ketika melirik dan mendapati sosok Bianca yang tampak terdiam dengan kedua iris matanya yang terlihat cukup berkaca-kaca.


Bianca sedikit tercekat, "sa-saya baik-baik saja, Yang Mulia. Hanya saja ... saya ... cukup terkejut," ucapnya, kemudian tertunduk, tersenyum kecil dan terlihat cukup dipaksakan.


"Kau sedih?" tanya Altezza, sedikit mendekat, dan menatap paras cantik gadis itu dari dekat.


"Kalau anda bertanya seperti itu, maka jawaban saya ... iya, Yang Mulia." Bianca menjawab pertanyaan tersebut, jujur dari hati terdalamnya, menatap lembut Altezza ketika berbicara.


Namun reaksi Altezza justru tersenyum tipis, kembali memandang ke arah hamparan salju yang sangat amat luas di depannya dan berkata, "aku hanya pergi sementara waktu, Bianca. Tentu aku tidak bisa lama-lama pergi dari tanah kelahiran ku."


Kedua pipi milik Bianca terlihat sedikit merona mendengar kalimat terakhir yang dikatakan oleh Altezza, "kapan keberangkatan anda, Yang Mulia?" tanyanya kemudian.


Altezza menggelengkan kepalanya dan menjawab, "aku belum tahu, yang pasti aku akan memberikan kabar kepadamu ketika hendak berangkat di awal musim semi nanti."


"Apakah anda akan mengirim surat nanti di tengah petualangan anda?" ucap Bianca kembali bertanya, tanpa memandang atau melirik sosok Altezza yang berdiri di sampingnya, hanya memandangi pemandangan salju di hadapannya.

__ADS_1


Altezza mengangguk, "ya, tentu saja! Aku juga pasti akan mengirimkan surat untukmu, Bianca. Jadi jangan lupa dibalas, ya ...!" ucapnya, kemudian tersenyum sembari memandangi cantiknya perempuan tersebut meski dipandang dari samping.


Bianca juga ikut tersenyum mendengar apalagi melihat ekspresi Altezza yang terlihat menyenangkan, membuat suasana hatinya yang sedih perlahan kembali hangat, "tenang saja, Yang Mulia. Sepertinya saya tidak akan bisa melewatkan surat dari anda," ucapnya.


"Lalu, apakah saya boleh mengetahui ke mana anda akan berpetualang?" lanjut Bianca, menoleh, menatap laki-laki itu.


"Aku akan pergi ke Benua Timur, menyambangi negeri-negeri tropis yang ada di sana," jawab Altezza seraya memandangi ke arah langit biru di siang ini.


Bianca tersenyum mendengar jawaban tersebut, "Benua Timur sangatlah jauh, Yang Mulia. Apakah anda sudah mempersiapkan segala sesuatu yang penting untuk perjalanan jauh itu?" ucapnya.


"Semoga saja cukup," jawab Altezza.


"Tetapi, Yang Mulia. Saya ingin menyampaikan satu harapan atau permintaan saya kepada anda apakah boleh?" tanya Bianca, kemudian menoleh, memandangi kedua iris mata berwarna hitam pekat milik pangeran tampan itu.


"Permintaan?"


"Saya berharap dan ingin bisa mendengar semua cerita tentang kisah petualangan anda saat anda kembali nanti," ucap Bianca, memandang dengan kedua iris mata berwarna cokelat muda yang tampak cukup berbinar.

__ADS_1


Altezza tersenyum, mengangguk dan menanggapi, "iya, aku akan menceritakan semuanya kepadamu, kalau perlu ketika berpetualang, aku akan sedikit menceritakannya melalui surat," ucapnya.


Tertawa kecil, Bianca terlihat bahagia mendengar permintaannya akan dikabulkan oleh seorang laki-laki yang sangat ia kagumi. Altezza juga tampak tertawa dan tersenyum melihat ekspresi bahagia tersebut.


__ADS_2