Kisah Pengembara Angin

Kisah Pengembara Angin
Pertama Kali Berkuda #64


__ADS_3

Bianca perlahan naik ke kuda putih tersebut, dibantu oleh Altezza, sebelum kemudian laki-laki itu juga ikut menunggangi kudanya. Namun berbeda dari awal berangkat, posisi Bianca kini berada tepat di depan Altezza yang duduk di bonceng. Kaku sekali, Bianca terlihat bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Altezza memastikan terlebih dahulu bahwa kedua telapak kaki milik Bianca sudah masuk serta berada di kedua pedal yang bergelantung dengan pelana tersebut.


"Pegang tali ini dengan kedua tanganmu ...!" pinta Altezza sembari memegang sebuah tali yang berada tepat di depan Bianca.


Cukup terkejut, karena memang Altezza melakukannya dari belakang, dan berhasil membuat Bianca mati kutu. Tidak berkutik bahkan berbicara, hanya diam saja dan tentunya membuat Altezza bingung. Pangeran muda itu kemudian meraih tangan kanan milik Bianca, menggenggamnya, kemudian mendekatkannya dengan tali yang sudah dari awal ia raih.


"Pegang ini erat-erat!" ucap Altezza, sabar memberikan instruksi dari belakang.


"Ba-baik, Yang Mulia!" sahut Bianca, terlihat sangat gugup dengan wajah yang diam-diam sudah merona, meraih dan menggenggam erat tali tersebut. Bagaimana tidak gugup, posisinya saat ini berada di antara kedua lengan milik Altezza, dan punggungnya bisa dengan mudah bersandar pada dada bidang milik pangeran muda itu, sangat-sangat dekat hanya berjarak beberapa inci.


Kuda putih tersebut tiba-tiba saja bergerak-gerak dengan sendirinya, ke kanan, dan ke kiri, membuat Bianca bingung sekaligus terlihat panik hingga menarik-narik tali yang telah ia genggam dengan sangat acak.


"I-ini bagaimana, Yang Mulia?! Bagaimana caranya?!" cetus Bianca, meracau, panik.


Altezza langsung meraih kedua tangan milik Bianca yang menggenggam tali kuda itu, dan kemudian secara perlahan mulai mengajari serta memberikan arahannya, "jangan terlalu acak, itu akan membuatnya pusing mau ke arah mana," ucapnya.


Bianca terdiam, wajahnya benar-benar merona, dan menunduk dengan pandangan melihat kedua tangannya yang saat ini digenggam oleh Altezza--yang pada saat itu juga ia melepaskan sarung tangan hangatnya sehingga membuatnya bersentuhan langsung dengan kulit halus milik Bianca.


"Goyangkan sedikit saja, dia akan mulai berjalan," ucap Altezza, kemudian menggoyangkan tali tersebut hingga membuat kuda putih itu perlahan mulai berjalan.


"Te-tetapi bagaimana kalau dia tiba-tiba berlari?" cetus Bianca, masih tampak gugup.

__ADS_1


Altezza tertawa kecil dan kemudian menjawab, "tenang saja, dia tidak akan melakukan tindakan yang tiba-tiba, asalkan kamu tidak memicunya."


Perlahan-lahan Altezza melepaskan genggamannya dari kedua tangan milik Bianca, membiarkan perempuan itu mengendalikan kuda miliknya secara penuh. Sungguh tenang sekali sikap dari laki-laki itu, berbeda dengan Bianca yang terlihat sangat tegang ketika Altezza melepaskan genggaman tersebut.


Kuda tersebut perlahan berjalan melalui jalanan di tengah hutan tersebut, dengan pemandangan semuanya terselimuti putihnya salju. Bianca tampak sangat tegang dan serius, bahkan jarang berbicara ketika mengendalikan jalannya kuda tersebut, apalagi ia akan melewati banyak sekali pepohonan serta semak belukar.


"Cara berbeloknya bagaimana?" tanya Bianca dengan polosnya.


"Tarik salah satu dari keduanya, jika ingin ke kanan tarik yang kanan, begitu pula sebaliknya," jawab Altezza, tenang.


Altezza diam-diam tersenyum dari belakang, menyaksikan bagaimana serius dan tegangnya gadis itu mengendarai kuda tersebut. Rambut berwarna cokelat muda milik Bianca dibiarkan tergerai hingga punggungnya, dan itu cukup membuat Altezza terpana melihat bagaimana indahnya rambut milik perempuan itu, apalagi dengan jarak yang sangat dekat.


Bianca menghela napas lega, "untung saja, maaf, Yang Mulia."


Altezza tertawa setelah melihat reaksi panik Bianca, "usahakan jangan panik, dia akan bingung jika kusirnya panik."


Tidak lama kemudian, kuda putih itu perlahan keluar dari hutan, dan membawa mereka berdua menuju ke hamparan salju yang amat luas. Ketika di tempat yang sangat luas, Altezza berbicara, "ini saatnya membawanya lari!"


"Lari--?!"


"Woaa!!"

__ADS_1


Belum ada sedetik setelah Bianca bertanya, bingung dengan apa maksud dari Altezza. Tiba-tiba saja kuda tersebut berlari kencang dan terlihat sangat senang ketika menemukan hamparan atau tempat yang sangat luas, bebas. Tentu hal tersebut sangat mengejutkan Bianca dan terlihat panik, bingung bagaimana harus mengendalikan kuda yang sedang berlari dengan sangat kencang itu.


Altezza tersenyum, dan perlahan menggenggam kedua tangan milik Bianca yang sangat kaku menggenggam tali tersebut, serta kemudian mengarahkannya secara perlahan, "kendalikan dengan santai, dan rasakan setiap langkah dari kudanya ...!" ucapnya.


Tanpa berbicara, Bianca perlahan terlihat tenang, dan mengendalikan kuda tersebut agar terus berlari di jalur yang benar. Merasa bahwa perempuan itu perlahan mulai tenang serta serius, Altezza kembali melepaskan genggamannya, dan membiarkannya memegang penuh kendali.


Ekspresi yang awalnya sungguh kaku, tegang, dan panik, secara perlahan berubah menjadi sangat periang. Bianca tersenyum lebar, merasa sangat senang ketika bisa mengendalikan kuda tersebut, apalagi dalam posisi sedang berlari bebas di hamparan salju yang sangat amat luas.


"Bagaimana? Menyenangkan, bukan?" tanya Altezza, turut tersenyum senang ketika melihat Bianca juga senang serta sangat menikmati momen tersebut.


Bianca mengangguk antusias, masih dengan ekspresi riangnya menjawab, "iya, Yang Mulia! Saya benar-benar belum pernah merasa sebahagia serta sebebas ini!" dengan intonasi yang cukup tinggi serta bersemangat.


Berkuda di antara hamparan salju yang sangat luas, tentu kebebasan begitu terasa, dan hal tersebut tidak hanya dirasakan oleh Altezza ketika ia berkuda seperti biasa, namun tampaknya juga dirasakan oleh Bianca--apalagi pada pengalaman pertamanya dirinya sendiri yang mengendalikan jalannya kuda tersebut. Tawa kegembiraan beberapa kali terdengar dari Bianca, dan tentu hal tersebut membuat Altezza juga ikut tertawa bahkan senyumannya terlihat sulit untuk sirna.


Setelah melalui hamparan salju yang sangat amat luas itu. Kuda putih yang ditunggangi oleh mereka berdua perlahan mendekati gerbang utama benteng ibu kota kerajaan yang sudah bisa dilihat dari kejauhan. Ketika melihat gerbang tersebut, Bianca seketika terlintas pertanyaan, "Yang Mulia, ini ... ini bagaimana cara mengurangi kecepatannya?!" cetusnya, sempat menoleh ke belakang dan melirik kepada Altezza.


Kuda tersebut berlari sangat kencang, bahkan hanya dalam beberapa detik saja gerbang kerajaan yang tadinya terlihat kecil perlahan membesar karena sudah dekat. Ekspresi gembira Bianca secara langsung berubah menjadi bingung dan panik, karena dirinya tidak tahu bagaimana cara mengurangi kecepatan atau bahkan membuat kuda tersebut berhenti.


Bukannya langsung membantu, reaksi pertama Altezza ketika mendengar serta melihat kepanikan dan kebingungan Bianca adalah tertawa. Ekspresi Bianca ketika sedang panik bercampur bingung itu terlihat lucu di kedua matanya, yang membuat dirinya sulit untuk menahan tawa. Namun tidak berlangsung lama, apalagi Bianca sudah mulai ketakutan akan menabrak gerbang atau dinding benteng ibu kota yang amat besar dan tebal, pasti menyakitkan.


Dari belakang Bianca, Altezza perlahan meraih tali tersebut, dan kemudian mengambil kendali sekaligus memberitahu cara membuat kuda putih itu memelan. Bianca kembali terlihat gugup dengan wajah yang sedikit merona karena berada di antara kedua lengan milik pangeran muda itu, ditambah Altezza terlihat sangat sabar dan telaten ketika mengajari dirinya untuk berkuda.

__ADS_1


__ADS_2