
"Bukan hanya Kerajaan Mystick, tetapi Astaroth juga telah bersiap mengancam dunia dengan pasukannya!" ujar Aurora dengan intonasi yang sedikit meninggi, dicampuri rasa kesal, sedih, dan bingung yang saat ini menyelimuti hatinya.
Ratu Eira tampak sangat menyesal, terlihat dari gerak-gerik serta pandangannya yang cenderung menunduk ke bawah, dan senyuman yang perlahan pudar tidak seperti sebelumnya. Perlahan wanita itu menoleh, menatap putri cantiknya dan bertanya, "bagaimana dengan ayahmu? Apakah dia baik-baik saja?"
Aurora menggeleng dan dengan pandangan tertunduk ia menjawab, "tidak, dia sama seperti ibu ketika pertama kali jatuh sakit."
"Apa yang harus ku lakukan? Aku bingung," lanjut Aurora, benar-benar tertunduk dan berbicara dengan intonasi getir ia lanjut berkata, "Astaroth telah merenggut sihir yang ada di dalam diriku."
Menatap putrinya yang tengah menghadapi permasalahan besar, dan permasalahan tersebut juga dapat membawa dunia jatuh ke dalam kehancuran. Ratu Eira tampak prihatin sekaligus merasa sangat bersalah, "akan berbahaya jika sejarah terulang kembali," ucapnya.
"Putriku Aurora, maukah kamu membantu ibu untuk menebus kesalahan ibu?" tanya Ratu Eira kemudian, meraih salah satu pipi milik Aurora meskipun tetap saja dirinya tidak dapat menyentuhnya, dan kemudian menatap dalam-dalam kedua mata indah milik Aurora yang sama seperti dirinya.
"Bagaimana caranya? Aku tidak memiliki kekuatan sihir lagi untuk melawan, aku juga terkurung di dalam istana ku sendiri," sahut Aurora, terlihat pikirannya sedang kacau dan dirinya benar-benar kehabisan akal.
Ratu Eira tersenyum lembut kepada putri kesayangannya, dan perlahan meletakkan telapak tangannya di atas dada milik Aurora sembari berbicara, "kekuatan sejati sebenarnya ada dalam dirimu, Aurora. Ibu percaya kamu adalah gadis pemberani."
"Jika memang tujuan sebenarnya dari Astaroth adalah untuk mengukir sejarah yang pernah terjadi, maka satu-satunya cara untuk mengalahkannya hanyalah dengan Kekuatan Alam sama seperti apa yang terjadi pada Lucifer satu abad yang lalu," lanjut Putri Eira berbicara dengan intonasi lembut dan tenang, perlahan kembali menurunkan tangannya.
Tatapan Aurora terlihat bingung dengan apa yang dikatakan oleh ibundanya, "bagaimana aku bisa mendapat Kekuatan Alam itu?" cetusnya bertanya.
Di antara perbincangan mereka berdua, sebuah cahaya menyilaukan berwarna hijau muda tiba-tiba saja muncul dari depan mereka. Cahaya tersebut semakin terang seiring dengan memudarnya sosok Ratu Eira secara perlahan.
"Apa yang terjadi?!" cetus Aurora tampak terkejut ketika melihat sosok ibunda tercintanya yang perlahan memudar dari hadapannya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini, Aurora. Maaf, aku tidak bisa menjelaskan banyak tentang Kekuatan Alam kepadamu," ucap Ratu Eira, tubuhnya semakin memudar dan transparan.
"Tunggu, beritahu aku sesuatu, ibu!" pinta Aurora, mencoba meraih sosok Ratu Eira di depannya, akan tetapi tangannya justru menembus.
Ratu Eira tampak tersenyum lembut dengan perasaan senang karena bisa bertemu lagi dengan putri kesayangannya. Sebelum dirinya benar-benar menghilang, ia sempat mengatakan, "temui-lah seorang laki-laki pewaris Kekuatan Alam, dia tinggal di salah satu kerajaan besar di Benua Tengah. Hanya laki-laki itu yang bisa mengalahkan Pangeran Kegelapan Astaroth."
***
"Tunggu, jangan pergi!"
DRAAPP ...!!!
Aurora terbangun, dan menyadarinya bahwa dirinya berada di atas sebuah ranjang yang ada di dalam kamar yang tidak terlalu besar dengan dinding dari bebatuan. Ketika pertama kali terbangun, Aurora langsung bisa merasakan oksigen yang ia hirup tidak sesulit sebelumnya ketika berada di dalam ruangan yang sumpek itu.
Kepalanya terasa pusing karena terbangun dan langsung duduk di atas ranjang tanpa selimut itu. Gadis berambut putih bergelombang itu menundukkan kepalanya, dan memeganginya dengan salah satu tangannya.
"Siapa yang membawaku ke sini?" tanya Aurora bingung, mengerutkan dahinya.
Pemandangan seluruh isi ibu kota Kerajaan Mystick dapat terlihat dari atas situ, dan perhatian dari Aurora kemudian tertuju pada ratusan prajurit iblis dengan sosok serta perawakan yang sangat aneh tengah berbaris di jalanan utama ibu kota. Mereka tampak tengah menyelenggarakan sebuah pawai, dan disaksikan oleh rakyat Kerajaan Mystick yang masih para manusia biasa. Mereka para manusia itu tampak bersorak-sorai, gembira dan bangga seolah sedang melihat pawai prajurit kebanggaan kerajaan mereka.
Tatapan Aurora sedih melihat para rakyatnya yang jatuh ke dalam manipulasi pikiran yang diperbuat oleh Astaroth. Dirinya langsung merasa bersalah, sekaligus merasa gagal sebagai seorang putri raja yang tidak dapat menjamin keamanan rakyatnya.
"Apakah kamu akan menyerah, Tuan Putri?"
__ADS_1
"Siapa?!" tegas Aurora, terkejut mendengar suara seorang perempuan yang terdengar seperti suara seekor chipmunk namun berbicara, benar-benar menggemaskan. Suara tersebut tiba-tiba saja terdengar di dalam kamar, dan membuat Aurora langsung melihat ke sekelilingnya, memeriksa.
"Jangan takut, Aurora. Aku tidak bisa membunuhmu, kok!" sahut suara itu, semakin jelas asalnya yakni berasal dari atas sebuah lemari kayu tua yang terletak dekat dengan pintu.
Kedua iris mata biru milik Aurora dibuat bingung--sebenarnya terkejut, akan tetapi lebih dibuat berpikiran ketika melihat seekor tupai kecil dengan bulu berwarna putih yang tampak diam manis di atas lemari. Menyadari bahwa sang putri menatapnya, tupai itu tiba-tiba saja berlari, meloncat ke meja di samping lemari, dan turun ke lantai mendatangi Aurora.
"Ternyata kamu tinggi juga, ya!?"
Terdengar lagi suara tersebut, suara yang sama, dan gerak-gerik si tupai yang tampak berdiri dengan kedua kakinya, mendongak serta menatap sosok Aurora yang berdiri di depannya. Aurora mengerutkan dahinya, perlahan berlutut sembari berbicara, "kamu yang berbicara?"
"Menurutmu siapa lagi?! Hanya kita berdua di kamar ini, loh!" sahut suara tersebut yang rupanya berasal dari si tupai. Tupai kecil itu tampak kesal, menunjukkan gerak-gerik seperti sedang melipat kedua lengannya, dan bibir mungilnya tampak menggerutu dengan sendirinya, "apakah memang aku terlalu kecil, jadi kamu tidak menyadarinya?"
Aurora tertawa kecil dan dibuat tersenyum melihat keajaiban di depan matanya, "tetapi bagaimana bisa? Kamu ini siapa dan berasal dari mana? Apakah kamu yang membawaku ke sini?" tanyanya.
Tupai kecil berbulu putih indah itu menjawab, "sebenarnya rumit untuk dijelaskan, intinya aku adalah bentuk dari pemikiran serta hatimu, Aurora. Wujudku bisa saja berubah sewaktu-waktu tergantung pada dirimu, karena aku adalah bagian dari dirimu, Aurora," menjawab dengan suara imut dan menggemaskan seperti suara gadis kecil.
Aurora menghela napas berat, mengeluh dan berkata, "aku tidak terlalu mengerti."
"Tidak perlu dimengerti, karena kita harus segera pergi dari sini sebelum si pangeran kegelapan mengetahui keberadaan mu!" sahut si tupai kecil itu, berlari dengan langkah kecilnya, dan dengan tiba-tiba menaiki paha milik Aurora, berpindah ke lengan dan berakhir duduk di atas pundak kanan milik Aurora.
"Bagaimana caranya? Aku tidak memiliki sihir lagi," ucap Aurora memandang ke bawah seolah tidak memiliki akal untuk melarikan diri lagi tanpa sihir miliknya yang telah direnggut.
"Sepertinya kau sudah sedikit terpengaruh oleh para iblis itu," keluh si tupai ketika melihat Aurora yang tampak cukup putus asa.
__ADS_1
Tupai itu kemudian berbicara dengan intonasi yakin, "kamu memiliki diriku yang notabenenya dirimu, jika aku berani maka kamu juga harusnya berani! Apakah kamu dapat memahami kosa kata yang rumit keluar dari mulut mungil ini?" berdiri di atas pundak milik gadis itu, dan berlindung di bawah rambut indah milik Aurora.
Aurora kembali dibuat terkekeh kecil dan tersenyum, "baiklah, aku paham, kok!" sahutnya.