Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Kuil Berdoa #149


__ADS_3

Hujan perlahan mereda, menyisakan ribuan rintik rinai kecil yang tetap masih membasahi apapun yang ada di permukaan tanah. Astaroth perlahan turun, dan menginjakkan kedua kakinya untuk pertama kalinya di atas Tanah Mutiara. Wilayah yang awalnya terdiri dari perbukitan serta hamparan hijau yang luas, kini merata dengan tanah dan terlihat sebuah cekungan besar di sebelah Utara dari pagar perbatasan. Pemandangan hijau juga tak lagi terlihat, semua tumbuhan mati, dan jasad para prajurit aliansi manusia banyak bergelimpangan di sana.


Astaroth dengan tenang dan dingin, berjalan di antara ratusan bahkan ribuan jasad korban perang itu--karena tak hanya dari pasukan manusia, namun dari pasukannya juga tak dapat dipungkiri jatuh korban yang cukup banyak. Genangan-genangan air berwarna merah, darah, banyak sekali dan hampir mewarnai wilayah tersebut secara keseluruhan.


Baltazhar tiba-tiba muncul, berasal dari gumpalan asap serta abu berwarna hitam yang terbang dan kemudian berdiri tepat di sebelah Astaroth. Wujud yang cukup berbeda dari sebelumnya, ia masih mengenakan jubah yang sama namun dengan warna yang sedikit berbeda. Jubah berwarna hitam yang dikenakan oleh Baltazhar menutupi seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki itu memiliki garis berwarna jingga menyala di setiap tepi kainnya, dan warna dari garis tersebut sangat mirip seperti warna api yang tengah membara.


"Bagaimana rasanya menggunakan kekuatan yang sudah lama tidak kau gunakan? Menyenangkan, bukan?" tanya Astaroth, masih berjalan dan kemudian berdiri tepat di salah satu tepi cekungan yang dihasilkan dari ledakan besar saat pertempuran berlangsung.


Baltazhar tertawa kecil dengan intonasi bicara yang terdengar sedikit serak-serak basah sebelum kemudian berkata, "sangat menyenangkan, Yang Mulia. Sudah lama sekali saya ingin melepaskannya, rasanya lega!" disusul dengan tawa yang dipenuhi keangkuhan.


Kedua iris mata Astaroth yang sebelumnya berwarna merah menyala, secara perlahan berubah menjadi dingin kembali alias biru muda layaknya air yang membeku. Pandangan Astaroth tertuju ke arah langit Utara yang masih tampak sangat cerah di siang menjelang sore ini, berbeda dengan langit yang saat ini berada tepat di atasnya. Meski hujan yang turun terasa tidak terlalu lebat seperti sebelumnya, namun petir tetap saja mengamuk di atas sana, seolah sangat membenci apa yang sedang berada di bawahnya.


"Kau masih sanggup, Baltazhar?" tanya Astaroth dengan intonasi rendah dan sikap yang dingin, memandang dengan tatapan datar dan tajam ke arah Utara.


"Tentu saja, Yang Mulia. Saya selalu dan siap menantikan apapun perintah anda selanjutnya," Baltazhar menjawab pertanyaan tersebut dengan penuh hormat, ia membungkukkan badannya kepada Astaroth.


"Beritahu Asmodeus soal proses kita hingga titik ini, sebelum aku memberikanmu tugas selanjutnya," ucap Astaroth, menoleh dan menatap serius serta terkesan dingin kepada sosok berjubah hitam yang berdiri tepat di sebelahnya.

__ADS_1


"Baik, akan saya sampaikan." Baltazhar melaksanakan perintah pertama tersebut sebagai penghantar pesan. Sebuah portal dengan aura pekat berwarna hitam tiba-tiba saja muncul tepat di belakang sosok berjubah hitam itu. Tubuh Baltazhar seketika berubah kembali menjadi gumpalan bayangan serta abu berwarna hitam, sebelum akhirnya entitas gelap tersebut masuk dan tertelan oleh portal tersebut, menghilang hanya dalam sekejap mata.


Kedua iris mata berwarna biru itu perlahan menoleh ke belakang, menyaksikan prajurit-prajuritnya yang tampak bersorak-sorai merayakan kemenangan pertama mereka. Para iblis bersayap, prajurit-prajurit manusia dari Kerajaan Mystick, dan makhluk-makhluk besar nan menjijikkan dengan bentuk yang tak lazim, mereka semua tampak sedang berpesta di bawah rinai yang belum sepenuhnya reda.


Tak tertarik dengan perayaan tersebut, Astaroth justru melangkah pergi dari sana, sebelum akhirnya sosok atau wujudnya sebagai seorang laki-laki tampan berambut hitam menghilang dalam sekejap, berubah menjadi kumpulan gagak di antara asap hitam yang kemudian terbang ke segala penjuru arah. Laki-laki tersebut benar-benar tak terlihat lagi, menghilang sama seperti yang dilakukan Baltazhar, akan tetapi dengan cara yang berbeda.


***


Sore hari yang terlihat cukup berawan. Raja Aiden bersama kesatrianya yang sangat setia selalu berada di dekatnya, dan menuntunnya berjalan. Mereka berdua sampai di sebuah bukit yang terletak di sebelah Timur dari Wilayah Zephyria. Wilayah Zephyria adalah wilayah yang sangat luas, terdiri dari pegunungan dan lembah-lembah. Terdapat salah satu lembah yang dihuni atau menjadi tempat tinggal dari rakyatnya, yaitu di Lembah Anai. Letak dari Lembah Anai tak terlalu jauh dari bukit yang saat ini dipijak oleh sang raja.


"Apa yang hendak anda lakukan, Yang Mulia?" tanya Kenan tampak penasaran.


Raja Aiden memandang ke arah Barat, memandangi pemandangan indah Wilayah Zephyria, terlebih di antara gunung-gunung tersebut terdapat sebuah danau yang tampak sangat indah. Di sana juga menjadi tempat tinggal dari kebanyakan rakyatnya, termasuk rakyat atau penduduk yang sempat diungsikan dari Wilayah Mutiara ke Lembah Anai di Wilayah Zephyria.


"Aku ingin berdoa, Kenan. Memohon sesuatu agar tempat ini terlindungi," ujar Raja Aiden, kemudian tersenyum kecil setelah memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.


Perlahan meski dengan langkah tertatih dan terpincang, Raja Aiden melangkah sendiri tanpa tuntunan dari Kenan, berdiri di depan kuil batu tersebut dan kemudian menyalakan lilin-lilin yang ada di sana dengan sihir api yang muncul dari telunjuknya.

__ADS_1


Kenan hanya berdiri tegap di belakang Raja Aiden, menyaksikan sang raja yang tampak berdiri dengan kepala tertunduk, berdoa. Ketika ritual atau kegiatan berdoa tersebut berlangsung dengan sangat khusyuk, hembusan angin perlahan terasa lembut dan kencang hingga membuat jubah putih bernoda yang dikenakan sang raja berkibar.


Suasana terasa berubah dengan cukup drastis, langit yang awalnya berawan tampak membelah dan memancarkan sinar matahari melalui sela-sela awan berwarna abu-abu. Kenan berhasil dibuat takjub sekaligus terkagum dengan alam yang seolah merespons sang raja yang masih khusyuk dalam doa.


"Hebat ...!" gumam Kenan, menyaksikan dengan tatapan kagum beberapa katup bunga yang layu di sekitar kuil perlahan terangkat dan bermekaran.


Selain itu, sebuah kubah angin perlahan tercipta dengan skala yang sangat besar dan luas. Kubah angin tersebut menyelimuti hampir secara keseluruhan Wilayah Zephyria di Barat dari bukit tersebut, sebelum akhirnya kubah tersebut perlahan memudar dan transparan atau menghilang. Semua keajaiban tersebut disaksikan oleh Kenan dengan mata biasa, dan kemungkinan besar juga dapat disaksikan oleh masyarakat yang tinggal di desa-desa yang ada di lereng serta lembah-lembah di Wilayah Zephyria.


"Sudah selesai, Yang Mulia?" tanya Kenan ketika melihat Raja Aiden mengangkat kembali kepalanya, dan perlahan melangkah mundur, berdiri tepat di sebelah Kenan.


Pandangan sang raja tertuju ke arah langit yang kini sudah berubah, yang awalnya berawan kini terlihat sangat cerah--namun hanya di wilayah tersebut saja. Raja Aiden tampak tersenyum kecil dan berucap, "sekarang kita bisa kembali ke ibu kota segera tanpa khawatir wilayah ini akan menjadi sasaran selanjutnya dari pasukan musuh."


"Apa yang telah anda lakukan?" tanya Kenan, menatap sang raja dengan penuh penasaran sembari ia terus menggandeng lengan kanan rajanya untuk bisa berdiri.


"Aku berdoa dan memohon kepada Tuhan, agar alam melindungi dan membuat gaib wilayah yang indah ini dari pandangan Pasukan Kegelapan." Sang raja langsung menjawab pertanyaan dari kesatrianya dengan jawaban yang cukup singkat dan jelas.


Setelah ritual dan kegiatan berdoa tersebut selesai, Kenan segera menuntun Raja Aiden menuruni bukit, dan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke ibu kota meski dengan langkah yang cukup tertatih.

__ADS_1


__ADS_2