
Suara kicauan burung terdengar sangat merdu, menyambut pagi yang cerah dan indah. Altezza kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke Benua Timur yang masih berjarak sangat jauh. Laki-laki itu berjalan terus menuju ke arah timur di dalam wilayah yurisdiksi milik Kerajaan Lagarde, hingga pada akhirnya ia menemukan sebuah desa setelah berjalan melalui banyak sekali pepohonan hutan yang lebat tersebut.
Altezza tentu berjalan keluar dari hutan, dan menghampiri sejenak desa yang ia temui di tengah perjalanan. Desa pertama yang ia hampiri dalam perjalanannya. Pemandangan alam di desa tersebut sangatlah indah, karena ternyata desa tersebut terletak di dekat dengan perbukitan. Banyak sekali tanah terasering yang terlihat, dan dimanfaatkan untuk pertanian. Orang-orang di sana terlihat menumbuhkan sayuran-sayuran seperti bayam, wortel, lobak, selada, dan masih banyak lagi.
Selain pemandangan alam yang sangat hijau, menyejukkan mata ketika melihat. Kehadiran pendatang seperti Altezza juga rupanya sangat disambut ramah oleh kebanyakan orang di desa tersebut. Ketika Altezza berjalan melalui jalanan desa, setiap orang yang dilewatinya tersenyum bahkan menganggukkan kepalanya ketika melihat Altezza.
"Halo, selamat pagi! Apakah kamu seorang pengembara?" cetus suara anak perempuan dari belakang Altezza, menyapa dirinya.
Altezza menghentikan langkahnya, berbalik badan ke belakang dan melihat sosok anak perempuan berambut kemerahan dengan pakaian dress sederhana berwarna merah muda. Ia tersenyum kepadanya dan berkata, "kamu benar sekali."
Kedua mata berwarna cokelat milik anak perempuan itu tampak berbinar, dan tersenyum senang. Di saat yang bersamaan seorang gadis cantik yang tampaknya seumuran dengan Altezza datang dari arah lain, "ya ampun, aku cari dari tadi rupanya kamu ada di sini!" cetusnya sembari menggandeng anak perempuan itu.
"Maaf, apakah adikku merepotkan mu?" lanjut gadis berambut kemerahan sama seperti anak perempuan itu, bertanya kepada Altezza.
"Tidak sama sekali," jawab Altezza tersenyum.
Lirikan mata gadis berambut kemerahan itu kemudian tertuju kepada tas ransel yang dibawa di punggung Altezza, dan sebuah pedang yang tersarungkan rapi bergelantung di ikat pinggang laki-laki tersebut.
"Oh, kamu seorang pengembara?" tanya perempuan itu kembali.
Altezza mengangguk, "iya," jawabnya singkat.
"Apakah ada yang bisa aku bantu?" sahut perempuan itu langsung bertanya dan berbicara sesaat setelah jawaban singkat Altezza.
__ADS_1
Altezza tampak berpikir sejenak, mengingat-ingat keperluannya sebelum kemudian berkata, "aku hendak membeli beberapa sayuran di sini, apakah kau bisa membantuku?"
"Tentu saja, mari ikuti aku!" sahut gadis itu tersenyum.
Gadis berambut merah itu berjalan dengan menggandeng erat adik perempuannya agar tidak menghilang darinya lagi. Altezza juga ikut berjalan tepat di samping perempuan itu, melalui jalanan tanah desa yang sangat sejuk.
"Sebelumnya perkenalkan, namaku Iris, dan ini adalah adikku," ujar Iris kemudian menatap adik kecilnya, "aku Aria, Kakak Pengembara!" lanjut adiknya, menengadahkan kepalanya untuk bisa menatap Altezza.
"Salam kenal, aku Altezza," ujar Altezza sembari tersenyum.
"Sudah ke mana saja kamu pergi? Dan sudah berapa lama kamu menjadi seorang pengembara?" tanya Iris, menoleh, menatap Altezza dengan tatapan penasaran.
Altezza tertawa kecil sejenak mendengar kedua pertanyaan tersebut, "aku baru memulai perjalanan ku kemarin, dan desa ini menjadi destinasi pertama ku," jawabnya.
Udara yang sangat menyejukkan, dan angin yang terasa lembut membuat hati merasa sejuk serta tenang. Ditambah dengan suasana desa yang terletak di alam, di perbukitan kecil yang menambah sejuk suasana. Altezza terlihat tidak bisa berhenti tersenyum, memandangi pemandangan alam yang sangat indah ketika berjalan di jalanan desa tersebut.
Tak berselang lama, mereka bertiga akhirnya sampai di sebuah rumah sederhana namun memiliki halaman yang cukup luas. Iris dan Aria berjalan masuk ke halaman rumah tersebut, mengajak Altezza bersama mereka. Kedatangan mereka bertiga langsung disambut oleh seorang wanita paruh baya dengan pakaian sederhana dan memiliki warna rambut sama seperti Iris dan Aria.
"Ibu, kami pulang!" ujar Iris, kemudian langsung memperkenalkan Altezza kepada ibunya, "ibu, ada yang mau membeli sayuran segar kita ...!" lanjutnya.
Pandangan serta perhatian wanita paruh baya itu langsung tertuju kepada sosok Altezza yang berdiri di belakang Iris dan Aria, "siapa nama pemuda tampan ini, Iris?" tanyanya, tersenyum.
Altezza sempat menundukkan kepalanya, kemudian tersenyum dan memperkenalkan dirinya, "nama saya Altezza, saya adalah pengembara dari Zephyra."
__ADS_1
Wanita paruh baya itu tampak tersenyum senang menyambut tamu yang rupanya adalah seorang pengembara, "mari masuk dahulu! Kita bisa berbicara di dalam," ucapnya kemudian, mengajak serta menyambut tamunya dengan sangat baik dan hangat.
Altezza melepaskan alas kakinya terlebih dahulu, sebelum kemudian masuk ke dalam rumah sederhana tersebut. Ia harus menaiki beberapa anak tangga kecil untuk masuk, dan ketika sudah berada di ruang tamu. Semuanya beralaskan kayu dan karpet berwarna hijau muda, tidak ada kursi ataupun sofa, dan sepertinya memang model dari rumah tersebut memanglah seperti itu.
"Iris, bisakah kamu bantu ibu dahulu?" cetus wanita paruh baya yang sudah berada di ruangan selanjutnya, "baik!" sahut Iris langsung beranjak menuju ke ruang belakang, dan pergi ke dapur. Sedangkan adiknya yaitu Aria tampak duduk tepat di sebelah Altezza yang duduk di atas karpet tersebut.
"Kakak, ibu pernah menceritakan kepadaku banyak dongeng tentang Negeri Zephyra. Apakah benar ada roh angin yang bersemayam di sana?" tanya Aria, menatap polos sekaligus penasaran sosok Altezza.
Altezza tersenyum mendengar pertanyaan tersebut, menoleh dan menatap wajah imut Aria yang cantik dan menjawab, "maaf, Aria, aku tidak tahu soal itu, namun hal yang seperti itu biarlah menjadi misteri alam."
Iris datang dengan sebuah nampan berisikan beberapa cangkir yang terisi air sirup segar berwarna hijau, meletakkan nampannya di atas karpet depan Altezza, dan kemudian memberikan cangkir tersebut kepada Altezza. Beberapa saat setelah Iris yang datang, wanita paruh baya atau ibu dari Iris dan Aria juga ikut datang dengan membawa nampan berisikan dua piring yang memuat biskuit-biskuit manis.
"Maaf kalau kedatangan saya membuat merepotkan," ucap Altezza, terlihat tidak enak hati.
Wanita paruh baya itu tertawa kecil setelah meletakkan piring penuh biskuit itu di depan Altezza, dan berkata, "semenjak musim dingin, kami sudah lama tidak menyambut pengembara sepertimu, Nak Altezza."
"Ibu senang kedatangan pengembara lagi di desa ini," timpal Aria, terlihat riang sekali.
"Oh, apakah sebelum memang desa ini sering didatangi oleh pengembara?" tanya Altezza.
Iris beranjak duduk tepat di sebelah Aria dan kemudian berbicara, "iya, kami menerima banyak sekali pengembara yang datang sebelum musim dingin kemarin, bahkan beberapa penginapan yang kami sediakan sempat penuh," menjawab pertanyaan tersebut.
"Aria, panggil Papa ke ladang, ya?" ujar wanita paruh baya itu kepada putrinya yang paling kecil.
__ADS_1
"Baik!!!" sahut Aria berseru, dan kemudian beranjak pergi keluar dari rumah tersebut.