Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Jauh-jauh Dari Langit Hitam #158


__ADS_3

50.000 prajurit berjalan secara serempak dan beriringan, menimbulkan suara gemuruh tanah yang terdengar mengerikan, melewati beberapa perbukitan di wilayah bagian Selatan dari Negeri Zephyra. Astaroth terus memimpin pergerakan pasukannya dari atas--terbang dan melayang guna memantau dengan mudah pasukan sebanyak itu. Jumlah yang sangat fantastis, dan tidak jarang setiap pergerakan mereka pasti merusak alam di sekitar. Hutan-hutan yang dilewati akan tumbang, rerumputan yang diinjak seketika mati, dan bukit-bukit yang mereka lewati bahkan ada yang sampai longsor.


Dalam pergerakan pasukan sebanyak itu, mereka kerap kali mendapatkan serangan-serangan dari langit berupa petir. Awan gelap nan pekat terus saja menaungi Astaroth dan pasukannya, dan tak jarang petir-petir biru diturunkan bahkan hingga mengenai beberapa prajurit dari pasukannya. Akan tetapi tetap saja itu tak memperlambat pergerakan mereka, dan jumlah mereka masih saja banyak.


"Kita telah tiba di Wilayah Zephyria, Yang Mulia. Wilayah yang penuh dengan pegunungan, lembah, danau, dan bukit-bukit subur." Baltazhar berbicara di samping Astaroth, menjelaskan mengenai wilayah yang baru saja diinjak oleh pasukannya.


"Apa yang kau katakan, Baltazhar?" sahut Astaroth, terheran-heran dengan apa yang ia dengar, "lihatlah ke bawah, sejauh mata memandang tidak ada pemandangan seperti yang kau deskripsikan," lanjutnya.


Pemandangan jauh di depan hanyalah hamparan luas berwarna hijau, dan bukit-bukit kecil. Tidak ada pegunungan, lembah, dan danau seperti yang dikatakan oleh Baltazhar. Sorot mata tajam Baltazhar memandang ke bawah, dan melihat di sekitarnya dengan raut wajah kebingungan.


"Tidak mungkin! Sebelumnya saya melihat gunung-gunung ada di wilayah ini, Yang Mulia! Saya bersumpah atas apa yang saya katakan!" sahut Baltazhar, kebingungan dan tidak percaya.


Astaroth terkekeh, "kau tidak sedang bercanda, 'kan? Kita akan terlibat perang besar, Baltazhar. Lebih baik fokuskan dirimu untuk pertempuran selanjutnya," ucapnya kemudian, tidak peduli dengan Baltazhar yang tampak bingung itu.


Wilayah Zephyria yang dilalui oleh Pasukan Kegelapan yang dipimpin oleh Astaroth hanyalah berupa padang rumput serta perbukitan seluas samudra. Tidak ada hutan, tidak ada gunung, dan tidak ada danau. Hanya wilayah yang hampa dengan rerumputan hijau.


Langit gelap masih saja menyelimuti dan mengikuti ke manapun Astaroth dan pasukannya berada. Tidak ada hujan, atau hanya sekadar rintiknya. Hanya saja petir terus menyambar tampak henti, dan berkali-kali menyerang beberapa bagian dari barisan pasukannya di bawah. Namun petir-petir itu tidak terlalu kuat untuk bisa membubarkan atau melumpuhkan prajurit-prajurit panji hitam yang berjalan di bawahnya.

__ADS_1


Tanpa disadari oleh Astaroth, ia telah memimpin pergerakan dari pasukannya untuk sedikit memutari Wilayah Zephyria. Sihir gaib berhasil, dan tidak ada satupun dari Pasukan Kegelapan yang sadar kalau kesadaran serta pandangan mereka telah dipermainkan oleh kubah gaib tersebut.


***


Sore hari yang tampaknya tidak terlalu cerah, terlebih ketika Aurora menatap ke langit sebelah Barat Laut dari posisinya saat ini. Langit di sebelah sana terlihat sangat gelap dan pekat, disertai oleh beberapa kali kilatan petir berwarna biru. Gadis berambut putih itu terus melanjutkan langkahnya, bersama dengan Ruru yang tampak asyik memanjat serta melompat dari satu dahan ke dahan pohon yang lain, sangat lincah dan gesit.


"Ruru, ke mana tujuan kita?" tanya Aurora memandang ke atas dahan pohon sembari berjalan, melihat seekor tupai berbulu putih menggemaskan yang tampak asyik terus melompat dari pohon satu ke pohon yang lain.


"Tujuan utama kita adalah terus menuju Utara atau tepatnya ke Ibu Kota Kerajaan Zephyra, kota itu adalah sumber dari segala yang ada di Negeri Zephyra dan siapa tahu kita bisa menemukan petunjuk tentang siapa Permata Alam yang kita cari di sana." Ruru menjawab pertanyaan tersebut dengan lantang--meski tetap saja suaranya terdengar kecil, cempreng, namun menggemaskan.


"Apakah kamu yakin? Bukankah itu perjalanan yang cukup jauh, apalagi aku tanpa persiapan dan tidak membawa perbekalan apapun." Aurora tampak menyimpan keraguan mengenai perbekalan, karena memang dirinya tak membawa bekal apapun dari negeri asalnya selain nyali dan keberanian.


"Kontrak kita sampai semua urusan mu selesai dan dunia kembali seperti semula," lanjut Ruru, sempat menoleh ke bawah untuk bisa memandang sosok cantik berambut putih itu.


Langkah demi langkah terus dilakukan, dan Aurora kini berada di sebuah tempat yang memiliki pemandangan alam yang sungguh indah. Keluar dari hutan tersebut, ia bersama Ruru yang kini sudah berada di atas pundak kanannya berada di antara hamparan rumput yang sangat amat luas. Jauh di sebelah kanan terlihat ada hutan-hutan lebat, begitu pula di sebelah kiri. Sedangkan jauh di depan terlihat banyak sekali gunung-gunung yang tinggi menjulang.


Meski langit sore ini tidak terlalu cerah, cenderung memperlihatkan gumpalan awan berwarna abu-abu gelap. Namun tak mengurangi nilai keindahan dari pemandangan luas di negeri yang indah dan subur itu. Kedua iris mata indah berwarna biru muda milik Aurora tampak berbinar-binar, tersihir sekejap oleh pemandangan di hadapannya.

__ADS_1


"Aku sudah sangat lama sekali tidak keluar dari tempat beku itu, ternyata Negeri Zephyra tidak terlalu banyak berubah dari dahulu, tetap saja indah tanpa mengurangi nilai keasriannya!" ujar Aurora, tersenyum senang dan terlihat bahagia.


"Cukup terpukau-nya, jangan sampai melupakan tujuan utama kita!" cetus Ruru dengan sikap serta intonasi yang tampak bersemangat.


"Baik!" sahut Aurora, menatap tajam ke arah Utara sembari berkata, "kita pergi ke arah sana, 'kan!?" ujarnya berseru, kembali melangkah dan semakin mempercepat langkahnya menuju Utara, melewati tengah-tengah padang rumput yang sangat amat luas itu.


Hembusan angin dapat terasa sejuk dan lembut, tidak terlalu kencang namun juga tak terlalu pelan. Rambut berwarna putih milik Aurora terurai, dan tertiup angin ke belakang. Wajahnya yang tampak bersemangat tak pernah padam. Tidak peduli lagi dengan penampilan baju atau dress putihnya yang sudah kotor di banyak bagian. Ia terus melangkah, maju ke depan.


"Apakah tidak ada sihir yang bisa membuatku cepat berjalan?" tanya Aurora tiba-tiba terlintas ide yang menurutnya konyol itu, bahkan sesaat setelah bertanya ia justru tertawa geli oleh pertanyaannya sendiri.


"Ada saja, Aurora!" sahut Ruru, "tetapi tidak bisa dipakai sembarangan, nanti entitasku bisa menghilang dari dunia ini karena kehabisan energi sihir," lanjutnya.


"Oh, kalau begitu jangan!" sahut Aurora, mengurungkan niatnya yang ingin Ruru menggunakan sihir semacam itu, "nanti kalau kamu menghilang aku bersama siapa?" lanjutnya, bersedih, dan tak mau membayangkan hal itu terjadi.


Ruru tertawa dengan suara kecil menggemaskannya, "meski entitasku tidak ada, namun aku akan tetap selalu ada di dalam dirimu, Aurora. Kamu tidak lupa bahwa aku ini adalah bagian dari dirimu, bukan?" ucapnya, menoleh dan menatap paras cantik berukuran besar milik Aurora. Tupai kecil itu sama sekali tidak beranjak dari posisi kesukaannya, yaitu duduk manis di atas pundak kanan milik Aurora.


Tanpa kata-kata, Aurora hanya tersenyum, dan mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh Ruru. Ia kemudian kembali menatap ke arah langit sebelah Barat Laut yang tampak semakin pekat hitam, "kira-kira sedang terjadi apa si sana? Apakah pasukan milik Astaroth sudah sampai sana?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu, tetapi yang jelas sesuatu yang buruk bahkan tidak disukai oleh alam sedang berada di sebelah sana," sahut Ruru, langsung berubah ekspresi dari yang awalnya ceria menjadi sangat serius, bahkan dengan tatapan tajamnya ke arah langit yang sama dengan yang dilihat oleh Aurora, "kita tetap jauh-jauh dari langit itu, Aurora. Lebih baik menyusuri pinggir dari Negeri Zephyra," lanjut Ruru, berbicara.


__ADS_2