Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Keputusanku Memilihmu #23


__ADS_3

Jantung Bianca berdegup kencang, bahkan lebih cepat dari biasanya. Ia diam seribu bahasa, tak menyangka mendapat tawaran dari seorang pangeran yang digemari rakyatnya. Perlahan, wajahnya yang cantik berubah merona.


Altezza, melihat perubahan di wajah Bianca, mengerutkan kening dan langsung bertanya, "Wajahmu merah, apakah kau sakit?"


Bianca terpecah dari lamunannya dan menjawab, "Eh?! Tidak, Yang Mulia! Saya tidak sedang sakit."


"Benarkah? Maaf, jika aku telah menyita waktumu untuk beristirahat," ujarnya.


"Tidak, Yang Mulia. Saya sangat senang bisa menghabiskan waktu dengan Anda," balas Bianca lantang dan lugas.


Altezza tersenyum senang dan mengajak Bianca untuk melanjutkan perjalanan bersama. Bianca kemudian mengajukan pertanyaan, "Tentang tawaran Anda, Yang Mulia…, saya bingung untuk menjawabnya," ia berbicara dengan intonasi rendah dan wajahnya terlihat sedikit menunduk.


Mencoba memahami perasaan Bianca, Altezza menjawab, "Saya memilihmu bukan karena tidak ada perempuan lain yang mau jadi pasanganku di pesta itu. Aku memilihmu karena ingin mengenalmu lebih dekat, Bianca."


Bianca mengangguk mengerti, lalu Altezza melanjutkan, "Kau tak perlu terburu-buru memberikan jawaban, ambillah waktu yang cukup. Kau bisa memberikan jawaban pada saat yang tepat."


Mendengar ucapan Altezza, Bianca merasa lega. Keduanya melanjutkan perjalanan sambil berbincang-bincang, saling mengenal satu sama lain.


Sebagai seorang penulis profesional yang mahir dalam bahasa Indonesia, saya akan mengedit teks di atas.

__ADS_1


Altezza tidak kaget dengan pertanyaan serta keraguan yang dimiliki oleh Bianca. Sebaliknya, dirinya merasa wajar jika perempuan itu bertanya demikian. Dirinya pun menjawab dan memberikan sedikit kejelasan mengenai alasannya memilih Bianca sebagai pasangannya untuk pesta tersebut.


"Apa yang kamu katakan memang benar, namun keputusan tetap berada pada diriku," ujar Altezza sembari terus berjalan. "Dan aku telah mengambil keputusan itu, yaitu mengajakmu datang ke pesta di istana bersamaku," lanjutnya.


Bianca masih terdiam, terpaku, antara tidak menyangka dengan apa yang baru saja ia dengar serta alami, dan tidak tahu harus berkata-kata apa. Tentu tawaran serta ajakan tersebut adalah kesempatan yang sangat berharga, dan mungkin juga diidamkan oleh kebanyakan gadis di kerajaan ini. Kesempatan tersebut malah justru menimpa Bianca yang dipilih langsung oleh sang pangeran.


"Jujur saja, saya bingung, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud menolak, namun saya juga berpikir siapa saya untuk bersanding dengan Anda pada pesta tersebut?" ucap Bianca, terlihat memandang sedikit ke bawah, menyimpan rasa tidak percaya diri. "Apalagi sudah dipastikan acara yang ada di istana akan dihadiri oleh para bangsawan, dan saya merasa itu bukanlah tempat yang cocok untuk saya," lanjutnya.


Altezza hanya diam mendengar apa yang dikatakan oleh gadis berambut cokelat kemerahan itu, karena memang apa yang dikatakan olehnya benar. Namun, selain Bianca, laki-laki itu tidak memiliki pilihan lain.


Keheningan sempat tercipta di antara langkah kaki mereka. Angin malam berhembus dengan sangat tenang dan terasa lembut, dingin tetapi tidak terlalu dingin. Tidak ada suara apapun sampai pada akhirnya Bianca berkata, "Mungkin ... saya bisa memberikan jawabannya besok, jika Anda berkenan menunggu, Yang Mulia," ucapnya sambil menoleh dan kemudian tersenyum manis.


Bianca tersenyum lembut dan mengangguk, menjawab, "Ya, saya akan mengirimkan surat ke istana jika saya sedang sibuk dalam pekerjaan, tetapi jika saya senggang, saya akan datang ke istana."


"Namun, jangan menjadikan diri saya sebagai batasan Anda dalam mencari wanita lain untuk pesta tersebut...! Saya sarankan Anda untuk tetap mencari wanita lain yang cocok dengan Anda. Jangan terlalu menunggu dan berharap jawaban dari saya, saya tidak ingin Anda kecewa jika jawaban saya tidak sesuai dengan ekspektasi Anda." Bianca melanjutkan pembicaraan dengan intonasi dan sikap bicara yang sangat lembut, memberi peringatan kepada Altezza untuk tidak terlalu berharap.


Altezza mengangguk mengerti atas apa yang dikatakan oleh Bianca. Ia menoleh dan menatap Bianca, lalu tersenyum tipis dan berkata, "Baik, tetapi... saya memutuskan untuk tetap menunggu jawabanmu. Jika jawabanmu tidak sesuai dengan ekspektasi saya, maka... saya akan menganggapnya bahwa ini bukan takdir kita untuk bersama di pesta itu." Bianca hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan Altezza tentang tetap menunggu jawabannya.


Mereka berdua terus berjalan di taman tersebut, hingga pada akhirnya Altezza memutuskan untuk mengantar Bianca kembali ke asramanya. Bianca sempat menolak untuk diantar, karena tentunya hal itu akan merepotkan. Namun, Altezza tidak mengubah keputusannya.

__ADS_1


"Di mana tempat tinggalmu?" tanya Altezza, sambil berjalan melalui jalan utama yang sudah tidak terlalu ramai karena langit sudah gelap.


"Jauh, Yang Mulia. Saya tinggal di asrama perempuan yang terletak di ujung kota," jawab Bianca, sedikit tertunduk, merasa tidak enak hati karena merepotkan seorang pangeran dengan mengantarkan dirinya.


"Asrama?" gumam Altezza, terlihat menyimpan banyak pertanyaan dalam pikirannya.


Bianca mengangguk sambil tersenyum tipis, pandangannya terus melihat langkah kakinya. Dia lalu kembali berbicara, "Ini adalah tempat tinggal saya setelah ibu saya meninggal."


Mendengar hal itu, Altezza tidak bertanya-tanya lebih banyak, "Maaf," katanya.


Bianca tertawa kecil dan tersenyum riang, "Tidak apa-apa, itu juga sudah lama."


Kaki mereka menuju pasar malam yang diadakan di salah satu distrik perbelanjaan. Pasar malam tersebut tidak diadakan setiap hari dan kebetulan malam itu adalah saat penyelenggaraan pasar malam itu. Terlihat ramai dengan para pedagang dan pengunjung.


"Bagaimana kalau kita singgah sebentar ke sana?" ucap Altezza, menunjuk ke arah pasar malam yang ramai itu.


"Tidak perlu, Yang Mulia. Saya tidak ingin merepotkan Anda," jawab Bianca, merasa tidak enak hati.


Namun, tidak mendengar ucapan Bianca, Altezza berjalan lebih cepat darinya sambil berkata, "Itu tidak apa-apa. Aku ingin mengajakmu ke sana, jadi aku tidak keberatan."

__ADS_1


"B-baiklah," Bianca mengikuti langkah Pangeran Altezza. Mereka berdua singgah di pasar malam yang hanya diadakan satu bulan sekali itu. Pasar malam itu cukup ramai dengan banyak pedagang yang menawarkan barang dagangan mereka. Ada banyak baju dan pakaian yang dijual serta beragam jenis kuliner yang berkualitas.


__ADS_2