Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Seorang Bocah #92


__ADS_3

Derap langkah kaki cepat terdengar, dan terlihat seorang bocah laki-laki berpakaian layaknya anak desa berlari seorang diri di tengah lebatnya vegetasi hutan dengan penuh ketakutan. Belum diketahui apa yang sebenarnya berusaha dihindari oleh bocah laki-laki itu, namun ia tampak sedang berlari dari sesuatu yang mengejarnya. Napasnya tersengal-sengal, tetapi itu tidak membuatnya menghentikan kedua langkah kakinya, terus berlari melewati pohon-pohon besar di dalam hutan tersebut.


Namun sayangnya, langkah dari bocah laki-laki itu harus terpaksa terhenti karena sebuah akar besar yang melintang di depannya, dan ia tidak memperhatikan akar tersebut sehingga membuatnya tersandung lalu jatuh tersungkur ke tanah. Suara jatuhnya sangat keras sekali, bahkan badannya sempat membentur salah satu pohon dengan cukup keras. Saking kerasnya suara jatuh dari bocah laki-laki itu, membuat seorang pemgembara yang kebetulan mendengarnya pun mendatangi sumber suara. Pengembara tersebut adalah Altezza.


Dari balik semak-semak, Altezza melihat bocah laki-laki yang tampak terduduk di atas tanah dalam keadaan memegangi lututnya yang berdarah. Dirinya pun segera menghampiri bocah laki-laki itu, dan memastikan kondisinya dari dekat.


"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Altezza, kemudian memeriksa luka pada lutut milik bocah laki-laki berambut pirang dan memiliki kedua bola mata indah berwarna biru.


"Jangan dekati aku, pengembara, atau kau juga akan mendapatkan masalah ...!" sahut bocah laki-laki itu, yang tentunya jawaban darinya membuat Altezza kebingungan dengan apa maksudnya.


Tetapi rasa bingung yang dialami oleh Altezza seketika langsung mendapatkan jawaban ketika sekelompok bandit muncul dari balik pepohonan dan mengepung dirinya beserta bocah laki-laki yang masih terduduk dalam keadaan terluka. Spontan Altezza menarik pedang miliknya yang sudah lama tersarungkan dengan rapi, bergelantung di pinggangnya.


"Serahkan bocah itu pada kami!" ucap tegas salah satu dari mereka, seorang pria. Identitas mereka tertutup oleh pakaian seperti ninja yang menutup sekujur tubuh, serta masker di wajah, hanya memperlihatkan kedua mata mereka saja.

__ADS_1


"Lebih baik jauhi dia, atau kau juga akan bermasalah dengan kami, wahai pengembara ...!" timpal pria lain yang berdiri tepat di sebelah pria pertama, namun dengan salah satu tangan membawa sebuah belati tajam.


Altezza berdiri di depan bocah laki-laki itu, dan sempat melirik bocah yang tampak masih meringis kesakitan, bahkan tampak ingin menangis terlihat dari kedua matanya yang berkaca-kaca. Jelas, kedua mata milik Altezza pun bisa melihat bahwa orang-orang yang ada di sekelilingnya bukanlah orang baik. Mana ada orang baik yang berpakaian mencurigakan seperti mereka, menutup-nutupi identitas, dan mereka tampak membawa senjata tajam, serta mengejar-ngejar bocah laki-laki tersebut.


"Apa artinya seorang pengembara tanpa masalah yang ditemui di tengah perjalanannya, bukan?" sahut Altezza, tampak santai dan justru tersenyum. Laki-laki berpakaian abu-abu dan berjubah hitam itu tampak menyarungkan kembali pedangnya, dan menatap orang-orang yang ada di sekelilingnya dengan mata sihir miliknya.


Para bandit itu terlihat normal, manusia biasa, tanpa memiliki atau menyimpan kekuatan sihir, itulah yang sempat dilihat sebentar oleh kedua mata sihir milik Altezza. Mereka hanyalah bandit-bandit biasa yang hanya memanfaatkan senjata tajam serta keahlian fisik lainnya.


"Apa yang kau katakan ...?!" tanya bocah laki-laki yang tampak masih terduduk di bekakang Altezza dengan intonasi sedikit merintih menahan sakit.


"Habisi laki-laki itu, dan kita bawa bocah yang ada di belakangnya ...!" titah pria pertama dengan lantang.


Di waktu yang bersamaan setelah titah tersebut diutarakan. Sekelompok bandit berjumlah sekitar enam orang itu langsung melemparkan senjata-senjata tajam berukuran kecil yang mereka bawa ke arah Altezza dan bocah laki-laki itu. Altezza tidak begitu mengerti serta mengetahui benda-benda apa yang mereka lemparkan, namun itu semua melesat dengan sangat cepat ke arahnya, dan dapat dipastikan akan melukai dirinya dengan sangat mudah jika dirinya hanya diam.

__ADS_1


Hembusan angin perlahan semakin kencang, terpusat dan menciptakan sebuah pelindung dengan sangat cepat di sekeliling Altezza dan bocah laki-laki yang masih terduduk di belakangnya. Angin yang tercipta bertiup dengan sangat kencang, dan dengan mudah memantulkan semua benda-benda kecil yang melayang ke arah mereka berdua. Tidak berhenti sampai di situ saja, Altezza mengangkat satu tangannya dan menciptakan sebuah pusaran angin kecil di atas telapak tangannya, sebelum kemudian mengulurkannya ke depan dan menyatukannya dengan pelindung angin yang ia ciptakan.


Sebuah serangan angin yang cukup dahsyat tercipta, menghempas bandit-bandit itu dengan mudahnya, dan membuat mereka terbentur setiap vegetasi yang ada di hutan tersebut. Hanya dengan satu serangan, mereka dibuat kocar-kacir. Para bandit itu kemudian memilih untuk melarikan diri, meski ada beberapa dari mereka yang berjalan terpincang-pincang setelah serangan yang dilancarkan oleh Altezza.


Altezza tidak ingin mengejar dan menangkap mereka, terlebih ketika ia ingat mereka hanyalah manusia normal yang tidak dapat mengendalikan sihir. Dirinya memilih untuk menetralkan segera sihir yang ia gunakan, sebelum kemudian menolong bocah laki-laki yang baru saja ia selamatkan.


Ketika Altezza berbalik badan, bocah laki-laki itu tampak terbelalak menatap dirinya dengan penuh kekaguman, dan terdiam. Mulut dari bocah itu juga tampak sedikit menganga, setelah menyaksikan sesuatu yang hebat di depan matanya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Altezza sembari melambaikan satu tangannya di depan bocah itu.


Bocah itu tersenyum lebar, "kau sungguh heba--"


"Ad-duh ...!! Duh ...!"

__ADS_1


Hendak meloncat kegirangan, bocah laki-laki itu justru kembali terduduk di atas tanah dengan kondisi meringis kesakitan, memegangi lututnya yang masih berdarah. Ia hampir saja lupa bahwa dirinya sedang terluka. Altezza menghela napas dan tampak tersenyum kecil, meletakkan tas ransel yang ia bawa, dan mengeluarkan beberapa obat luka dari dalam sana.


__ADS_2